Ada yang menggelikan ketika membaca berita di sebuah harian lokal Tribun Batam kemarin. Yang bikin geli bukan judulnya. Bukan pula penulisan beritanya, tapi pengakuan si tersangka, Mardi Hartono (MH) yang menghamili pacarnya (Kr) padahal sudah memiliki istri dan sedang mengandung pula.
Kepada pihak Poltabes Barelang, MH bercerita bahwa hubungan cintanya sudah berjalan empat bulan. Apa motif MH menghamili Kr? Inilah yang membuat geli, “Karena terlanjur menyukai dan mencintai pacarnya tersebut”. Aneh
Dulu, ketika masih mahasiswa saya sering diberondong pertanyaan oleh teman-teman kampus yang cewek tentunya. Sekarang, setelah sudah menikah pernah beberapa ibu-ibu bertanya dengan kesimpulan yang sama, “Laki-laki adalah buaya darat”. Saya menangkap pertanyaan tersebut adalah ekspresi kekecewaan yang berlebihan. Biasalah wanita.
Mendapat pertanyaan di atas, saya sangat mudah menjawabnya. Pertama, tidak semua laki-laki itu buaya. Buktinya, Rosulullah. Walaupun menikah lebih dari satu kali namun tidak ada yang menyebutnya buaya (kecuali orang yang sirik).
Kedua, jika memang laki-laki (ada) yang buaya (Ya Allah, jauhkanlah kami dari lelaki model seperti ini), kenapa wanita justru tidak memasang kuda-kuda, tapi malah senang bila didekatinya?. Prediksi saya, dari sekian banyak tindakan pelecahan itu disebabkan karena wanita memasang “perangkap”. Baik sengaja maupun tidak, baik sadar ataupun nggak. Apa perangkapnya? Bisa tank top, terlalu kemayu dan seabrek lainnya.
Pernah saya katakan pada istri, “Mi, orang yang paling rugi dan patut disalahkan lebih besar dari implikasi pacaran, terus sampai terjadi kissing, petting dan ujung-ujungnya bunting adalah wanita. Karena laki-laki tipe buaya akan melakukan apa saja untuk merealisasikan tujuannya.
Sekarang, tinggal bagaimana wanita memiliki kekuatan daya tahannya. Seharusnya setiap wanita itu memiliki signal yang kuat terkait gerak-gerik mencurigakan, bukan malah menikmatinya. Tentu istri pun gak terima dengan “laporan akhir” saya. Adakah yang beda?
