Senin, 15 Desember 2008

SBY Berjudi dengan Harga BBM

Belum genap seminggu tulisan saya di citizen journalism www.inilah.com (BBM dan Langkah Politis SBY), namun prediksi bakal menurunnya harga BBM dini hari tadi malah sudah direalisasikan. Bahkan yang lebih menarik, selama ini pengumuman harga BBM selalu diumumkan oleh Menkeu di Departemen Keuangan, kali ini SBY-JK yang langsung turun tangan .

Tentu, penurunan harga BBM itu pasti disambut gembira oleh warga. Apalagi alasan penurunan harga versi pemerintah yakni untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan menggerakkan sektor riil, serta menjaga kondisi psikologis masyarakat.
Meski mendapat sambutan gembira, namun langkah SBY-JK ini belum tentu dapat menarik simpati masyarakat (khususnya) untuk Partai Demokrat dan SBY di ajang pilpres karena nuansa politisme sangat kental. Bisa jadi langkah ini menjadi ‘senjata makan tuan’ bagi SBY

Masyarakat pasti setuju jika harga BBM turun, namun jika penurunannya tidak dibarengi oleh kalkulasi yang matang justru akan merugikan SBY sendiri. Sebagaimana yang pernah disarankan oleh Tifatul Sembiring agar pemerintah tidak terlalu terburu-buru dalam menurunkan harga BBM bila situasi ekonomi dunia belum stabil benar. Menurut Tifatul bisa menjadi boomerang, bila tiba-tiba harga minyak mentah kembali naik

Sinyalemen yang dikhawatirkan Presiden PKS ini memang bukan isapan jempol belaka. Buktinya Sri Mulyani mengatakan jika harga minyak mentah naik lagi, maka pemerintah akan menetapkan harga maksimal untuk premium Rp 6.000 dan solar Rp 5.500. Inilah yang saya maksud dengan kelemahan kebijakan SBY yang nantinya bakal menuai masalah akibat tidak cermatnya kalkulasi

Jika harga BBM naik kembali pasca pilpres, masalahnya adalah harga kebutuhan di pasaran semakin kacau, yang mengakibatkan gejolak sosial. Dan apabila SBY adalah presiden terpilih di 2009, maka krisis kepercayaan terhadap SBY semakin meningkat. Apabila yang menjadi presiden bukan SBY, maka ia adalah tumbal SBY

Selain itu, jika SBY ingin naik popularitasnya melalui BBM, maka menurunkan kembali pada tanggal 15 Desember adalah kebijakan yang terburu-buru, pasalnya daya ingat masyarakat Indonesia itu tidak mampu merekam lama. SBY Berjudi Dengan Harga BBM. Kelak hasilnya, maksud hati ingin meraih suara maksimal tidak akan tercapai. Buktikan saja! (inilah.com) Selengkapnya...

Rabu, 10 Desember 2008

BBM dan Langkah Politis SBY

Walaupun Rp 500, penurunan harga BBM jenis premium oleh SBY yang berlaku mulai awal Desember lalu tetap saja disambut antusias oleh masyarakat. Ini dibuktikan dengan antrean panjang di hampir seluruh SPBU di seluruh Indonesia

Meski ada antusiasme masyarakat, namun langkah SBY ini tidak serta merta mendapat respon positif. Praduga dan cibiran sebagai langkah politis menjelang pemilu dan pilpres juga santer beredar sebagai objek obrolan di warung kopi apalagi oleh para pengamat.

Analis politik dari UI, Boni Hargen, menilai revisi harga jual minyak ini memang lebih bernuansa politik. Tujuannya tidak lain untuk mendongkrak citra pemerintahan SBY yang merosot dari tahun ke tahun. Apalagi, pelaksanaan pemilu sudah menghitung bulan, kan empat bulan lagi Pemilu," ujar Boni Hargens kepada INILAH.COM.

Tidak itu saja, sebagaimana head line yang diberitakan diberbagai media, pemerintah melontarkan janji untuk menurunkan kembali harga BBM. Bahkan bukan sekedar premium, solar juga bakal dipangkas harganya. Dan kemarin, Selasa (9/12) harga jual sudah diwacanakan oleh DPR menjadi Rp 4.500 untuk jenis bensin dan Rp 4.300 untuk solar

Wakil Ketua Komisi XI DPR itu menilai, harga minyak mentah dunia memberi ruang bagi pemerintah dan parlemen untuk menurunkan harga BBM bersubsidi. Karena itu, bila pemerintah mengusulkan, DPR akan menyetujui penurunan harga premium menjadi Rp5.000 per liter dan solar Rp4.300 per liter. “Kalau perlu premium diturunkan menjadi Rp4.500 per liter,” katanya (batampos.co.id)

Meski Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta sebelumnya menilai desakan agar pemerintah mengembalikan harga BBM ke level sebelum dinaikkan Mei lalu mustahil dilakukan, namun menurut saya menjelang pemilu harga BBM akan turun kembali. Karena memang SBY ingin mendongkrak citra dari BBM.

SBY paham betul, daya ingat warganya yang cepat lupa, sehingga solusinya melakukan penurunan harga BBM harus dengan cara yang bertahap agar rakyat terus mengingatnya. Buktikan saja. Selengkapnya...

Rabu, 19 November 2008

Politisi Busuk, No Way!

Setiap masa kampanye tiba, istilah politisi busuk menjadi sajian hangat yang seolah sudah menjadi menu utama untuk menyambut pesta demokrasi yang sudah sering dilaksanakan di negeri ini. Istilah ini bagaikan penyakit masyarakat seperti miras, narkoba, pekerja seks komersial. Dibenci, namun keberadaannya susah untuk dihilangkan

Dari pemilu ke pemilu, politisi busuk senantiasa lolos dari saringan parpol dan tentu juga masyarakat . Tidak saja untuk legislator yang ada di pusat (DPR), untuk yang bakal ‘mangkal’ di provinsi dan kota pun jumlahnya sudah tidak ketulungan

Dari banyak referensi, ternyata yang dikategorikan sebagai politisi busuk ini banyak cirinya. Bisa jadi mereka adalah koruptor yang menyikat uang rakyat. Bisa juga mereka menipu dengan menggunakan ijazah palsu, perusak lingkungan atau mungkin tersangkut kriminalitas lainnya. Bahkan para politisi yang ganti ‘baju’ pun dikategorikan sebagai politisi busuk

Fenomena politisi ganti partai menjelang pemilu 2009 sangat marak. Alasan mereka ingin menyalurkan aspirasi rakyat, namun kenyataannya adalah hanya ingin menikmati jabatan yang sudah atau akan disandangnya. Buktinya, mereka pindah partai itu bukan karena alasan prinsip, namun lebih karena tidak legowo mendapat nomor sepatu. Lantas kalau begini, bagaimana mereka mau menyampaikan aspirasi, jika visi dan misi partai yang memayungi juga mereka tidak memahaminya.

Sudah cukup? Bagi saya politisi busuk juga dapat dilihat dari keluarganya. Jika caleg keluarganya berantakan karena proses yang tidak ‘alamiah’, seperti adanya perselingkuhan antara suami/istri atau mungkin kedua-duanya

Untuk itu jangan pilih caleg dan partai yang calegnya diisi oleh politisi yang busuk dengan kriteria di atas. Jika poltisinya sudah busuk, apakah mungkin Indonesia bisa wangi? Wallahua'lam Selengkapnya...

Ada Apa dengan LSI?

Lembaga Survei Indonesia (LSI) sebagai lembaga survei jempolan yang ada di Indonesia akhirnya eksistensinya mulai diragukan. Survei terbaru lembaga yang dikomandani oleh Saiful Mujani ini secara mengejutkan menempatkan Partai Demokrat (PD) dalam posisi puncak dengan mengumpulkan pundi suara sebesar 16, 8 persen.

Tidak tanggung-tanggung, bukan sekedar PKS, PKB atau partai tengah lain yang dijungkalkan, namun partai kelas berat semacam Partai Golkar dan PDIP pun dipaksa takluk. Hasil kontroversial ini pun akhirnya memunculkan keraguan dan ketidakpercayaan yang menjurus melecehkan survei yang mengeluarkan dana besar tersebut.

Berita miring ini bukan saja datang dari kalangan partai, seperti Fuad Bawazier yang mengatakan sudah tidak menaruh percaya kepada LSI. Fuad Bawazier mengatakan seandainya partainya diramal LSI bakal mendapat suara 10 persen pun, ia tetap tidak percaya dengan LSI.

Parahnya, krisis keraguan terhadap LSI juga muncul dari kalangan pengamat. Pengamat politik dari UI, Boni Hargens misalnya, ia menyangsikan hasil survei LSI pimpinan Saiful Mujani. “Saya tidak percaya atas hasil survei LSI Saiful Mujani,” tegasnya kepada inilah.com, Senin (17/11) di Jakarta.

Keraguan yang sama muncul dari Direktur Eksekutif Reform Institut Yudi Latif. Dengan tanpa ada tanda-tanda kenaikan popularitas SBY, popularitas Partai Demokrat langsung meroket. “Saya pribadi juga agak aneh melihat hasil survei LSI,” katanya.
Hal ini menguatkan bahwa indikasi krisis kredibilitas LSI sudah mulai terendus. Walaupun dengan segala dalih LSI menegaskan, pihaknya tak mungkin mengorbankan kredibilitas lembaga hanya karena memuaskan kilen politiknya, namun argumentasinya justru semakin menguatkan bahwa LSI memang tidak independen.

LSI yang menyimpulkan PD mendapat berkah lonjakan suara dari kalangan swing voter adalah hal yang dipaksakan, karena maju mundurnya PD ini sangat bergantung kepada peranan SBY. Padahal saat ini pencitraan SBY dimata rakyat sudah mulai pudar, ditambah dengan keberadaan rupiah yang kian tak berdaya. Bahkan menurut Boni, Indonesia di bawah kepemimpinan SBY dinilainya gagal.

Alasan memilih PD karena faktor iklan pun pasti terbantahkan, karena saat ini yang menjadi jawara iklan adalah PKS dengan seri kepahlawannya dan Prabowo dengan Gerindranya. Iklan PD hanya berjaya ketika bulan puasa.

Kesimpulannya, Survei LSI mengenai pilkada sampai saat ini mungkin masih layak diperhitungkan, Namun untuk pemilu masih perlu dipertanyakan. Sebagaimana yang sering disampaikan Presiden PKS, Tifatul Sembiring yang mengatakan dahulu LSI meramal PKS hanya mendapat 3%, justru berhasil meraup angka yang fantastis di pemilu 2004. Jadi memang independensi LSI perlu dipertanyakan. Ada apa dengan LSI? (ibnusy – inilah.com) Selengkapnya...

Senin, 13 Oktober 2008

Ongkos Politik dan Kursi Kekuasaan

Sama seperti pemilu 2004 lalu, untuk pesta demokrasi 2009 nanti, masyarakat juga tidak sekedar memilih logo partai, tetapi sudah secara lebih khusus mencoblos/mencontreng nama wakil rakyat yang masyarakat inginkan dari partai tersebut. Karena itu, untuk dapat mendongkrak perolehan suara, partai politik (parpol) ramai-ramai menarik simpati massa dengan menggaet tokok-tokoh yang populer

Walaupun langkah ini banyak merugikan kader parpol yang sudah banyak keluar keringat, namun elit parpol tetap kuekueh menempatkan para artis, olahragawan hingga para caleg berkantong tebal. Kiat parpol menggaet tokoh-tokoh tersebut semata-mata sebagai umpan untuk menjaring sebanyak mungkin suara konstituen.

Realitas politik semacam ini mengambarkan parpol tidak percaya diri mengusung kader terbaiknya, sehingga meyakinkan opini bahwa parpol tidak mampu fight tanpa adanya topangan ketenaran untuk meraih suara dari para tokoh eksternal, walaupun kader murni partai harus dipaksa legowo jika posisinya harus diusili

Memang penerapan pemilihan langsung oleh rakyat, memberi kesempatan kepada semua
calon yang memenuhi syarat untuk mendapatkan suara terbanyak dari rakyat. Tentu syaratnya hanya berlaku bagi para publik figur yang ketokohannya sudah tidak diragukan lagi. Namun ada peraturan yang menjadi rahasia umum, bahwa siapapun calegnya (baik kader parpol ataupun tokoh) yang berlomba harus siap dana yang cukup untuk kampanye. Terlebih bagi para caleg yang ketokohannya kurang membumi. Jika tidak berkocek tebal, jalan lainnya adalah dengan menggalang dukungan dana dari berbagai pihak.

Dan saat ini kita banyak menjumpai para caleg yang menuai kontroversi karena mengeluarkan begitu banyak uang. Kontroversial karena mereka ujug-ujug berubah menjadi pahlawan kesiangan dengan membagi-bagikan sembako, menjadi donatur acara tujuh belasan, mengaspal jalan sampai melakukan, safari Ramadhan, open house dan road show menyapa calon konstituennya.

Belum lagi iklan politik yang berwujud konvensional seperti yang memajang potret dan kegiatan di media massa, baik cetak maupun elektronik, baliho, spanduk, round text, kartu nama dan seabrek cara untuk mempopulerkan diri. Sebenarnya hal tersebut wajar, karena bermanuver dalam politik ibarat bumbu penyedapnya, namun harus diimbangi dengan kemampuan kualitas seorang caleg, jika tidak maka justru akan ditertawakan.

Efektifitas Dana
Percaya atau tidak keberhasilan menduduki posisi politik tidak harus serta merta dilakukan dengan cari muka dan ngobral kekayaan. Hal ini sudah banyak dibuktikan, baik yang berkaitan dengan posisi eksekutif maupun legislatif.

Pada pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Kepri 2004 lalu misalnya, ada seorang calon anggota DPD yang sangat jor-joran dalam berkampanye. Road show ia jalani, bahkan hampir tidak ada media iklan yang tidak tersentuh. Iklan di media cetak, pembuatan kalender, jam dinding, sticker sampai balon udara yang paling besar dan banyak yang menggambarkan dirinya pun hasilnya hanya mampu menduduki peringkat kelima alias tidak jadi

Kandidat yang jor-joran tidak ada jaminan menang. Dana yang memadai hanya akan memberikan keleluasaan bagi seorang kandidat untuk menggenjot popularitas, sosialisasi diri dan peningkatan persepsi jati diri. Memang benar, siapa saja yang akan berlomba harus mempunyai logistik cukup. Semakin besar skala pemilihan yang dilombakan, semakin besar pula dana yang dibutuhkan.

Untuk itu para caleg harus cerdas dalam membelanjakan kebutuhan politiknya, jika tidak maka justru hanya akan dijadikan “Mesin ATM” bagi para konstituennya. Idealnya dana tersebut hanya sebagai jembatan untuk mengenalkan ke publik bahwa caleg itu berisi dan bervisi, bukan berlagak Sinterklas yang hobi membagi-bagikan uang.

Tingkat kecerdasan masyarakat (baca: pemilih) yang semakin tinggi juga dapat mengakibatkan politikus boros terjerembab dalam blunder politik. Dana yang dikeluarkan kandidat (dana sendiri, pinjaman maupun pihak ketiga) untuk kampanye dan kegiatan lain yang berhubungan dengan pencalonannya dipahami masyarakat sebagai investasi politik.

Berbicara soal investasi, maka bayangan pemilih adalah bagaimana agar modal itu dapat kembali dengan cepat yang umumnya melalui skenario pembagian penggarapan potensi sumber daya alam di daerah atau mendapatkan proyek-proyek APBD. Atau mungkin melakukan kongkalikong dengan dengan berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. Dan inilah masalahnya sehingga konstituen pun akan kabur.

Kredibilitas Caleg
Memang diakui, persepsi bahwa politik hanya untuk orang berkantong tebal juga masih melekat di kalangan masyarakat terutama di kalangan politisi praktis. Apalagi dominasi uang dalam politik ini masih dipraktekan oleh banyak caleg. Oleh karena itu dibutuhkan program penyadaran masyarakat yang tepat sasaran

Jika pemilu legislatif hanya menampilkan caleg orang berpunya, maka yang timbul justru paradoks demokrasi. Selayaknya caleg tidak tertuju pada kemampuan financial yang justru mempertontonkan parade kemiskinan konstituennya. Seharusnya para caleg lebih mengedepankan aspek visi dan misi agar dikatakan layak dan pantas menjadi seorang wakil rakyat

Memang tidak ada sebuah syarat baku yang sama diterapkan di seluruh dunia untuk menguji kelayakan dan kepantasan seorang wakil rakyat. Namun setidaknya, seorang caleg harus memiliki kredibilitas yang ditopang oleh tiga pondasi yang bernama kejujuran, keahlian dan dipersepsikan objektif oleh banyak orang

Bagi calon wakil rakyat yang tidak memiliki modal cukup, anda tidak perlu berkecil hati karena dari ratusan ribu caleg yang berlaga di pusat maupun daerah pada Pemilu 2004 lalu, hanya ada dua caleg yang melampaui Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), mereka adalah Hidayat Nur Wahid dari PKS dan Saleh Djasit dari Partai Golkar. Sayang Saleh Djasit “mengotori” prestasinya dengan kasus tender mobil pemadam kebakaran yang harus membuat dirinya mendekam di jeruji besi.

Jadi, jika anda wahai para caleg hanya berkampanye untuk sekedar mendongkrak popularitas, tanpa dibarengi dengan tiga pondasi di atas, maka bersiaplah anda untuk kecewa ditinggalkan pemilih atau akan mengikuti jejak Saleh Djasit yang ada di hotel prodeo. Dan bagi caleg berkantong tipis yang tidak memiliki visi bersiapalah anda menangis dua kali, menangisi kemiskinan dan menangisi kenekadan anda.

Politik memang membutuhkan biaya. Namun rakyat ingin agar ongkos yang dikeluarkan itu masih dalam frame yang “wajar”, bukan perdagangan politik ekonomi yang penuh intrik dan “patgulipat”. Maka sudah sepatutnya masyarakat meneropong kembali kekayaan calegnya didapat dari jalan yang halal atau sebaliknya? Wallahua’lam

Ibnu Syakir
Sekretaris Forum Kajian Politik dan Agama (Forkalima) Batam Selengkapnya...

Selasa, 30 September 2008

Pantun Lebaran

Suara takbir bergema
Pertanda syawal akan tiba
sebulan sudah kita puasa
semoga dapat meraih takwa

Ke Brebes jangan lupa ke Kauman
Bersilaturahim dengan sanak saudara
Puasa ramadhan sudah kita tunaikan
Semoga dapat raih gelar takwa

Kota Batam rumpun melayu
banyak juga para pendatang
bulan ramadhan segera berlalu
selamat raih kehidupan gemilang

minal 'aidin wal faizin
mohon maaf lahir dan batin
Taqobbalallahu minna wa minkum

jabat erat,
bapake nazla,
ummu aghniya,
nazla dan aghniya Selengkapnya...

Selasa, 09 September 2008

Wahai Bulan Magnet …

Subhanallah, tak terasa, saat ini kita (umat Islam) melaksanakan shoum Ramadhan pada hari yang ke-9. Itu artinya sehari lagi kita akan berpindah pada tahap mencari (atau mendapat) pengampunan Allah, sebagaimana yang sering disampaikan oleh para muballigh di atas mimbar “Bulan Ramadhan itu awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah dibebaskan dari api neraka”

Subhanallah, awal Ramadhan memang terasa bener sentuhan rahmat Allah. Lihat saja, orang yang biasanya tidak pernah nongol di masjid, tiba-tiba hadir dengan menggunakan baju muslim ditambah perlengkapan sholat lainnya. Subhanallah, Ramadhan memang bulan magnet

Ramadhan juga sama dengan piala dunia. Lihatlah di awal banyak Negara tumplek megikuti prosesi pembukaannya. Kemudian penyisihan, perdelapan final, semi final dan grand final. Jumlah pesertanya pun sudah pasti menyusut.
Termasuk ketika Allah “mengobral” ampunan bahkan pembebasan dari api neraka, kita sepertinya bakal lebih enjoy berada di Mall, mudik atau beraktivitas yang kurang mendukung kesuburan ruhiyah kita

Saudaraku, kata Ustadz, tarikan-tarikan tanah (ingat, kita bersal dari tanah) nilainya itu rendah. Makan, minum, hubungan seksual dll itu sekali lagi nilainya “rendah”. Sedang makanan ruhiyah itu harganya mahal, sehingga kadang banyak orang yang tidak sanggup untuk membelinya.

Sholat berjama’ah di masjid, dizikir, tilawah Al Qur’an, silaturahim, shodaqoh dll itu adalah aktivitas yang sering kita abaikan, baik di bulan Ramadhan apalagi bulan lainnya. Padahal itu adalah yang bakal mengantarkan kita kepada kehidupan yang sebenarnya. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam Selengkapnya...

Rabu, 13 Agustus 2008

Kisah Pencuri Telur & Koruptor

Seperti biasa, sembari menunggu istri melakukan aksi belanja di Pasar Pancur, sebuah pasar tradisional yang ada di wilayah Sei Beduk, Batam, saya lebih memilih jalan-jalan mengelilingi pasar bareng Nazla atau menunggu (lebih tepatnya menjaga) putri sulung kami bermain dengan kucing pasar yang bersih dan lucu.

Hari itu tidak seperti biasa. Hampir setengah jam berlalu, Ummu Bila belum juga nongol dan mengajak kami untuk segera pulang. Tanpa musyawarah, saya langsung menggendong Nazla masuk ke pasar. Alangkah terkejutnya, karena saat itu suasana di dalam pasar sedang “panas” dan chaos.

Tak jauh dari tempat langganan istri saya membeli kebutuhan harian, ada seorang yang dihardik secara masal. Alhamdulillah tidak terjadi penghakiman massa. Usut punya usut ternyata orang tersebut membawa tujuh buah telur tanpa bayar alias mencuri. Gara-gara 5 butir telur ayam, dan 2 butir telur bebek itulah yang membuat dia harus mengenang kisah pahitnya seumur hidup.

“Kasihan ya Mi, gara-gara 7 telur malu seumur hidup. Emang berapa sih harga semuanya?” Tanya saya ke istri. “Di pasar sering terjadi (pencurian) kok mas, modusnya juga bermacam-macam. Sepertinya bukan karena gak punya duit lho mas, buktinya tadi ketika dikejar dan dihardik rame-rame juga bayar”, terang istri panjang lebar.

“Baik sangka dong Mi, mungkin ibu tadi benar-benar lupa, atau memang karena terpaksa mencuri. Mungkin duit yang tadi buat bayar sebenarnya buat beli beras atau lainnya”, mendadak naluri social saya muncul

Saya yakin ada ribuan kasus yang sama di pasar-pasar di seluruh Indonesia. Ambilah pelajaran dari kisah di atas. Jangan sampai rumah kita tiap hari membuang makanan, sementara tetangga kita kelaparan, sehingga membuat mereka nekad untuk mencuri demi mengganjal perut yang memang tak mau diajak kompromi.

Teng, saya langsung teringat statement Hidayat Nur Wahid yang setuju para koruptor untuk di dor mati saja kalau nominalnya keterlaluan, atau minimal diberi seragam yang khas pencuri uang rakyat dan diberi fasilitas yang pas-pasan ketika sudah di penjara sebagaimana usul ICW.

Jadilah hamba-hamba yang bersyukur. Semoga kita dapat mengambil ibrah.

Selengkapnya...

Sabtu, 09 Agustus 2008

Politisi Atau Bajing Loncat?

Tidak dipungkiri memang masih banyak para pelaku politik di negeri ini yang mengadopsi gaya bajing loncat dalam mencari makan. Karena syahwat kekuasaannya tinggi, kadang hanya karena soal sepele, mereka rela pecah kongsi dan membentuk partai baru

Hari ini banyak dijumpai sebagian besar partai memiliki “saudara kembar”. PDIP VS PDP (termasuk juga banyak partai yang mengusung symbol Soekarno) , Golkar VS Hanura, PAN VS PMB, PDS VS PKD Indonesia, PPP VS PBR dan PKB VS PKNU serta masih ada lainnya.

Seperti kata pepatah, “tidak ada asap kalau tidak ada api”. Perpecahan di tubuh banyak parpol pasti ada penyebabnya. Bisa karena petingginya yang sok-sokan atau mungkin juga karena bawahannya kepengin jadi pimpinan. Intinya, warisan system oligaki masih dominan.

Ada juga yang merasa “lahannya” sudah habis, mereka tanpa malu pulang lagi ke kandangnya. Zainuddin MZ misalnya. Kyai sejuta umat ini dahulu adalah tokoh PPP, kemudian putus hubungan dan mendirikan PBR, namun saat ini dia kembali lagi ke PPP.

Tidak cuma satu itu model politisi di Indonesia. Di belakang nama Zainuddin MZ, ada juga Rhoma Irama yang sudah lelah keliling partai balik juga ke PPP. Fuad Bawazier juga, sempat nongkrong di PAN, nglamar PKS tapi ditolak, kemudian sekarang bergabung di Hanura. Tentu masih ada serentetan nama yang bejibun banyaknya baik di pusat maupun daerah.

Anehnya, partai-partai yang kedatangan politisi semacam ini justru bangga dan saling claim. Bahkan mereka membuat istilah “kedatangan darah segar dari partai lain”. Padahal model politisi seperti itu tidak ubahnya seperti orang yang tidak punya prinsip. Bahasa kasarnya Muhaimin cs adalah “mereka itu bagaikan anasir-anasir jahat” yang siap ngeroposi partai yang ia labuhi.

Tapi memang begitulah kerjaannya partai tak bersistem. Partai justru ndompleng ketenaran seseorang. Berbeda dengan partai kader, yang akan memunculkan orang yang dahulu bukan siapa-siapa menjadi tokoh besar. Partai apakah itu?

Selengkapnya...

Selasa, 29 Juli 2008

Sentilan Iqbal

Saat ini dalam kalender hijriyah kita sedang berada di akhir perjalanan bulan Rajab. Sebagai umat Islam, ketika mendengar Rajab, maka yang akan teringat adalah sebuah peristiwa besar yang terjadi pada diri sang Rasul yang ma’shum dalam melakukan perjalanan spektakuler ke shidrathul muntaha untuk menerima perintah sholat lima waktu

Bagi saya, selain kewajiban sholat, pelajaran yang dapat diambil dari Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW adalah sifat tanggung jawab yang besar kepada umatnya untuk melakukan ishlah (perbaikan). Bayangkan, Rasulullah sudah sampai di shidratul muntaha, sebuah tempat yang tidak ada tetesan darah dan air mata. Tempat yang tidak bakal ditemui adanya orang kepayahan, baik karena kelaparan, ketidak adilan, pertikaian dan peperangan antar suku dan kabilah sebagaimana yang terjadi di Arab dan bumi-bumi lainnya

********

Namun, saat ini kita menyaksikan orang-orang yang sudah singgah di “shidratul muntaha” itu kini tak mau turun lagi ke “bumi”. Mereka telah lupa dengan tugas dan kewajiban untuk melakukan perbaikan di negeri ini. Mereka adalah para agamawan yang hanya “berasyik masyuk” dengan ibadah transendentalnya, mereka adalah para pebisnis yang hanya memikirkan urusannya. Mereka juga kaum terpelajar yang hanya disibukkan dengan diktat-diktat tebal mata kuliahnya. Mereka juga adalah orang-orang yang cepat menyerah dan apatis melihat kerusakan di negeri ini

Kalau orang seperti kalian adalah orang yang pesimis, lantas siapa yang optimis menatap bangsa ini? Jadilah pelukis sejarah di langit yang temaram sebagai bukti nyata bahwa kita adalah orang yang masih memiliki harapan. Dan kelak langit itu akan terang kembali, sebagaimana janji-Nya “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”

Muhammad Iqbal menyientil orang-orang yang cepat lelah dan apatis dengan senandung yang dalam:

“Andai aku adalah Rasulullah

Maka, aku tak akan turun lagi ke bumi

Setelah sampai di shidratul muntaha”

Selengkapnya...

Kamis, 17 Juli 2008

Selamat Berjuang!

Akhirnya berlayar juga kita di lautan kampanye Pemilu 2009. Siapkanlah perlengkapan yang memadai agar dapat selamat sampai tujuan, karena hakikat lautan itu pasti ada riak-riak atau bahkan gelombang besar yang dapat menghempaskan. Apalagi, saat ini kita berlayar dalam waktu sangat panjang.

Kampanye yang akan berakhir sampai 5 April 2009 itu tentu sangat melelahkan. Bayangkan, sembilan bulan kita dibisingkan oleh keras deru mesin partai. Diombang-ambingkan oleh ombak politik yang kadang tenang namun menghanyutkan atau keras kemudian meluluh lantahkan. Belum lagi adanya agitasi, adu domba dan berbagai macam tindakan kotor yang belum juga hilang di negeri ini

Namun itulah perjuangan yang pasti membutuhkan pengorbanan. Terasa lucu seandainya para pejuang mengusir penjajah tanpa perlawanan. Akan ditertawakan jika risalah para Rosul berjalan mulus tanpa liku. Padahal lewat shirah kita tahu bagaimana Muhammad SAW dilempar, diludahi dan bebera kali dijadikan target pembunuhan dan begitu banyak kisah-kisah heroik lainnya yang juga dialami oleh para sahabatnya dan para penerusnya

Begitupun perjuangan di ranah politik, ibarat ingin menyaksikan pelangi, maka harus ada hujan yang besar. Bagaikan ingin melihat mentari, maka harus melewati malam yang gelap. Ingat, orang-orang jahat di negeri ini masih banyak yang tidak rela kekuasaannya tercerabut. Mereka pun melakukan apa saja. Di sinilah letak perjuangan untuk melawan mereka.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah, dari 34 partai politik yang ada apakah semuanya pejuang? Tidak, justru banyak dari mereka yang hakekatnya adalah penjahat atau setengah penjahat. Dan sangat sedikit diantara mereka adalah kumpulan orang-orang baik yang menginginkan kebaikan bagi anak negeri

So, katakan tidak untuk apatis terhadap politik (tentunya juga parpol). Bagaimanapun berjuang lewat partai dan ambil bagian dari proses Pemilu adalah cara legal formal untuk memperbaiki bangsa yang sudah rusak ini. Koar-koar di jalanan tanpa memiliki “kekuatan” legal efeknya kurang terasa, apalagi yang golput (walaupun hak) namun itu sepertinya kurang ksatria dan hanya memuluskan jalan para perusak negara.

Dan kelak ketika kapal itu sudah mulai bersandar di dermaga, kita akan menyaksikan seperti apa sambutannya, apakah dengan wajah penuh senyum atau dengan muka merah padam sambil menenteng senjata tajam. Semua itu ditentukan ketika hari pemungutan suara tiba. Pilihlah orang-orang yang beriman, berilmu, bersih dan peduli untuk merawat bumi Indonesia. Sudah siapakan pilihan anda? Selamat berjuang!

Selengkapnya...

Rabu, 16 Juli 2008

Kehidupan

“Mas, Nazla masih panas, gak usah pulang sampai malam ya?”. Itu adalah sms istri yang “mendarat’ di handphone saya. Sebagai orang yang bercita-cita menjadi suami dan orang tua yang baik, tentu ketika mendengar kabar tersebut, perasaan cemas langsung mengitari ruang batin.

Bagaimana tidak, dua minggu lalu Nazla barusan sembuh dari demam tinggi dan gejala radang tenggorokan. Tak lama, Aghniya Salsabila pun ketularan sakit, namun alhamdulillah lebih ringan dari mbaknya. Lantas tiba-tiba tiga hari lalu, di suasana panas terik, HP saya bergetar mengabarkan “Mas, Nazla panas lagi”. Allah ….

Ummu Nazla sangat mengerti tuntutan peran aktif saya di jamaah dakwah yang mau tidak mau menyedot porsi keluarga. Liqo’, ngliqo’ dan meeting untuk mendesign program serta seabreg acara yang harus diikuti adalah beberapa agenda yang menjadi menu wajib. Apalagi dua bulan sebelum kampanye ditabuh, saya sudah diamanahi tugas baru dan sangat berat dalam gerbong yang bernama Bapilu

Sehingga, ketika SMS itu datang, berarti Ummu Bila sedang menghadapi permasalahan yang lebih serius. Insya Allah istri adalah orang yang berkepribadian kuat dan sangat pengertian, sehingga dengan adanya SMS tersebut,secara tidak langsung mengabarkan istri saya sedang menghadapi permasalahan dan saya harus ikut membantunya.

Tentu bersikap seimbang adalah jalan terbaik dalam Islam. Seimbang untuk keluarga, untuk dakwah dan juga untuk masyarakat (walaupun yang terakhir agak kurang). Alhamdulillah kini semuanya sudah baik. Segala puji bagi Engkau Yaa Allah.

)I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I(

“Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS: At-Taubah/9: 24)

Di ayat lain (QS: At-Taubah/9: 41) “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Yah, seandainya harus mengaca dengan perintah Allah di atas, tentu rasa cinta dan perjuangan yang selama ini sudah saya (mungkin juga anda) laksanakan tentu bagaikan langit dan bumi. Masih sangat jauh. Astaghfirullahal ‘adzim.

Allah, jadikanlah kami golongan orang yang istiqomah meretasi jalan-Mu.
Robbi, jauhkanlah kami dari ujian yang kami tidak bisa memikulnya, Aamin.

Selengkapnya...

Senin, 07 Juli 2008

Pernak-Pernik Ajaran Baru

Libur panjang telah tiba, itu artinya sekolah kembali membuka pendaftaran bagi calon anak didik. Berlomba-lomba sekolah menebar informasi, baik via spanduk, iklan di koran, leaflet dan lainnya untuk menggaet bidikan

Untuk sebagaian besar kalangan, tentu mereka lebih mengincar sekolah negeri sebagai tempat berlabuh mencari ilmu bagi buah hatinya. Lebih “terjamin” (ada tanda “”), lebih murah dan sederet kelebihan lainnya adalah menjadi hujjah para orang tua. Hal ini berbeda dengan yang diterapkan oleh keluarga saya dulu di kampung yang mengharuskan anak-anaknya untuk mangan bangku di sekolah yang berlabel agama minimal enam tahun (SD).

Namun masalahnya, harapan para orang tua itu tidak berjalan seirama dengan jumlah sekolah negeri yang ada. Contoh di Batam, seandainya diakumulasi jumlah sekolah (negeri dan swasta) yang ada itu tetap tidak mencukupi daya tampung anak-anak usia sekolah. Untuk mensiasatinya kadang pagi dijadikan SD, siang berubah SMP atau SMA. Atau mungkin murid-muridnya dirolling jam masuknya. Maka tidak heran kalau hari ini masuk pagi, minggu depan masuk siang dan seterusnya.

Parahnya lagi, kuota sekolah negeri hanya 10 persen disediakan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu tanpa harus melalui tahapan rankingisasi. Melihat sekilas memang terlihat bagus untuk peningkatan mutu pendidikan dan kompetensi, tapi apa tidak terlalu kecil jatah kuota untuk si papa?

Logikanya, anak yang mendapat pelajaran tambahan di bimbingan belajar itu lebih menguasai dibandingkan dengan yang pure mendapat pelajaran dari sekolah. Bagi si miskin, jangankan harus belajar tambahan di Primagama atau lainnya, bahkan untuk sekedar beli baju seragam, buku pelajaran dan uang transport orang tua mereka pasti ngos-ngosan. Namun ini bukan berarti saya under estimated

Di tengah persaingan menjaring target, ada juga sekolah yang super kreatif (baca: kebablasan). Di sebuah spanduk saya membaca yang intinya: Sekolah XXX. Daftarkan putra-putri anda dengan hanya SMS ke No 081X XXX XXXX. Masya Allah, jika sekolahnya sudah selera rendahan begini, terus bagaimana kualitas anak didiknya?

Memang masa liburan panjang seringnya membuat pusing orang tua, apalagi bagi yang anaknya tinggal kelas. Ya Allah, jadikanlah anak keturunan kami adalah yang menentramkan hati dan menyenangkan mata lahir, Aamin.

Selengkapnya...

Kamis, 03 Juli 2008

Mereka Semua Mafia?

Mafia Di Senayan
Kerjanya Tukang Buat Peraturan
Bikin UUD
Ujung-Ujungnya Duit

Lagu Slank di atas sudah beberapa bulan wara-wiri di batin kita, yang kemudian berkarat menjadi keprihatinan. Bagaimana tidak, belum genap tiga bulan kasus memalukan yang menimpa Al Amin Nasution terkait alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan, baru-baru ini KPK menangkap anggota DPR dari Fraksi Bintang Reformasi, Bulyan Royan di Plaza Senayan

Sebelumnya masih ada tiga anggota DPR yang berurusan dengan KPK terkait kasus pencurian uang rakyat. Dua dari Partai Golkar, yaitu Hamka Yandhu yang ditahan KPK karena aliran dana BI dan Saleh Djasit yang di sel akibat kasus pengadaan alat pemadam kebakaran saat masih menjabat sebagai Gubernur Riau. Satu dari Fraksi Partai Demokrat, Sarjan Tahir terkait kasus alih fungsi hutan di Kabupaten Banyuasin

Di luar “garis keturunan” Senayan, sebelumnya KPK telah menangkap anggota Komisi Yudisial, Irawady Joenoes. Kemudian Jaksa Urip Tri Gunawan yang perkaranya masih meliuk-liuk di persidangan

Penyimpangan Isu
Koruptor adalah perampok uang rakyat itu benar. Korupsi juga menyengsarakan rakyat juga tak salah. Maling rakyat harus diberikan sanksi sangat berat, setuju itu. Tapi jika ada lima atau sebagian besar penjahat rakyat di gedung dewan yang ngutil uang kita, kemudian ramai-ramai menyamaratakan semua anggota dewan adalah maling, itu yang tidak sesuai keadilan

Biarlah saya menjadi bamper sukarelawan. Sengaja saya melawan arus dengan isu hangat di banyak media yang mengarahkan untuk ‘membenci’ profesi anggota DPR. Saya mencium ada skenario hitam terhadap semua politisi (terutama politisi bertrade record bagus), dengan harapan masyarakat tambah apatis, dan endingnya para maling sebenarnya yang akan menguasai gedung yang indah itu.

Bagi saya menjadi anggota DPR adalah langkah legal formal yang strategis untuk melakukan ishlah. Tergantung siapa yang anda pilih dan kenapa anda memilihnya. Juga menjadi tanggung jawab parpol, termasuk para kader dan para elitnya untuk bekerja lebih maksimal lagi dan menyeleksi pemilik pribadi-pribadi unggul bagi calon yang bakal mengemban amanah berat secara professional. Minimal mereka didukung atas kekuatan akidah, iman dan kecakapan intelektual dan sense of humanity. Harta dan kekayaan? Itu juga memungkinkan. Wallahua’lam

Selengkapnya...

Rabu, 25 Juni 2008

Tukang Ojek Dadakan

Anak-anak berseragam Sekolah Dasar (SD) melambai-lambaikan tangannya di bibir jalan. Pancur Om …. Pancur Om …. Seolah tak mau tahu saya pun cuek melintasi mereka sambil bertanya dalam hati, “Emang tampang dan dandanan saya seperti tukang ojek ya?”

“Model abi seperti tukang ojek ya mi?” tak lama sampai di rumah unek-unek itu saya tanyakan ke istri. Tidak mendapat jawaban, malah dindaku itu balik bertanya, “Emang kenapa mas?”. Akhirnya dengan ikhlas, saya pun ceritakan kisahnya.

Beberapa hari kemudian, saya pun menemukan kejadian serupa ketika akan berangkat kerja. Kali ini dua anak SD berseragam batik di jalan dekat rumah, lamat-lamat saya mendengar, Bidadari om (kavling Bidadari-red). Seperti biasa, saya pun bablas.

Pernah terlintas untuk berhenti dan menaikan mereka, ibarat pepatah throwing two birds with one stone (istilah indonesianya: sambil menyelam minum air). Maksud saya, sambil berangkat/pulang kerja dapat duit pula karena jadi tukang ojek dadakan. Kan lumayan itung-itung buat beli bensin satu liter. Namun hal itu urung dilakukan.

Entah ini kejadian yang keberapa. Hari itu saya menjumpai dua anak yang berbeda (masih berseragam sekolah juga) melambaikan tangan, namun kali ini kalimatnya beda dengan para pendahulunya, yaitu “numpang om”. Saya pun berhenti dan bertanya tujuannya. “Ruli Pintu IV”, jawab mereka bersemangat. Ruli adalah rumah liar. Rumah yang tidak layak disebut tempat tinggal, semacam rumah kumuh di Jakarta.

Pasca kejadian itu, mengantar para ‘pencegat jalanan’ cilik secara total free adalah hal biasa (asal tidak mengganggu rute). Sebagai trik untuk lebih menyelamatkan Supra second buatan tahun 2003 yang kami beli dengan cara patungan bersama istri, yaitu hanya akan menaikan anak-anak yang maksimal berjumlah dua. Jika ada segerombolan siswa, demi keadilan (dan juga kenyamanan motor) saya cuekin mereka.

Seperti biasa, sebelum turun dari jok yang kian menipis, saya beri mereka service tambahan berupa nasehat agar belajar yang lebih giat. “Iya om”, jawab para penerus generasi sambil tak lupa menyelipkan kata terimakasih.

Kenaikan BBM imbasnya memang tidak mengenal usia. “Tren” minta tumpangan gratis di Batam (tepatnya di Tanjung Piayu) yang dilakukan anak-anak SD mungkin diakibatkan jatah uang saku mereka dikurangi, atau minimal ongkos kendaraan mereka sudah tak diberi lagi, sehingga untuk dapat memepertahankan semangat belajar dan bersekolah, mereka rela “mengemis” mencari tumpangan gratis

Mungkin di tempat lain, akibat kenaikan BBM banyak bayi yang tak lagi diberi susu dan makanan yang bergizi. Banyak mahasiswa yang kembali makan mie instant. Dan yang pasti sudah ada korban jiwa akibat BBM. Bagaimana SBY-JK, masih keukeuh kah dirimu? Apalagi DPR sudah loloskan hak angket.

Selengkapnya...

Selasa, 24 Juni 2008

Pemilu dan Sikap Kita

Sudah sembilan kali bangsa Indonesia, menyelenggarakan pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih wakil-wakil rakyat mereka. Pemilu yang akan kita ikuti pada 2009 mendatang adalah yang ke-10 dalam sejarah pemilu bangsa kita. Tentu ada begitu banyak catatan dari setiap penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut dari awal sampai terakhir (baca: Pemilu 2004)

Sejarah Pemilu Indonesia
Pemilu pertama dalam sejarah Indonesia diawali pada tahun 1955 atau sepuluh tahun setelah kemerdekaan. Walaupun dalam kondisi serba sulit, namun pada pelaksanaannya berjalan sukses. Pemilu kedua diadakan dengan berselang waktu yang cukup lama, yaitu pada tahun 1971. Keterlambatan sampai 16 tahun ini terjadi karena saat itu ada perubahan format politik yang dilakukan oleh pemerintahan Soekarno.

Setelah meluasnya krisis politik, ekonomi dan sosial pasca kudeta G 30 S/PKI, kedigdayaan Soekarno tumbang. Akhirnya Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi Pejabat Presiden menggantikan Bung Karno, dan menetapkan Pemilu diselenggarakan tahun 1971.

Tahun 1971 adalah tahun pemilu pertama atas racikan “bumbu politik” langsung dari tangan Soeharto yang bertahan hingga lima kali Pemilu berikutnya, yaitu tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Setelah 1977, pelaksanaan Pemilu yang periodik dan teratur mulai terlaksana dan terjadwal sekali dalam lima tahun. Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit, yaitu, PPP, Golkar dan PDI.

Pemilu Pasca Reformasi

Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie. Atas desakan publik, Pemilu dipercepat untuk segera dilaksanakan, sehingga hasil-hasil Pemilu 1997 segera diganti. Akhirnya Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada pemilu ini multi partai kembali diberlakukan. Tidak tanggung-tanggung 48 parpol sebagai kontestan. Mereka berjuang merebut perhatian dan suara rakyat.

Pemilu 2004 adalah sejarah baru pemilihan umum negara kita. Saat itu para anak bangsa yang sudah berhak tidak saja memilih anggota DPRD I, II dan DPR namun juga memilih anggota DPD yang mewakili daerah masing-masing yang disebut pemilu legislative. Tahap selanjutnya adalah pemilihan presiden (dan wakil presiden) yang waktu itu sampai pada putaran kedua

Catatan

Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu yang pertama dan kedelapan adalah pemilu yang paling berhasil diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Dalam kondisi politik yang bergejolak namun pada kenyataannya berjalan lancar. Partisipasi masyarakat menuju bilik suara terbilang relative tinggi. Bahkan Pemilu 1955 mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing.

Yang menarik dari Pemilu 2004, kemudian disusul Pilpres dan Pilkada di berbagai Privinsi dan Kabupaten/Kota tingkat kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya senantiasa merosot. Ibarat bola salju, tren ini senantiasa menggelinding dan membesar.

Di satu sisi hal ini menjadi pukulan tersendiri bagi parpol dan para tokohnya untuk lebih bekerja lebih maksimal lagi, namun di sisi lainnya, apatisme masyarakat ini berujung kepada kondisi yang lebih tragis, yaitu kerusakan akan menjadi barang legal karena lembaga legislatifnya telah menghasilkan produk undang-undang yang munkar.

Jika sudah demikian, maka kegigihan para da’i di atas mimbar untuk menghentikan kemaksiatan. Perjuangan para aktivis untuk melawan korupsi dan keikhlasan do’a rakyat agar kebaikan memayungi negeri ini terasa hampa karena sebelumnya undang-undang Negara membolehkan kemaksiatan korupsi dan seabrek kejelekan lainnya.

Untuk itu, jangan apatis dengan pemilu agar muncul pembuat undang-undang yang memiliki moralitas yang handal dan kecakapan intelektual yang memadai. Percayalah (Insya Allah) Indonesia baru bukan hanya mimpi. Wallahua’lam

Selengkapnya...

Selasa, 10 Juni 2008

BBM, Ahmadiyah dan Euro Cup

Sekilas tiga elemen di atas tidak nyambung blas. BBM adalah bahan bakar yang dibutuhkan oleh semua orang. Ahmadiyah, sebuah aliran sempalan Islam yang di negara kelahirannya (Pakistan) justru sebagai agama minoritas (tapi di Indonesia belum jelas, biarpun sudah keluar SKB) dan Euro adalah hajatan besar Sepak Bola Eropa yang digelar tiap empat tahun sekali.

Walaupun berbeda ternyata ketiganya itu bersenyawa dalam melakukan kongsi membuat kebijakan onar dengan menaikan harga BBM secara semena-mena dan mengeluarkan SKB dengan mengambil momen yang sama, Piala Eropa.

Saya yakin (Insya Allah), semua ini by design, bukan natural, mengingat masyarakat kita banyak sekali yang gila bola (termasuk juga para aktivisnya). Dengan memunculkan policy di saat seperti ini, maka secara logika issuenya menjadi lebih kecil dan cepat hilang. Disinilah pintar (baca: liciknya pemerintah)

Rasakan saja, saat ini demo-demo anti kenaikan BBM memang masih ada, namun seolah kehilangan ‘rohnya’. Apalagi media termakan isu pengalihan BBM dan Ahmadiyah dengan berita heboh terkait beberapa kelompok yang menginginkan FPI dibubarkan, dipenjaranya Habib Riziq, larinya (sekarang sudah menyerahkan diri) Munarman dan juga gegap gempitanya Piala Eropa serta seabreg informasi yang semakin mengubur permasalahan aslinya.

Intinya selama ini pemerintah SBY-JK sering bermain kucing-kucingan. Selalu mengawasi dan mencari titik lemah masyarakat untuk memunculkan kabar buruk agar terkesan smooth. Selalu mengintai dan merebut bola agar rakyat menjadi korban dari tumbal kekuasaan mereka.

Jujur, kegeraman saya atas lembek dan ngawurnya kebijakan pemerintah dalam kendali SBY-JK pun mengalami sedikit pengurangan dengan adanya hajatan Piala Eropa. Selain itu saya juga sering dikritik karena mampu bangun untuk nonton bola, tapi lelet untuk qiyamullail.

Ikhwan cap apa? Begitu kata sebagian kawan. Wah ternyata kita (terutama saya) masih harus terus belajar. Belajar sambil terus berusaha. Karena sejatinya perubahan harus diikuti oleh ruhiyah yang prima. Wallahua’lam.

Selengkapnya...

Jumat, 30 Mei 2008

Jangan Cepat Percaya

Seperti biasa, menjelang adanya kabar buruk kenaikan apa saja (contoh di sini: BBM) dapat dipastikan akan beredar isue-isue baru yang mungkin sengaja di design atau sekedar iseng untuk menghilangkan, atau minimal mengaburkan faktor aslinya (baca: kenaikan BBM).

Sebut saja SMS Setan. Kabar burung ini mulai “ngetrend” ketika pemerintah sudah mulai berulah untuk mewacanakan naiknya harga BBM. Saat itu info tidak jelas ini menggelinding bak bola salju, yang semakin lama kian membesar. Hampir di semua surat kabar (biasanya surat kabar ‘kampungan’) memuat rilisnya.

Bahkan terkait dengan SMS Setan, saya mendapat SMS yang cukup panjang dari adik ipar di Pangkal Pinang. Bayangkan, isinya sampai tiga layar menceritakan ketakutannya terhadap dampak isue tersebut. Seperti biasa, saya katakan, haram untuk dipercaya kabar murahan itu.

SMS Setan berlalu, tak lama menyusul penemuan Blue Energy oleh Joko Suprapto, lelaki asal Nganjuk. Saking hebohnya, SBY langsung memboyong sang penemu ke Cikeas. Bahkan tidak itu saja, presiden yang juara menaikan BBM ini juga langsung memberi harapan besar terhadap penemuan ini.

Seperti biasa, ketika masyarakat begitu antusias menyambut kabar gembira ini, saya tetap mengatakan, jangan cepat percaya, nanti malah nambah kecewa. Tak lama, penolakan atas penemuan itu pun bermunculan. Para ilmuan UGM mempertanyakan keilmiahan penemuan Joko itu.

Hari ini, di beberapa media media lokal maupun nasional, juga beberapa situs memuat Ahmad Zaini Suparta yang mengklaim mendapat warisan Rp. 18. ooo triliun. Tidak itu saja, uang sebanyak 20 kali lipat APBN ini membuka diri untuk dipinjamkan kepada siapa pun.

Sekali lagi saya tetap mengatakan, jangan terlalu cepat percaya. Untuk kasus SMS Setan jelas itu wajib tidak dipercaya karena sudah berbau klenik dan bikin gak normal jalan pikirnya. Untuk kasus kedua (baca: blue energy) harus dibuktikan terlebih dahulu keilmiahannya. Terkahir, hebohnya Rp 18.000 T juga harus benar-benar ditelusuri keberadaan lembaran-lembaran kertas bertuliskan angka mata uang tersebut.

Sebagai anak bangsa, saya tetap berharap, penemuan itu adalah dapat dibuktikan secara empiris, dan Rp. 18.000 T itu juga memang nyata keberadaannya. Seandainya tidak terbukti, maka penjara layak menjadi tempat yang pas untuk mereka. Jika benar adanya penghormatan dan do’a kebaikan juga layak diberikan untuk mereka. Objektif kan?

Namun kalau ada berita bahwa SBY-JK telah gagal memimpin Indonesia, maka saya sangat percaya.

Selengkapnya...

Rabu, 14 Mei 2008

BBM Naik, SBY Tamat

Bakal meroketnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi berita menyesakkan dada. Tak pelak, walaupun belum diputuskan (kapan) akan naik, namun yang ada justru beberapa harga kebutuhan masyarakat sudah banyak yang merangkak naik. Rasakan saja, saat ini harga beras, minyak goreng dan tentunya angkutan kota sudah “mencuri start” untuk dilipatkan bahkan sampai 50 persen.

Hal ini menjadi “wajar” (ada tanda kutipnya lho), mengingat kenaikan BBM adalah sumber dari segala kenaikan harga. Wajar karena mereka tidak mau kecolongan dan merugi. Ya, walaupun yang tetap menjadi korban adalah rakyat biasa. Namun sekali itu “wajar” bagi saya.

Yang tidak wajar adalah, dalam kondisi seperti ini, dimana masyarakat sudah sangat susah untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer, pemerintahan SBY-JK justru malah membuat kebijakan keblinger dengan menaikan harga BBM. Anehnya, pemimpin-pemimpin kita dengan enteng mengatakan, “Masyarakat tidak perlu panik dengan kenaikan BBM atau kenaikan BBM justru menguntungkan masyarakat karena mendapat BLT”. Astaghfirullah …. Ya Allah, sadarkan pemimpin-pemimpin kami.

Masalah naiknya harga BBM tidak lepas dari faktor politik. Saya sepakat dengan beberapa pengamat, naiknya BBM adalah cara ampuh untuk menamatkan karir politik SBY. Kita tahu, walaupun senantiasa mengalami penurunan, namun popularitas SBY masih paling digdaya untuk menjadi capres 2009 – 2014 dibanding lainnya.

Biarpun belum ada penelitian, saya optimis harapan masyarakat terhadap SBY (Insya Allah) dipastikan akan sangat jatuh ke titik nadir bagi calon pemilih. Apalagi yang dinaikkan adalah barang yang sangat sensitif mengundang keresahan. Apalagi naiknya menjelang pemilu dan pilpres. Lantas siapa yang menjebak, sudah menjadi rahasia umum, jawabnya adalah JK dan bala kurawanya.

Intinya walaupun SBY dengan gagah mengatakan akan berdosa jika menaikan BBM menunggu pilpres, namun sebenarnya SBY sedang masuk dalam kandang macan. Sebentar lagi kita akan mendengar taring dan kuku-kuku macan tersebut akan merobek dan mengunyah karir politik SBY. Tamatlah riwayat politik SBY. Aum ..... !.

Untuk kali ini saya sependapat dengan Pak Amien, : Jangan pilih SBY-JK lagi!.

Selengkapnya...

Senin, 12 Mei 2008

Ajak Nazla Demo, Siapa Takut

Gelombang penolakan Ahmadiyah akhirnya mampir juga ke Batam. Setelah agak lama umat Islam Batam hanya menjadi penonton atas demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di kota-kota lain, sekali lagi (akhirnya) terpanggil juga untuk menunjukan semangat keberagamaan mereka menjaga nilai kesucian agama yang dibawa oleh Rosulullah ini.

Ratusan orang yang mengatasnamakan dirinya AWAS (Aliansi Waspada Aliran Sesat) ini menuntut kepada pemerintahan SBY – JK untuk segera mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri terkait larangan aktivitas Ahmadiyah secara nasional

Sebagai pribadi muslim yang merasa terinjak oleh pelecehan Ahmadiyah, saya pun terpanggil untuk mengikuti aksi di atas. Bergabung dengan beberapa ormas untuk menyuarakan kesesatan Ahmadiyah. Tidak itu saja, saya sengaja membawa Nazla (tentu juga Uminya) dalam demonstrasi yang sudah lama menjadi dunia yang lama saya tinggalkan.

Kenapa saya ajak Nazla, agar dia tahu sedari kecil bahwa perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Itu langsung dibuktikan dengan Nazla yang dipotong jatah tidur paginya hanya di motor saat menuju lokasi. Selain itu agar Nazla tahu bahwa untuk memeperjuangkan sesuatu kadang diperlukan strategi yang berbeda-beda. Tidak statis. Kadang dengan kelembutan, demonstrasi, bahkan mungkin dengan revolusi.

Secara tidak langsung, saya juga tanamkan ke anak-anak saya, bahwasanya Ahmadiyah bukan sedang melakukan ekpresi kebebasan beragama, namun justru sedang melakukan pelecehan agama (Islam)

Saya bangga sekaligus bersyukur, akhirnya Nazla bisa saya ajak demo. Apalagi, uminya tidak lupa mengikatkan slayer AWAS membuat wajah polosnya berubah menjadi lebih tegas. Tidak seperti SBY, yang katanya tegas, namun nyatanya loyo dan plin-plan

Selengkapnya...

Selasa, 22 April 2008

Petani Dan Ketahanan Pangan

Sepulang dari acara penanaman 1000 pohon yang diadakan PKS dalam rangka Milad ke-10 bersama warga Perumahan Marchelia Batam Centre, pada Ahad (20/1) lalu, tidak biasanya saya ada di depan televisi. Siang itu menjelang sholat dzuhur channel saya parkir di stasiun televisi tertua di Indonesia, siapa lagi kalau bukan TVRI.

Televisi yang dulu berslogan “Menjalin Persatuan Dan Kesatuan” itu mengangkat tema diskusi “Petani dan Ketahanan Pangan”. Sebagai narasumber, hadir saat itu, mantan Cawapres yang sekaligus penasehat HKTI, Siswono Yudho Husodo dan seorang dalang dari Jabar, Kang Ikin.

Yang menarik, ketika masuk dalam kenaikan harga beli gabah dan beras petani, kedua narasumber pendapatnya saling berlawanan. Siswono menganggap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah langkah terbaik, namun persepsi Kang Ikin hal itu justru akan sangat mengganggu masyarakat yang berada di garis kemiskinan untuk mendapatkan beras.

Sekedar informasi, pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah terhadap beras dan gabah petani. Ketentuan ini tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2007 tentang Kebijakan Perberasan, yang menggantikan aturan sebelumnya.

Harga pembelian beras petani naik menjadi Rp 4.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 3.550 per kilogram. Adapun harga pembelian gabah kering giling naik menjadi Rp 2.000 per kilogram dari semula Rp 1.730 per kilogram. (Tempo Interaktif)

Sebagai anak petani, kabar tersebut tentu sangat menggembirakan, karena yang kita ketahui bersama, saat ini harga-harga alat pertanian dan penunjang lainnya, seperti pupuk dan lainnya semakin melangit saja harganya. Yang lebih dikwatirkan adalah para petani nanti bakal mengadakan mogok tanam, jika harga beli pemerintah senantiasa di bawah modal. Dampaknya akan lebih parah, baik secara ekonomi maupun sosial.

Lantas, bagaimana solusi yang dikelauhkan oleh Kang Ikin adalah dengan memberikan beras bersubsidi (raskin-red) yang tepat sasaran. Ingat T E P A T S A S A R A N.

Menteri Perdagangan, Marie Elka Pengestu mewacanakan surplus beras Indonesia saat ini di ekspor saja adalah ide ngawur yang grusa-grusu. Saya sependapat dengan Menteri Pertanian, Anton Apriantono dan juga Siswono yang memberi solusi untuk tidak di ekspor, namun di beli oleh bulog agar suatu ketika paceklik, masyarakat tidak terlalu kelaparan karena harga berasnya mahal karena bulognya hobi mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Semoga ketua Bulog sekarang tidak seperti itu. Jangan tiru pendahulunya yang meringkuk di penjara karena kasus korupsi. Wallahua’lam.

Selengkapnya...

Jumat, 18 April 2008

Bersinergi Menyulam Bahtera

Masih segar dalam ingatan, bagaimana awal mula proses pernikahan kami. “Hanya” berbekal dengan selembar biodata, akhirnya Allah mempertemukan dua hati yang saling berserakan. Pernikahannya pun dilangsungkan sesederhana prosesnya. Tidak ada iringan band atau organ tunggal. Tidak ada siraman, memecah telur dan seabrek tetek bengek yang melelahkan.

Sekali lagi, yang ada adalah kesederhanaan. Pernikahan pun dilakukan bukan di hotel, namun di salah satu Masjid yang ada di kawasan industri Batamindo. Masjid Nurul Iman namanya. Undangan pun tidak ribuan, cuma seratusan. Namun yang hadir Insya Allah orang-orang yang sholeh dari kalangan bawah dan atas. Dari yang belum kerja, habis kena PHK sampai aleg DPRD dan Wawako, Ria Saptarika.

Tak terasa, usia pernikahan kami saat ini sudah melewati tahun kedua. Tepatnya dari 10 April 2006 – 10 April 2008. Apakah mungkin karena diisi oleh kenikmatan-kenikmatan? Semoga saja begitu.

Nazla Rizka Ahsani dan Aghniya Salsabila adalah bukti kekayaan terbesar kami. Hadirnya dua bidadari itu membuat kami semakin tahu akan arti kehidupan. Membuat kami semakin malu pada orang tua, bagaimana mereka dahulu mendidik kami. Terutama saya pribadi.

mencoba membayangkan, mungkin saya lebih nakal dari anak-anak kami, karena saya adalah laki-laki.Apalagi di zaman saya kecil belum ada pempers. Untuk mandi, mencuci dan sesuatu pekerjaan yang menggunakan air, harus nimba di sumur terlebih dahulu. Ditambah, saya adalah keluarga dengan tujuh saudara yang jarak umurnya relatif dekat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika tiga anak saja diantara kami nangis secara bersamaan. Subhanallah. Terimakasih Bapak, terimakasih Ibu.

Alhamdulillah dalam mengarungi bahtera dua tahun, tidak ditemukan adanya piring terbang akibat kemarahan tak terkendali. Tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulut yang telah menelan prilaku setan. Tidak ada istilah ringan tangan buat nabok orang.

Namun bukan berarti keluarga kami luput dari permasalahan. Keluarga sekelas Rasulullah pun pernah dirundung problema, apalagi kami?. Permasalahan tetap ada, namun alhamdulillah justru membuat kami semakin dewasa dalam bersikap. Justru menambah kecintaan dan kemesraan. Jazakillah my beloved wife.

Do’akan kami agar mampu terus menyulam kebaikan. Karena efek kemanfaatan akan dapat dirasakan lebih besar apabila di komunitas terkecilnya (keluarga) mampu menghadirkan kehangatan, kelembutan dan jutaan kenikmatan yang Allah suguhkan setiap saat. Insya Allah. Wallahua’lam.

Selengkapnya...

Selasa, 01 April 2008

Konversi MT Ke G, Bener Tuh?

Untuk membuka postingan di bulan April, saya sengaja tidak mengupas tentang April Mop, karena selain tidak islami tur tidak membumi. Juga sebagian pengunjung blog ini sudah terlalu cerdas untuk memahami sesuatu yang berkaitan dengan budaya yang gak jelas itu.

Postingan kali ini tentang konversi minyak tanah ke gas yang masih saja menuai kontroversi. Saya adalah bagian warga negara yang tidak setuju apabila program di atas dipercepat implementasinya dari 6 tahun menjadi 4 tahun saja. Sehingga secara otomatis, tahun 2011 nanti seluruh rumah tangga sudah melakukan penggantian bahan bakar (fuel switching) terutama dari minyak tanah ke gas elpiji.

Ketidak setujuan saya terhadapa transisi energi ini pun tidak datang begitu saja, namun berdasarkan realita masyarakat (terutama) perekonomiannya semakin “senin-kamis”. Untuk menyelami lebih dalam, saya punya cerita nyata.

Persis Senin menjelang maghrib kemarin (31/3), istri saya cerita kalau gas habis. Ba’da isya saya memesan gas via handphone. Seperti biasa harga (alhamdulillah) belum naik, masih Rp. 75.000;- (NB: bukan Pertamina). Namun ketika selang dimasukan ternyata kepala selang ada masalah. Dan sampai pagi kami tidak bisa menghidupkan kompor.

Karena agar dapur benar-benar bisa ngebul, paginya (hari ini) setelah antar istri kerja, saya langsung beli kepala selang. Saya terkaget-kaget ternyata untuk sebuah kepala selang harganya sampai Rp. 50.000;-. Memang ada sih yang lebih murah, tapi kualitasnya tanda tanya.

Saya langsung connect, bagaimana jika konversi minyak ke gas benar-benar diwujudkan secara nasional- sekedar informasi aksi bagi-bagi tabung gas belum menular ke Batam- Saya khawatir justru sebagian besar masyarakat akan menderita penyakit busung lapar karena tidak kuat membeli gas. Bayangkan saja, untuk kepala selangnya saja 50 ribu!. Saya juga khawatir jangan-jangan tabung gas yang sudah dibagi-bagikan pemerintah kelak masyarakat akan beramai-ramai menjual kompor dan tabung gas yang telah dibagi untuk membeli makanan.

Pemerintah memiliki argumen yang mendukung program konversi ke elpiji. Bagi pemerinyah, langkah ini dapat menghemat subsidi bahan bakar minyak senilai Rp. 22 triliun per tahun, perusahaan lama dan baru (terkait elpiji) akan berkembang, sedangkan tiap kepala keluarga bisa menghemat belanja senilai Rp20.000 hingga Rp25.000 per bulan (Antara).

Tetapi logika penghematan ini agak sulit dipahami. Kenyataannya masyarakat masih rela antri berjam-jam “hanya” untuk mendapatkan lima liter. Bagi mereka kenaikan harga minyak tanah dari waktu ke waktu (walaupun masih disubsidi) sangat memberatkan mereka. Apalagi jika harus dipunahkan subsidinya? Ringkasnya, masyarakat sangat sensitif terhadap harga sebab penghasilan mereka seringkali tak menentu. Wallahua’lam

Selengkapnya...

Jumat, 28 Maret 2008

Himbauan Gubernur Salah Alamat

HIMBAUAN GUBERNUR KEPRI

KEPADA SELURUH MASYARAKAT PROVINSI KEPRI DIHIMBAU UNTUK MENDUKUNG GABRIEL (WAKIL PROVINSI KEPRI) DALAM AJANG IDOLA CILIK (IDOLA SEMUA IDOLA) TINGKAT NASIONAL DI JAKARTA MINGGU, 30 MARET 2008

Kirim SMS Anda Sebanyak Mungkin
Dengan cara ketik …. (gak boleh ngiklan gratis di sini)

Himbauan di atas terdapat di dua koran terpopuler di Batam. Tidak itu saja di bawahnya juga disertakan nama Gubernur dan Wagub serta Sekda Provinsi Kepri dan spacenya ¼ halaman pula. Yang menarik iklan tersebut tidak cuma bertengger sehari, bahkan sampai saat ini, Jum’at (28/3) adalah sudah hari ketiga.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan isi iklan tersebut, jika yang mengiklankan itu orang tua, kerabat atau apanya si Gabriel. Namun apabila iklan itu dibiayai oleh Pemprov Kepri, hal itu menjadi sesuatu kenyataan yang sangat-sangat salah alamat (walaupun dalihnya atas nama pengharuman nama Kepri). Apa pasal?

Manfaat dari acara tersebut hanya mampu berdiri pada sisi hiburan an sich. Tidak lebih!. Apalagi mereka (yang katanya bintang cilik) dipaksa untuk menjadi dewasa dengan pakaian, lagu dan gaya bicara serta seabrek lainnya.

Kondisi sosial ekonomi warga Kepri yang kian merosot dapat menjadi salah satu alasan. Pengangguran bertambah. Kriminalitas meningkat. Apalagi diperparah dengan begitu mahalnya barang-barang kebutuhan pokok yang sangat mencekik. Beras mahal, minyak goreng lebih lagi. Sudah tahu miskin, dihimbau kirim SMS pula.

Bahkan sekarang banyak tempat di Batam, warganya sudah mulai disibukkan dengan rutinitas mengantri untuk ‘sekedar’ mendapat lima liter minyak tanah. Keadaan nyata ini belum pernah saya membaca di iklan surat kabar jika Gubernur memberikan himbauan kepada pemilik pangkalan dan pihak-pihak terkait untuk memberikan kemudahan kepada warga. Atau minimal memberikan ‘ancaman’ kepada para penimbun dan para begundal lainnya pun tidak pernah ada.

Alangkah bijaknya apabila mulai saat ini, kebanggan pemerintah menyertakan warganya diajang Idola Cilik, Miss Indonesia dan lainnya itu diganti dengan kebanggaan mengirimkan putra terbaiknya untuk mendapatkan jenjang pendidikan yang jelas akan mampu memberikan pencerahan bagi daerahnya. Baik keilmuan agama, eksakta dan non eksakta. Baik di Universitas lokal maupun luar negeri

Apa jadinya jika anak-anak sekarang berpakaian sexi, melengkak-lenggok dan bernyanyi dengan lagu 17 tahun plus. Kira-kira model yang beginikah yang akan memberikan perubahan bagi Indonesia masa depan?

Selengkapnya...

Selasa, 25 Maret 2008

Mertua Datang

Ahad kemarin, rumah kami kedatangan tamu besar. Tamu itu bukan tokoh lokal atau nasional. Tamu besar itu adalah mertua saya yang datang jauh-jauh dari Pangkal Pinang, Bangka dengan satu diantara banyak tujuan, melihat cucu mereka (Nazla dan Aghniya Salsabila).

Dengan menggunakan pesawat paling sore, Ayah dan Mama (demikian kami panggil) tiba di rumah sekitar pukul 20:00. Wajah-wajah tua dan guratan kelelahan seketika langsung sirna manakala mereka melihat Nazla dan Aghniya yang digendong istri saya.

Meski sangat paham anak kedua saya tidak memahami pernyataan mereka, namun naluri kasih sayang kakek-neneknya tidak mempedulikannya. mereka 'cuek' dan langsung beraksi. “Ini Mbah .... ini Mbah ...”, demikian kalimat pertama yang diucapkan mertua saya ketika melihat Aghniya seraya menggendongnya. Karena kalah cepat sang nenek pun akhirnya mencari Nazla, tanpa basi-basi Nazla pun langsung digendong, dicium. Wis pokoknya rame lah. just info, Ayah baru melihat Nazla dan Aghniya, sedang Mama baru lihat Nazla.

Rencananya, mertua saya akan tinggal di Batam sekitar setengah bulan, karena (khusushon) Mama akan mentraining pengasuh anak-anak saya yang juga baru datang jauh dari Magelang, karena jatah cuti istri saya sudah habis. My beloved wife harus berhadapan dengan barang bisu berupa mesin kembali di sebuah perusahaan asing bergerak di bidang elektronik yang ada di kawasan Batamindo

Cukup dengan waktu sehari, Ayah mengetahui kekurangan saya. Bukan tidak hormat, bukan pula suka marahin anaknya (istri saya) dan trade mark buruk lainnya. Kelemahan itu ialah saya tidak bisa (baca: tidak berani) dengan sesuatu yang berbau listrik. Sekedar informasi, lampu lantai II yang ada di luar sudah konslet dua mingguan. Karena gak berani saya biarin begitu saja. Dengan berharap agar mertua saya tidak mengetahuinya

Sehebat-hebatnya Tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitupun ‘rahasia’ itu pun akhirnya terbongkar. Awalnya karena Ayah ingin menatap veiw indah di malam hari di lantai II, namun berhubung gelap, tanpa ba-bi-bu langsung mencari saklar, memencet dan pet. Mati lampu. Saya pun akhirnya terus terang kalau jaringan di atas ada masalah.

Orang jujur memang beruntung. Tak lama Ayah komentar, biar nanti siang Ayah betulin (wah tega ya, datang jauh-jauh kok malah betulin listrik). Tidak itu saja, Ayah juga masang fun gantung di kamar. Padahal tuh kipas sudah saya beli dari dulu, karena malas belum sempat dipasang juga. Makasih Ayah .... Makasih Mama ... Duh asyiknya mertua datang. (He ... he .... he .... )

Selengkapnya...

Sabtu, 22 Maret 2008

Aku Sedih ....

Sebagai orang Batam yang setiap hari Insya Allah baca koran (Al Qur’an juga dong) saya merasakan ada berita yang awalnya sangat menarik untuk diikuti namun lama-kelamaan kok justru memuakan (maaf berat lho). Berita itu adalah yang terkait dengan hajatan (Kongres PMII) yang digelar di Batam.

Menarik karena ketika acara baru dibuka oleh Abu Rizal Bakri, utusan dari Jawa Timur melakukan aksi demonstrasi yang mengingatkan kita semua bahwa kader Partai Golkar tersebut harus bertanggung jawab atas kasus lumpur lapindo. Yang lebih menarik, orang terkaya di Indoneisa tersebut sampai-sampai gugup dalam memberikan sambutan karena selalu “dikotori” dengan suara lantang dari utusan lainnya berupa kalimat “Lapindo ... Lapindo ...”

Jujur, adanya aksi menarik tersebut membuat saya dengan ikhlas mengatakan kepada sahabat-sahabat diskusi saya bahwa PMII telah melakukan permainan yang cantik. Sangat cantik malah. Bagaimana tidak, saat itu pagi harinya menjadi head line yang (mungkin) membuat malu dan jengkel Ical.

Namun, pasca aksi cantik itu, lambat laun yang terdengar dari kongres PMII adalah berita miring tentang jalannya acara yang menyedot uang yang besar itu. Judul-judul di halaman depan koran pertama, terdepan dan terpercaya saja menggambarkan suasana yang cukup ‘mengerikan’. Batam Pos, 21 Maret mengambil judul “Kongres PMII di Batam Ricuh”. Koran yang sama pada Sabtu (22/3) tertulis “Kongres PMII Memanas”.

Berita tersebut terbaca peserta Kongres saling berebut pengeras suara. Maju ke depan ke pimpinan sidang dan dengan lantang mereka (banyak kan?) menyuarakan pendapat masing-masing. Bahkan nyaris adu jotos. Hal di atas membuat saya miris. Begitu yang harus dilakukan sekolompok Mahasiswa untuk menyelesaikan masalah. Apalagi menggunakan istilah pergerakan di depan namanya.

Maaf gak bisa nerusin lagi, sedih rasanya saya sebagai orang islam melihat mahasiswa islamnya masih seperti anak-anak. Mahasiswa yang katanya mencerahkan haruskah memberi tontonan yang tidak sehat dan membahayakan?. Semoga kejadian memuakan ini menjadi kenyataan pahit terakhir bagi PMII. Dan bagi kelompok mahasiwa lainnya (apapun namanya) untuk tidak mengikutinya. Berbeda adalah suatu keniscayaan, namun berbuat ricuh, rusuh dan anarki adalah tindakan bodoh yang tidak bisa didiamkan. Semoga menjadi pelajaran. Wallahua’lam.

Selengkapnya...

Rabu, 19 Maret 2008

Tragedi Koran Pagi dan Nazla

Pagi itu saya tidak ngantor (biar keren) karena dua hari full saya mengikuti acara serombongan tokoh nasional dari Jakarta dalam rangka konsolidasi partai yang diberi judul “Safari Dakwah”. Kami berkeliling tiga kota di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dalam dua hari dengan agenda yang super padat.

Karena tidak langganan koran, hari itu sengaja saya berhasrat untuk keluar mencarinya di toko dekat rumah. Apalagi saya penasaran di halaman berapa berita kami dimunculkan. Namun karena istri masih sibuk menangani dua buah hati kami (Nazla dan Aghniya), saya pun ikut berpartisipasi menangani Nazla yang sekarang sudah menjadi langganan.

Akhirnya menjelang dzuhur saya dapat menyalurkan keinginan yang sedari malam sudah direncanakan. Tanpa membuang waktu saya izin ke istri untuk meluncur membeli koran

Pas nyampe rumah langsung dibuka. Tak lama intelektual kecil kami (Nazla) ikut nimbrung buka-buka surat kabar yang memang sudah menjadi kebiasaannya setiap kali kami membaca apa saja.

Untuk menghindari ‘insiden’ yang tidak diinginkan, bagi waris koran pun menjadi solusinya. Saya dapat bagian halaman nasional dan ekonomi dan bisnis, Nazla kebagian metropolis dan pro kepri. Sebenarnya yang paling saya sukai dari Batam Pos adalah berita nasional dan metropolis (berita ke-Batam-an).Tidak tahu kenapa kok saya serahkan metropolis kepadan bidadari saya (mungkin lagi asyik baca berita nasional kali yang waktu itu mbahas Pak Tif)

Saya perhatikan kok tumben dia tidak merebut bagian yang saya baca. Iseng saya cek, eh ternyata koran tersebut sudah basah kuyup terkenan pipis. Oh jadi dia agak kalem karena lagi menikmati pipisnya, langsung saya membatin.

Langsung saya angkat menuju ke kamar mandi. Bersih-bersih. Kemudian saya pel dan terakhir saya jemur tuh koran. Karena alhamdulillah siang itu Batam puanase puol, tak lama pun kering. Karena masih penasaran saya ambil dan baca lagi. Biar masih ada bau “wangi” sedikit yang penting informasinya bung.

Selengkapnya...

Selasa, 18 Maret 2008

Lagi, Tentang Syarat Presiden

Pemilihan presiden memang masih satu tahun lebih, namun saat ini parlemen sedang menggodok ketentuan dan syarat yang terkait dengan pemimpin negara yang tidak pernah basi dibahas ini.

Setelah Golkar dan PDIP ‘show of force’ dengan mengajukan syarat 30 persen yang belum gool, saat ini yang sedang menjadi perbincangan hangat berkaitan dengan syarat capres yang harus berpendidikan minimal sarjana. Ada juga salah satu fraksi (F-PKS-red) yang mengusulkan umur capres tidak lebih dari 60 tahun.

Walaupun syarat pendidikan S1 adalah cerita lama, namun masih saja memiliki daya gertak yang lumayan ampuh. Buktinya, Ketum PDIP, Megawati langsung berteriak lantang menolaknya. Tidak itu saja, mantan Presiden ini juga dihadapan pengurus sayap organisasi barunya (Baitul Muslimin-red) mengatakan bahwa untuk menjadi nabi tidak perlu harus berpendidikan sarjana.

Karuan saja, statement istri Taufik Kiemas ini menuai banyak kecaman dari berbagai pihak. Sedikitnya dua petinggi partai memberikan kritik keras terhadap pernyataan Megawati tersebut. Sebut saja Nizar Dahlan. Ketua DPP PBB mengatakan perbandingan presiden dengan Nabi sama saja mengecilkan peran dan fungsi Nabi sebagai pembawa risalah yang diutus oleh Allah.

Bahkan, Roy BB Janis mantan orang dekatnya yang saat ini sebagai Ketua PDP pun mengecamnya. Menurutnya statement Megawati itu tidak relevan dan blunder. Dia mengajarkan seharusnya yang dicontohkan Megawati adalah Soekarno-Hatta, bukan Nabi, karena Nabi itu pilihan Tuhan.

Soal syarat capres maksimal berumur 60 tahun pun kian ramai dibicarakan di tingkat elit partai. Pada acara Demo Crazy yang digelar Metro TV, Agun Ginanjar, anggota Fraksi Golkar secara tegas menyatakan fraksinya menolak tawaran tersebut. Menurutnya aturan tersebut menghambat warga negara untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Sedang Mustafa Kamal, anggota F-PKS beralasan pemimpin negara berada dalam posisi yang strategis, untuk itu haruslah diberikan kriteria yang seideal mungkin karena menyangkut masyarakat banyak, termasuk tentang kriteria sarjana dan umur capres yang dibatasi.

Fenomena tarik-menarik di atas adalah suatu kenyataan. Terserah, mana yang lebih benar dan memperjuangkan untuk kepentingan rakyat adalah hak anda untuk memutuskan. Yang terpenting kita doakan semoga Indonesia kita benar-benar menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Wallahua’lam

Selengkapnya...

Selasa, 11 Maret 2008

Jangan Pilih Mereka!

Beberapa hari lalu kita mendengar berita sumbang adanya perselingkuhan politik di senayan. Dimana sembilan parpol yang tidak lolos electoral threshold (ET) namun memiliki kursi di DPR mendapat bonus freepass untuk dapat bertarung di pemilu 2009 tanpa harus cape-cape mengikuti proses verifikasi di Depkumham.

Sepertinya publik sebentar lagi akan mendengar berita yang tidak kalah “gilanya”. Yaitu mengenai kekeukeuhan dua parpol besar yang sudah mensosialisasikan konsep UU Pilpres dengan syarat minimal pengajuan adalah 30 persen dari kursi DPR yang dimiliki.

Sebenarnya konsep di atas diajukan pertama kali oleh Partai Golkar (PG), namun (karena merasa sama-sama superior) akhirnya diamini oleh seteru politiknya (PDIP) yang saat ini memang sudah sering bergandengan tangan dan “bermesra-mesraan”.

Fenomena di atas adalah potret buruk perpolitikan yang dapat dilihat secara kasat mata. Partai-partai besar (PG dan PDIP) hampir tidak akan pernah “berdarah-darah” jika yang dirumuskan adalah masalah yang terkait dengan sosial dan kemasyarakatan. Lumpur lapindo misalnya. Namun untuk masalah perubahan sistem pemilu dan syarat pencalonan presiden 30 persen mereka paling getol memperjuangkannya, karena satu tujuan: keuntungan politik.

Melalui anggota Pansus RUU Pilpres dari Fraksi PG, Ferry Mursyidan Baldan, PG beralasan syarat dukungan pencalonan presiden 30 persen adalah agar terbentuk koalisi permanen selama satu periode pemerintahan.

Apapun alasannya, PG dan PDID tetaplah yang paling diuntungkan. Logikanya jika PG mendapat 20 persen, Partai Demokrat (PD) 8 persen dan PAN 6 persen, kemudian berkoalisi, mungkinkah yang akan dicalonkan presiden itu adalah kader PD atan PAN? Begitu juga dengan PDIP. Apakah partai yang mengaku paling nasionalis itu akan rela jika Mbak Mega hanya dijadikan wakil presiden padahal mengantongi suara yang paling banyak?

Padahal apa yang diharapkan rakyat itu seringkali tidak kompak dengan kepentingan parpol. Lihat saja SBY-JK, walaupun diusung oleh partai-partai kecil akhirnya toh mereka menang juga. Dan PG buru-buru mengaku menjadi partai pendukung mereka (tentunya setelah JK duduk sebagai ketua umum PG)

Hal ini terbukti bahwa, Partai Golkar dan PDIP khususnya adalah partai yang sangat–sangat pragmatis, culas dan tidak peduli dengan kepentingan rakyat. Reformasi di tubuh Partai Golkar yang senantiasa dijadikan jualan dan slogan sebagai partai wong cilik bagi PDIP adalah omong kosong. Jadi jangan pilih mereka di pemilu 2009, titik!.

Wallahua'lam

Selengkapnya...

Selasa, 04 Maret 2008

Imunisasi

Tiba-tiba menjelang tidur, Umi Nazla (istri saya) bertanya “Mas, di koran ada berita tentang imunisasi seperti apa sih?”. Saya langsung menaruh curiga, jangan-jangan my beloved wife itu dapat berita ‘miring’ tentang imunisasi. Mirip pak polisi saya menginterogasi

“Emang dapat informasi seperti apa mi?” “Nggak, makanya di koran ada berita apa tentang imunisasi?”, sergah istri saya tak kalah hebat. Dengan percaya diri saya memberikan keterangan bahwa beberapa hari yang lalu di Batam Pos ditulis bahwa bayi yang baru lahir supaya jangan terlalu lama untuk diimunisasi DBT (kalo tidak salah_habis korannya dicari gak ketemu-ketemu sih). Dan bla ... bla ... bla ....

“Ada apa emang mi?, saya mengulang pertanyaan awal. “Tadi teman telpon, katanya lagi bingung anaknya yang seumuran Aghniya (baru satu bulan) mau diimunisasi atau tidak, karena dia dapat info jika imunisasi itu berbahaya dan bla … bla … bla ….

Berlagak sok bijak, saya katakan pro dan kontra, positif dan negatif terkait imunisasi itu pasti ada. Bahaya imunisasi itu mungkin ada karena ada beberapa kasus yang memang santer diberitakan. Namun manfaatnya juga ada kan? Buktinya (alhamdulillah) Nazla sehat, sudah bisa jalan dll. “Iya mas, saya juga kadang bingung, tidak dimunisasi dengar kabar campak, diimunisasi dapat berita bahaya”, gerutu istri saya.

Kesimpulan saya kepada istri adalah, bagi orang yang kontra dan mengatakan imunisasi itu berbahaya seharusnya juga menyertakan solusinya, jangan sekedar mengatakan itu berbahaya tapi tidak memberikan alternatif. Diperparah kadang orang yang mengatakan miring terkait imunisasi data-datanya kurang lengkap dan tidak valid tur yang ngomong itu (maaf) kurang capable secara ilmu kedokteran.

Namun, sudah menjadi rahasia umum jika sekarang banyak terjadi mal praktek. Jadi bingungkan?

Beberapa bulan lalu saya bersama beberapa pengurus partai dakwah bersilaturahim ke rumah Ketua MUI Batam, KH. Usman Ahmad. Selain berdiskusi tentang keIslaman, keIndonesiaan dan keBataman, kami juga sempat diberikan wejangan berupa bahaya imunisasi. Pak Kyai mengatakan kandungan imunisasi itu bisa merusak otak dan bahaya-bahaya lainnya.

Namun disisi lain, saya pernah mendengar pernyataan mantan Ketua DPW PKS Kepri yang nota bene seorang dokter. Beliau mengatakan semua informasi tentang imunisasi yang miring itu kurang benar. Dan ini masih hangat sebelum diposting saya sempat bertanya kepada kepada salah seorang Ustadz bergelar ‘Lc” yang mampir ke ruang kerja saya mengatakan “Imunisasi syubhatnya banyak”.

Keterangan di atas hanyalah sumber tiga orang dari ribuan orang yang pro dan kontra tentang imunisasi. Ketika mencoba cari beberapa blog juga hasilnya sama: pro dan kontra. Anda yang pro apa yang kontra hayoo?

Selengkapnya...

Jumat, 29 Februari 2008

Berdiri Dimana Ilmu Kita?

Membaca buku salah satu refleksi arkan al ‘asyarah “Untukmu Kader Dakwah” karangan Ustadz Rahmat Abdullah dalam bab Al Fahmu, jawaban itu sedikit demi sedikit mulai terkuak. Buku yang sudah lama saya miliki ini memang luar biasa. Entah kenapa saya tidak pernah bosan untuk membaca dan mengulangnya. Mungkin isinya, mungkin gaya bahasanya atau mungkin penulisnya yang menggunakan pena mata hati? Jawabnya mungkin bisa semuanya.

Jawaban diatas adalah tentang pertanyaan apa kerja orang-orang terpelajar sehingga Indonesi terus begini? Kita tahu sudah ada puluhan juta sarjana dicetak di negeri ini. Pemegang gelar Master dan Philosophy of Doctoral di belakang nama-nama mereka jumlahnya sudah jutaan.

Akibat ilmu sekedar untuk kesombongan adalah salah satu penyebabnya. Di sana diceritakan bagaimana Bal’am begitu sombong dengan keilmuannya. Kedua, musuh ilmu (biasanya) adalah kekuasaan. Sebagaimana Bal’am yang akhirnya mencla-mencle atas pengaruh kekuasaan. Ketiga, ilmu sekedar dijadikan flash disk atau museum yang sifatnya hanya mampu menyimpan.

Inilah yang digugat oleh Muhammad Yunus, seorang dosen ekonomi Universitas Chittagong. Seorang penerima hadiah nobel perdamaian 2006 yang muak dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dan diajarkan karena dinilainya tidak membumi. Dengan bendera Grameen Bank ia melakukan hal yang “kontroversial”, yakni bergumul dan berguru kepada orang miskin kemudian memberikan kepercayaan yang luar biasa kepada mereka untuk diberi kredit mikro. Salah satu kepercayaan yang jarang terjadi bahkan sampai kini di bumi Indonesia yang katanya memegang sistem ekonomi kerakyatan.

Sehingga dalam bukunya dengan tulus ia berbagi kepada kita “Apa hebatnya teori-teori rumit itu manakala orang-orang tengah sekarat kelaparan di trotoar dan emperan seberang ruang kuliah tempat saya mengajar? Kuliah-kuliah saya menjadi seperti film-film Amerika di mana orang baik selalu menang. Tetapi begitu saya keluar dari kenyamanan ruang kelas, saya dihadapkan pada realitas yang berlangsung di jalanan kota. Di sini orang-orang baik dihajar dan terhempas tanpa ampun. Kehidupan sehari-hari semakin memburuk dan yang miskin jadi bertambah miskin” (Muhammad Yunus: Bank Kaum Miskin: 3: 2007)

Apa kabar ilmu kita, apakah kapasitasnya baru sebatas untuk kesombongan, atau mungkin intelektualitas kita takluk oleh pengaruh kekuasaan atau hanya sekedar museum? Semoga tidak. Wallahua'lam

Selengkapnya...

Kamis, 28 Februari 2008

Berubahlah Paradigma

Politik memang bikin gregetan. Berita kemarin yang muncul adalah beberapa partai yang tergerus aturan electoral threshold (ET) tiga persen dan partai baru tergopoh-gopoh mendaftarkan diri ke Depkumham, eh nyatanya semalam mereka (yang sudah punya wakil di DPR) beruntung karena masih bisa ikut tanpa mengikuti verifikasi.

Lobi pembahasan RUU Politik partai antara fraksi-fraksi DPR dan pemerintah memutuskan partai yang gagal mencapai electoral threshold (ET) tiga persen, tapi punya wakil di DPR tak perlu merombak diri agar bisa ikut verifikasi pemilu 2009. Karena itu praktis sembilan parpol mendapat freepass.

Logikanya, dengan kekuatan apa mereka bisa menjungkir balikan keadaan? Kursi mereka minim, pemilih tidak loyal ditambah kualitas SDM yang segitu-segitu aja. Dana juga tidak besar-besar amat. Lantas, kartu truf apa yang mereka pegang? Signal di atas menandakan pertarungan di senayan memang dahsyat.

Diperparah sebagian besar politisi berfilosofi burung. Mereka cuek melihat permasalahan masyarakat karena melihat dari jarak yang jauh. Mereka mau turun jika ada makanan berupa reses, musrenbang dan lainnya. Itu pertanda bahwa kita (masyarakat) tidak boleh apatis dengan politik dan aktivitasnya. Itu adalah sebuah tanda jika kita harus mencetak orang baik dan capable di parlemen

Jejak-jejak perpolitikan Indonesia meninggalkan dua lembaran yang kontradiktif dan vis a vis, yakni kebaikan dan keburukan. Namun karena masyarakat gampang tergoda rayuan (baca: pragmatis) dalam menentukan pilihan politiknya, pemandangan politik yang sering ditunjukan adalah catatan buram.

Akibat persoalan pragmatis di atas, itulah yang memiliki andil yang besar dalam men-setting prilaku politik di negeri ini. Paradigma masyarakat dalam menterjemahkan makna politik (baca: pemilu) hanyalah salah satu ajang bagi-bagi duit, bahkan sekedar bagi-bagi kaos (tipis lagi!)

mumpung pemilu masih setahun lagi, belajarlah menjadi pemilih yang cerdas karena kenyataannya hanya dengan cara ini perubahan dapat berlangsung secara konstitusional di negeri ini. Jangan apatis, harapan masih ada. Wallahua’lam

Selengkapnya...

Selasa, 26 Februari 2008

Ngeri!

Masyarakat Indonesia hampir saja mati rasa. Tiap hari selalu diberitakan tentang kekerasan. Di televisi, media massa sampai dunia maya. Parahnya kekerasan menyerang tanpa memandang ‘segmentasi pasar’. Pemimpin, rakyat, orang tua, mahasiswa, pelajar sampai anak-anak. Pertunjukan yang tidak terbatas membuat kekerasan menjadi produk yang dipakai secara kolektif.

Ada apa dengan negeri ini? Padahal dahulu Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah, senang menolong, sabar,, nrimo dan pemaaf. Intinya ruh masyarakat kita adalah anti kekerasan. Namun kesantunan itu lenyap dalam sekejap. Kekerasan menjadi alat ampuh untuk menyelesaikan permasalahan. Kekerasan telah menjadi dunia yang biasa di tengah-tengah kehidupan kita.

Percaya atau tidak sebenarnya budaya kekerasan sudah menjelma sekian lama. Pra kemerdekaan penjajah Belanda, Jepang dan lainnya telah melakukan acting bagaimana kekerasan dipraktekan. Ada adu domba sampai kerja paksa. (Mungkin) inilah awal goresan kelam kekerasan terstruktur di Indonesia.

Era Orde Lama, Soekarno mempunyai ‘hobi’ memenjarakan musuh politik. Sikap ‘sok nasionalis’-nya kadang membuat blunder. HAMKA dipenjara dengan alasan mau menjual negara (namun) tak pernah terbukti. Apalagi orde baru. Zaman ini adalah kekerasan memiliki tempat tersendiri karena mampu dikendalikan dengan ‘cerdas’ oleh sang diktator sejati.

Wilayah agama diwakilkan oleh tragedi berdarah Tanjung Priok. Solusi pemberontakan dengan cara membentuk Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, ‘almarhum’ Timor Timur dan lainnya. Belum lagi ada penembak misterius (Petrus) yang bergentayangang di tiap-tiap daerah, tak terkecuali di desa terpencil.

Imbasnya, setelah kekerasan terstruktur telah sukses tertransfer pada “mata kuliah” kekerasan kepada masyarakat. kini sudah siap untuk dipraktekan. Ibarat bola salju, kekerasan ini sudah menumpuk menjadi besar dan akan senantiasa menggelinding membesar dan terus membesar menebarkan ancaman yang dahsyat.

Ibarat bom waktu, dipancing permasalahan ekonomi, sosial, HAM dan sebagainya bom itu sudah masanya untuk diledakan. Sehingga sekarang kita tidak asing mendengar suami asal main tampar, tendang dan bunuh. Masyarakat suka main bakar angkutan kota karena supir lalai atau para penumpang dikecewakan. Rumah di bakar (padahal) baru terindikasi adanya praktek amoral. Ih Ngeri!.

Kemana hilangnya kesantunan, keramahan, klarifikasi (tabayyun) dan musyawarah? Yang pasti ini adalah kesalahan jama’ah. Kesalahan kolektif. Kesalahan pemimpin. Kesalahan rakyat. Kesalahan kita bersama. Wallahua’lam

Selengkapnya...