Selasa, 10 Maret 2009

Katakan Korupsi Pada Demokrat!

Kampanye Partai Demokrat dengan tagline “Katakan Tidak Pada Korupsi” kelihatannya harus segera direvisi. Iklan yang tiap hari bersliweran di media TV dan menyita besar-besaran halaman sejumlah media cetak itu, kini tak lagi relevan. Malahan terkesan jauh panggang dari api.

Betapa tidak. Adanya dugaan suap Rp 1 miliar terhadap anggota DPR RI dari Demokrat Jhony Allen Marbun, dan kemudian terungkapnya status Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie sebagai tersangka korupsi di pabrik semen Baturaja, adalah fakta yang yang sangat bertolak belakang dengan bunyi iklan yang gagah itu. Belum lagi bila dirinci dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan kader Demokrat lainnya.

Baru satu periode memegang kekuasaan, kader partai ini telah terlibat dalam banyak kasus korupsi. Bayangkan bila mereka berkuasa lebih lama. Tidak terbayangkan berapa banyak lagi yang akan terlibat korupsi.

Banyaknya kader Demokrat yang terlibat dalam kasus korupsi, sangat bisa dipahami, bila kita melihat sejarah berdirinya partai ini. Partai yang secara instant membesar dengan mendompleng kharisma Presiden SBY ini, merekrut pengurus dan kader tidak secara selektif.

Siapa saja yang ingin bergabung, langsung diterima, mendapat kartu anggota dan sebagian langsung masuk menjadi anggota parlemen. Yang beruntung malah masuk dalam pemerintahan. Soal track record? Tak ada waktu untuk menyeleksinya. Maklumlah namanya juga darurat.. Wajarlah bila performa Fraksi Demokrat di parlemen tidak mencorong.

Siapa yang kenal dengan Sarjan Tahir?. Sebelum meledaknya kasus suap pengalihan hutan Tanjung Api-Api, anggota DPR dari Sumatera Selatan ini, kiprahnya nyaris tak terdengar. Begitu juga dengan Jhonny Alen. Namanya mulai disebut-sebut ketika terjadi demo anarkis di Sumut yang menewaskan Ketua DPRD Azis Angkat. Begitu juga dengan Azidin anggota Fraksi Demokrat yang direcall karena terlibat dalam percaloan catering haji.

Contoh lain, adalah pelawak Komar. Ia tidak pernah sama sekali dikutip media dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR. Kalau toh ada anggota DPR dari Demokrat yang paling banyak dikutip media, bisa dipastikan adalah pasangan Angelina Sondakh-Ajie Masaid. Sayangnya pemberitaan terhadap mereka bukan kiprahnya sebagai wakil rakyat, tetapi lebih pada gosip percintaan mereka.

Dengan performa para anggota parlemennya yang lebih banyak terlibat skandal, saya jadi khawatir, jangan-jangan tagline ”katakan Tidak pada Korupsi” bisa berubah menjadi ”Katakan Tidak pada Demokrat”.

Memilih wakil rakyat, memang tidak sama dengan memilih Presiden. Sudah waktunya rakyat bisa menentukan pilihan secara cerdas! (inilah.com)

Billy Bari Adyasta, billyadhyasta@gmail.com Selengkapnya...

Rabu, 04 Maret 2009

Hati-Hati Pilih Caleg

Selama ini, selain kapabilitas, masalah moralitas menjadi sorotan bagi para caleg yang sedang berlaga di pemilu 2009. Hal ini wajar, mengingat masyarakat merekam jelas kiprah moral wakil-wakil mereka yang banyak terlibat kasus amoral, baik di tingkat pusat (DPR) maupun di level daerah (DPRD) yang marak diberitakan di banyak media

Sejak tidak lagi menjadi lembaga ‘super body’, masyarakat mengetahui banyak ditemukan anggota parlemen yang terlibat kasus moral. Bukan saja korupsi, namun juga skandal semacam suap, perjudian, narkoba sampai perselingkuhan.

Dugaan cacat moral yang menerpa sebagian anggota dewan sebetulnya sudah lama terendus. Akan tetapi, setiap ada upaya untuk mengungkap abnormalitas moral orang-orang yang adi di gedung dewan, selalu ada pembelaan yang menolak tudingan miring menyangkut diri mereka.

Kini Mahkamah Konstitusi (MK) menganulir mekanisme penetapan calon anggota dewan terpilih di DPRD dan DPR melalui nomor urut. MK menggantinya dengan sistem suara terbanyak. Diakui dengan sistem ini, aroma demokrasi lebih terasa karena pilihan rakyat menjadi patokan untuk menentukan siapa yang layak menduduki “kursi panas”.

Namun suara terbanyak pun meninggalkan berbagai macam kerawanan, karena popularitas dan elektabilitas tidak berbanding lurus dengan kredibilitas. Lantas bagaimana?

Meski demikian, golput bukan sebuah pilihan yang bijak. Sebagaimana yang dikatakan oleh mantan Menko Perekonomian Kabinet Gotong Royong Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti saat tampil sebagai pembicara pada seminar "The Success of Indonesia's 2009 General Election" di Jakarta. Ia mengatakan, golput hanyalah sebuah nihilisme yang tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sehingga yang harus difokuskan adalah perhatian pada proses pemilu (election process) dan juga out put pemilu berupa jaminan terjadinya perubahan dan perbaikan keadaan pasca pemilu 2009. Untuk itu syarat mutlaknya semua pihak harus ikut bertanggung jawab untuk menciptakan pemilu yang berkualitas

Cara Memilih Caleg
Memang tidak ada sebuah syarat baku yang sama diterapkan untuk menguji kelayakan dan kepantasan seorang menjadi wakil rakyat. Namun setidaknya, seorang caleg harus memiliki kredibilitas dan moralitas yang tangguh, sehingga pemilu yang dilaksanakan, hasilnya benar-benar mampu memberikan secercah harapan bagi rakyat

Syarat ini juga sebagai upaya untuk memajukan demokrasi dan kehidupan politik pada bangsa ini. Sehingga, 9 April nanti, masyarakat dalam memilih caleg selayaknya tidak sekadar terpaku pada kemampuan finansial, tetapi juga aspek visi, daya dukung publik dan tentu moralitasnya.

Untuk itu publik perlu mengkritisi figur caleg yang diusulkan partai-partai politik peserta pemilu, termasuk mengkritisi kepribadiannya. Karena tanpa adanya sikap kritis masyarakat, yang kemudian dilanjutkan dengan tidak memilih caleg bermasalah, sulit mewujudkan parlemen yang baik di negeri ini

Ada langkah sederhana untuk memilih caleg yang berkualitas. Pertama, bidik caleg yang “beda”. Istilah marketinganya deferensiasi. Yang menjadi faktor pembedanya adalah caleg tersebut harus memiliki nilai plus, diantaranya spiritualitas, moralitas, wawasan dan tak lupa beda juga strategi kampanye yang digunakan oleh partai dan calegnya

Kedua, amati kualitasnya. Seorang caleg dan partai mutlak harus memiliki kualitas yang bagus. Untuk dapat membuktikannya, dapat diamati dari keberadaannya di tengah-tengah masyarakat, apakah caleg atau partainya dapat dijadikan teladan dalam banyak hal?

Ketiga, sebagai problem solver, bukan problem maker. Caleg atau partai dapat memberi solusi terhadap berbagai persoalan yang dialami oleh warga masyarakat. Solusi ini tidak hanya berbentuk materi (baca: uang), namun dapat berupa pemikiran atau menjadi mediator untuk menuju sesuatu yang diharapkan masyarakat.

Terakhir, bekerja dengan tulus. Maksudnya, caleg atau parpol berbuat untuk masyarakat, baik ada pemilu maupun tidak ada pemilu. Seperti biasa, musim kampanye saat ini, banyak ditemukan ‘pahlawan kesiangan’ yang menabur manfaat sesaat.

Apabila masyarakat menemukan ada caleg atau parpol yang memenuhi empat kualifikasi di atas (minimal mendekati), maka pilihlah dia! Kesimpulannya, suara terbanyak tak akan semanis impian, jika masyarakat tetap saja salah pilih. Maka, hati-hati pilih caleg. Wallahua’lam Selengkapnya...

Jumat, 27 Februari 2009

PD Tanpa SBY, PDIP Tanpa Mega, Apa Jadinya?


Mengagetkan, mengherankan dan memuakkan adalah pekerjaan baru yang dilakukan oleh lembaga survey politik. Ini semakin menguatkan, bahwa keberadaan lembaga survey merupakan proyek akal-akalan yang sengaja dimainkan oleh parpol untuk mengarahkan pilihan masyarakat

Bagimana tidak? Seolah semua bisa diatur. Hari ini versi lembaga ‘A’ pemenangnya Partai Demokrat (PD), kemarin versi lembaga ‘B’ jawaranya Partai Golkar, sedang yang lalu, versi lembaga ‘C’, PDIP menjadi partai berelektabilitas tertinggi. Besok lusa, bisa dijamin salah satu dari ketiga partai ini yang bakal menyandang predikat the champions.

Melihat permainan ketiga partai ‘besar’ di atas, justru semakin meyakinkan jika statement Presiden PKS, Tifatul Sembiring yang menyatakan, 2009 adalah akhir dari generasi tokoh nasional, terutama SBY, Megawati dan Jusuf Kalla ini sepertinya bukan isapan jempol.

Untuk itu, agar tetap survive, diantara mereka (yang juga sebagai pembesar parpol) melakukan berbagai cara untuk mempertahankan eksistensinya di jagad perpolitikan, termasuk dengan memainkan survey. Karena siapapun yang gagal, tidak menutup kemungkinan sebagai langkah awal kepunuhan partai tersebut

PD misalnya, jika pada pilpres mendatang SBY keok, maka keberadaan partai berlambang segi tiga biru ini pasca pilpres diprediksi bakal hancur. Memang di PD masih ada Anas Urbaningrum dan lainnya, namun bisa apa mereka tanpa SBY? Jika tetap keukeuh menunggu tuah SBY di 2014, maka berapa tahun sudah umur SBY?

Begitu demikian Megawati dengan PDIP-nya. Jika terjungkal dalam laga pilpres mendatang, maka disinyalir, 2014 PDIP siap berada di ‘museum’ sejarah perpolitikan Indonesia, karena sosok kharismatik Megawati sudah tak berdaya digerogoti oleh umur yang semakin menua.

Di sisi lain, sosok Guruh sebagai saudara biologis dan Puan Maharani sebagai anak biologis kharismanya tidak semoncreng Megawati. Jika sudah demikian, sepertinya mustahil, massa PDIP merasa nyaman di kandang banteng lagi.

Partai Golkar masih bisa bernafas lega, karena perjalanan partainya tidak terlalu mengandalkan figur. Jadi hati-hatilah PD dan PDIP. Apa jadinya jika tanpa SBY dan Mega? Selengkapnya...

Senin, 16 Februari 2009

Iklan PKS, Kecerdikan dibalik Kecekakan Modal

Bukan PKS namanya kalau tidak bikin geger jagad perpolitikan Indonesia. Hampir apa saja yang dikeluarkan partai dakwah ini pasti menyedot perhatian masyarakat, termasuk para pengamat dan elit politik partai-partai lain.

Belum hilang ingatan kita atas kegeraman Panwas terhadap Presiden PKS, Tifatul Sembiring dengan alasan PKS melakukan aksi solidaritas Palestina yang membawa ribuan kader dan simpatisan dengan membawa atribut partai. Bahkan tidak itu saja, keluarnya SP3nya pun mengundang pro kontra.

Kini, PKS pun bikin geger lagi. Apalagi kalau bukan karena materi iklan terbarunya. Semua partai yang ‘disikat’ PKS melalui iklannya meradang. Sebut saja Ruhut Sitompul dari Partai Demokrat yang mengatakan PKS kalap. Firman Subagyo dari Partai Golkar yang akan menggugat, dan politisi dari PDIP pun tak kalah garangnya mengecam iklan berdurasi 30 detik ini.

Untuk masalah iklan, PKS memang jagonya. Walaupun penayangannya tidak sejor-joran partai lain, namun mampu menyedot perhatian. Buktikan saja, dari beberapa materi iklan yang disajikan PKS, praktis, hampir semuanya menarik perhatian. PKS sadar, dengan keuangan yang cekak, maka harus disiasati dengan metode periklanan yang cerdas.

Mulai dari iklan seri kepahlawanan yang membuat ‘panas’ petinggi NU dan Muhammadiyah. Kemudian iklan HM Soeharto yang dijadikan sebagai guru bangsa dan saat ini, iklan PKS satu bendera dengan format menyajikan kumpulan kliping media cetak maupun elektronik yang membuat panas Golkar, Demokrat dan PDIP.

Terlepas dari memanfaatkan situasi, hal ini menunjukan bahwa PKS memang sangat cerdas dalam mengelola isu dan cara penyajiannya sangat berbeda. Menurut Nunu, iklan politik kebanyakan selalu menjelaskan ‘siapa saya’, ‘apa pandangan saya’ yang terkait dengan identitas. “Nah, iklan PKS tampil dengan simpatik, sederhana, murah, dan cukup melempar masalah saja,” kata pengasuh sekolah penulisan iklan secara online ini.

Bahkan, kegeraman elit partai yang ‘diserang’ PKS bakal gigit jari karena tak punya bukti kuat. Pasalnya, hampir semua pengamat komunikasi mengatakan tidak ada yang salah dari iklan PKS tersebut.

Dedi Nur Hidayat, pakar komunikasi politik UI, menilai iklan PKS masih dalam batas wajar saja “Saya kira wajar saja. Toh materi iklannya tidak manipulatif. Semua berdasar pada fakta kliping media,” ujarnya. Menurut dia, iklan yang tidak wajar justru iklan yang menyerang tapi tidak ada fakta.

Hal senada diungkapkan praktisi periklanan Nur Tri Andini. Menurut dia justru PKS dalam iklan terbarunya cukup hati-hati dengan menampilkan fakta di berbagai media dengan tidak ada upaya PKS menghakimi pihak manapun. “Makanya ditunjukkan kliping-kliping media. PKS tidak ngomong apa-apa. Yang paling penting iklan PKS telah memainkan pencitraan dan tentunya cukup murah,” katanya kepada INILAH.COM.

Pengamat Komunikasi Effendi Ghazali pun mengamini pendapat di atas. Ia menilai tidak ada yang salah dari iklan tersebut. Effendi melihat ada tiga point dari peluncuran iklan tersebut. Pertama, PKS ingin memanfaatkan isu-isu tersebut untuk tujuan tertentu dengan gaya sendiri.

Kedua, teknik yang digunakan bisa dianggap out of the box. Di mana baru negara-negara luar yang menggunakan isu tersebut untuk menjatuhkan lawan politiknya. Ketiga, PKS cerdik memanfaatkan isu tersebut.

"Iklan-iklan seperti itu biasa dilakukan di negara-negara lain, jadi sangat lazim dan tidak perlu dipermasalahkan," kata Effendy kepada Okezone.com.

Ditanya apakah ini termasuk kampanye negatif, Effendi berujar, "Ini tidak bisa dikatakan kampanye negatif, karena iklan tersebut menampilkan berita-berita yang sudah menjadi konsumsi publik. Jadi tidak ada yang salah," tuturnya.

"Jadi bagi pihak yang merasa kebakaran jenggot, kalau mau mencak-mencak dipikir dulu. Kalau memang ingin membalas silahkan menggunakan iklan yang lebih kreatif lagi. Apalagi menurut Mahfudz Siddiq, iklan ini berisi tentang pendidikan politik. “PKS ingin memberi pesan ke publik bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin”, tutupnya. (ibnusy - inilah.com) Selengkapnya...

Selasa, 27 Januari 2009

Senjata Makan Tuan SBY


Warga mana yang tidak menyambut gembira apabila BBM mengalami penurunan harga? Sudah pasti, harga BBM yang diturunkan sampai tiga kali ini disambut gembira oleh mereka meski nilai total penurunannya “cuma” Rp 1.500. Namun jika ‘keberhasilan’ ini dijadikan komoditas politik untuk menaikan figur atau parpol dengan mengklaim keberhasilan kelompok tertentu, adalah suatu pembodohan politik.

Inilah yang terjadi pada iklan Partai Demokrat. Dengan tanpa rasa malu, mengklaim penurunan harga BBM berkat ‘kehebatan’ seorang SBY. Partai Demokrat pura-pura lupa, jika pemerintahan SBY-JK itu dibangun oleh koalisi banyak partai yang semuanya memiliki saham kegagalan maupun keberhasilan.

Yang lebih parah lagi, ternyata yang menjadi faktor utama penurunan harga BBM itu dikarenakan faktor eksternal, yaitu disebabkan harga minyak dunia yang turun drastis. Jadi inilah yang membuat Direktur Eksekutif Charta Politika, Bima Arya Sugiarto mengatakan iklan yang dikeluarkan Partai Demokrat tidak etis, bahkan tidak mendidik masyarakat

Kemudian, alasan penurunan harga versi pemerintah yakni untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan menggerakkan sektor riil, serta menjaga kondisi psikologis masyarakat sampai kini belum terlihat hasilnya.

Yang ada jutru sebaliknya. Buktinya, kebutuhan pokok harganya masih betah pada posisi tinggi, bahkan sebagian justru mengalami kenaikan harga. Dan sampai hari ini tarif angkutan umum juga masih harganya masih tarik ulur akibat belum turunnya harga onderdil kendaraan.

Maksud hati, SBY bersama Partai Demokrat ingin naik popularitasnya melalui iklan penurunan harga BBM. Kenyataannya justru menjadi senjata makan tuan. Ini harus menjadi pelajaran bagi partai penguasa, termasuk Partai Golkar agar jangan cepat lupa diri dan jangan hobi mengklaim memiliki andil paling besar untuk negeri ini (ibnusy - inilah.com) Selengkapnya...

Jumat, 23 Januari 2009

Belajar Ketegaran dari Abu Ataya

Gaza – Infopalestina: “Aku bersumpah demi Allah, kami pasti akan mengusir mereka. Agresi ini akan kalah, Palestina terbebaskan dari laut hingga sungainya.” Kalimat ini meluncur dari lisan seorang warga Palestina Faur Abu Ataya saat duduk di atas puing reruntuhan rumahnya yang diratakan buldoser Zionis Israel di daerah al Fakhari di wilayah tenggara Khan Yunis, wilayah Jalur Gaza bagian selatan.

Tekad besar dan semangat yang tinggi tetap dia perlihatnya keskipun kondisi sangat sulit yang nampak pada dirinya. Dia hanya mengenakan pakaian yang hampir compang-camping. Namun dia meniupkan tekad pada semua pemilik rumah yang diratakan buldoseer-buldoser Zionis Israel yang jumlahnya mencapai 40 rumah di kawasan tersebut.

Meski penderitaan terus berlanjut akibat agresi Zionis Israel ketegaran tekadnya masih membara. Penderitaan itu tersirat pada raut muka Abu Ataya. Seperti kebanyakan warga Palestina lainnya, pada wajah lelaki usia 50 tahun tergambar di wajahnya peta agresi Israel yang meluluh-lantakkan semua yang ada hingga kelihatan sudah berusia kepala tujuh.

Ketika koresponden Infopalestina sampai di daerah tersebut, sebagai bagian dari kunjunganya melihat langsung wilayah-wilayah yang terpapar agresi Zionis Israel, Haji Abu Ataya segera mengeluarkan potongan kertas dari sakunya yang dia tulis pada buku sekolah anaknya yang paling besar, Yaser, yang dia ambil dari bawah puing reruntuhan. Dia mulai membaca isi kerta tersebut yang menegaskan bahwa agresi ini pasti kalah dan kebenaran pasti menang. Bahwa Palestina mulai dari luat hingga sungainya, dengan izin Allah, akan kembali, berkat keutamaan jihad orang-orang yang ikhlas dan jujur.

Dia berbicara dengan tekad kuat, keyakinan yang teguh, bahasa yang fasih dan penyampaikan yang penuh komitmen, yang mempertanyakan adakan orang yang menulis kalimat kecaman atas agresi Zionis Israel dan sikap dunia internasional.
Kira-kira dua setengah menit dia menyampaikan kata-kata penuh amarah, seraya tersenyum karena dia tahu bahwa orang yang mewancarainya mengira dia adalah orang awam. Bagaimana bisa menulis dan mengutarakan kalimat-kalimat bernas. Kemudian dia menjawab sendiri, “Saya adalah seorang guru bahasa Arab untuk pelajar SMU. Saya menyelesaikan studi saya di Universitas Kairo. Anda jangan tertipu oleh wajah tua saya. Puing reruntuhan rumah ini memantulkan ketuaan wajah saya ini.”

Dengan tatapan tajam ke arah wajah anaknya yang paling besar, Yaser, keduanya saling berbalas senyum, Abu Ataya mengatakan, “Saya akan mengirimnya ke Universitas Kairo untuk kuliah kedokteran.” Sang anak, yang sudah absent pada semester pertama kelas satu SMU, ini tersenyum. Sang Ayah menegaskan, “Yaser orangnya tekun dalam belajar. Dia selalu menjadi rangking di antara teman-temannya di sekolah. Sebentar lagi dia akan kembali belajar. Mimpin menjadi dokter masih menjadi obsesinya, betapapun penderitaan yang baru saja terjadi.”

Kembalinya Yaser bersama 5 saudarnya ke bangku sekolah jelas memerlukan semua kebutuhan sekolah baru mulai dari buku paket, buku catatan dan sebagiannya. Semua ini jelas membutuhkan dana tambungan yang dia simpan dari gajinya di saat kondisi normal, lantas bagaimana dengan kondisi darurat seperti saat ini.
Apalagi Abu Ataya kini sudah tidak punya sisa tabungan di bank, barang dagangan atau tanah yang bisa untuk memenuhi keingingan dia dan anaknya untuk melanjutkan studi kedokteran.

Namun laki-laki ini bertekad merancang untuk merealisasikan keinginannya pada anaknya, juga keinginan anaknya “Yaser yang sangat pintar” dan kuliah kedokteran di Kairo. “Kembalilah ke ini setelah lima tahun. Saya akan memberi kabar pada anda bahwa dia sudah duduk di bangku kedokteran Universitas Kairo di tengah-tengah rekan-rekannya. Ini adalah tantangan. Namun kemauan kami tidak bisa dihancurkan oleh tank-tank, pesawat-pesawat dan buldoser-buldoser yang meratakan sekitar 90 rumah penduduk di desa pertanian ini,” ungkap Abu Ataya dengan tekad yang mantap.

Saat koresponden Infopalestina menanyakan detail agresi Zionis Israel di wilayah tersebut, Abu Ataya mengatakan dia bersama seluruh tetangganya keluar dari rumah dengan baju yang melekat di badan dalam kondisi ketakutan dari meriam tank-tank yang menerjang rumah-rumah mereka secara tiba-tiba. Untuk memberikan jalan bagi tank-tank dan buldoser-buldoser untuk majud dari tengah-engah rumah-rumah penduduk yang dimusnahkan bersama penghuninya. “Kami tidak sempat mengambil baju atau makanan atau apapun sebelum meninggalkan rumah” tuturnya. Bekas baju tercabik-cabik di bawah puing reruntuhan rumah-rumah yang dihancurkan alat-alat perang Israel.

Abu Ataya bersama istri dan anak-anaknya, sejak rumahnya diratakan Israel menginap di rumah kerabatnya di desa yang selamat dari penghancuran Israel . Namun rumah itu itupun tidak luput dari terjangan meriam tank-tank Israel. “Suatu malam saya pergi ke rumah anak paman saya dan paginya saya kembli ke puing-puing rumah. Kami makan, minum dan bermimpi hidup enak, kedokteran dan insinyur bagi anak-anak kami di atas puing reruntuhan. Saya tidak tahu nasib mereka. Masa depan tidak jelas dan nasib masih belum diketahui.”

Abu Ataya adalah satu dari contoh warga Palestina yang sabar dan teguh mempertahankan tanahnya dan komitmen dengan jalan perlawanan meskipun agresi menghancur-leburkan apa yang ada. Namun dia mengajarkan kepada anaknya untuk mengibarkan slogan: lanjutkan hidup dan memori ini tidak pernah lupa dan tidak pula mengampuni. (seto) Selengkapnya...

SP3 Petinggi PKS, Isapan Jempol?


Rumor kepolisian mengeluarkan SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) atas nama tersangka Tifatul Sembiring, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Triwisaksana dan Ketua DPD PKS Jakarta Pusat Agus Setiawan masih tarik ulur.

Rabu (21/1) publik melalui berbagai media mengetahui bahwa pihak kepolisian akan menghentikan penyidikan terhadap Tifatul cs. Parahnya, statement Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Zulkarnain ini di beberapa media cetak sudah diwartakan dan sudah diketahui oleh jutaan orang

Diberitakan, setelah berkonsultasi dengan saksi ahli dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Rudi Satrio, Kepolisian mengamini bahwa aksi menentang agresi militer Israel ke Palestina yang dilakukan PKS pada 2 Januari tidak termasuk kasus dugaan pelanggaran kampanye.

Namun anehnya, Rabu sore, (21/1) Mabes Polri membantah dan menyalahkan pemberitaan media terkait penghentian penyidikan kasus pelanggaran pidana pemilu. Dengan gagah berani, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, di Mabes Polri mengatakan "Penyidik Polda Metro Jaya belum menghentikan penyidikan terhadap Tifatul Sembiring"

Abubakar, menambahkan apa yang diwartakan media nasional yang menyebutkan, Polisi telah memberhentikan penyidikan terhadap Tifatul itu tidak benar. "Ini meluruskan pemberitaan di media," imbuhnya

Dengan fenomena di atas, justru masyarakat semakin meyakini adanya permainan tidak sehat untuk mengkerdilkan PKS. Imbasnya, kredibilitas Panwaslu sebagai pengawas dan Kepolisian di mata masyarakat semakin rendah.

Direkur eksekuif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti kepada INILAH.COM, Jakarta, Rabu (21/1) malam mengatakan, jika benar penyidikan kasus Tifatul itu dihentikan, maka akan menjadi preseden buruk. Ia berargumen masyarakat nantinya akan menilai tidak adanya kepastian hukum bagi para pencari keadilan

Justru sebaliknya. Saya mewakili masyarakat mengatakan, apabila Panwaslu dan Kepolisian tetap ngotot meneruskan proses penyidikan, di tengah jutaan warganya mengklaim PKS tidak bersalah, justru hal ini yang akan menurunkan kredibilitas dua lembaga tersebut karena tidak bertindak professional.

Apalagi bukti-bukti yang diajukan Panwaslu terkait penawaran visi dan misi terkesan dipaksakan. Padahal KPI pun tidak menemukannya. Dan lebih jelas lagi, Zulkarnain mengatakan "Dalam aksi demonstrasi PKS tidak ada upaya untuk meyakinkan pemilih". Jadi, pikirkan dulu wahai Panwaslu dan Kepolisian sebelum melangkah. Selengkapnya...