Rabu, 03 Juni 2009

TKW Juga Harus Diperlakukan Seperti Mano

Manohara Odelia Pinot. Itulah nama yang begitu menyedot perhatian nasional saat ini. Kisah pilu dan “aksi pembebasannya” telah sukses merebut pemberitaan media. Semua kelas pun mengomentarinya. Mulai rakyat biasa, mahasiswa, selebriti, bahkan sudah menjadi urusan Negara.

Masalah yang semula hanya urusan rumah tangga, seolah dipaksa untuk menjadi persoalan Negara. KBRI, Dubes dan Deplu turun tangan. Bahkan Presiden pun memberi komentar. Tidak itu saja, proses kepulangan Manohara pun melibatkan banyak Negara. INILAH.COM menulis, dalam proses pembebasannya menggunakan taktik yang disusun pihak AS, KBRI, dan kepolisian Singapura.

Perlakuan di atas sungguh berbeda dengan kisah yang dialamiCeriyati, TKW asal Brebes. Atau mungkin kisah Siti Fathonah, seorang tenaga kerja wanita asal Cilacap yang tewas pada September 2008. Hasil otopsi membuktikan bahwa korban tewas akibat penganiayaan. Pada saat itu, pemerintah tidak all out memperjuangkan warga negaranya.

Atau kisah Ngatmiatun TKW asal Grobogan, Jawa Tengah yang sepulang dari bekerja di Malaysia fisiknya lumpuh dan mentalnya terganggu. Atau kisah Nitasari (18 tahun) TKW asal Kebumen yang sepulang dari bekerja di Malaysia mentalnya terganggu sehingga tidak dapat diajak berkomunikasi (eramuslim.com). Belum lagi deretan panjang kisah sedih TKW yang teraniaya di negeri orang yang setiap tahun terus menelan korban

Pertanyaan besarnya adalah, apakah sikap diskriminatif sudah menjadi watak pemimpin kita dalam memperlakukan warganya? Apakah karena TKW sekedar (maaf) pembantu dan Manohara adalah mantan model sekaligus sebagai menjadi istri raja?

Padahal jelas, para TKW adalah anak bangsa tulen yang menyumbangkan devisanya melalui tetesan keringat mereka. Tidak layak kah mereka mendapat empati yang lebih dari pemimpin kita?

Sedang menurut KBRI, Mano memiliki dua kewarganegaraan, yakni AS dan Indonesia. “Yang bersangkutan memiliki kewarganegaraan ganda, Amerika Serikat dan Indonesia, makanya Manohara bisa menghubungi Kedutaan Amerika Serikat di Singapura,” jelas Juru Bicara Departemen Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, kepada INILAH.COM, di Departemen Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6) siang.

Siapapun mereka (Mano dan TKW) sudah seharusnya tugas pemerintah untuk memberikan perlakuan yang sama kepada warga negaranya apabila ditimpa masalah. Karena hak asasi tidak mengenal kasta. Untuk itu TKW juga harus diperlakukan sama seperti Manohara wahai pemimpin. Wallahua’alam
Selengkapnya...

Sabtu, 30 Mei 2009

Koalisi Manut, Demokrasi Terancam

Nomor urut pasangan capres-cawapres telah ditetapkan oleh KPU pada Sabtu (30/5). Mega-Prabowo mendapatkan nomor urut 1. Duet SBY-Boediono memperoleh nomor urut 2. Nomor urut terakhir alias nomor 3 diraih oleh pasangan JK-Wiranto (inilah.com). Penetapan ini diputuskan dengan Surat Keputusan 297 /kpts/kpu/ 2009 tentang Penetapan Nomor Urut Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (kompas.com)

Tentu, layaknya sebuah pertandingan, salah satu pasangan pasti ada yang meraih kemenangan. Dan dari ketiga pasangan, pasti semuanya berkeyakinan dapat memenangkan pertempuran, karena keyakinan adalah modal awal dalam perjuangan

Pertanyaannya adalah, seberapakuat ikatan kontrak politiknya? Apakah sudah dipikirkan ekses dari kesepakatan koalisi yang ada, mengingat semua parpol yang berkoalisi (dengan parpol ‘induk’) memiliki perolehan suara yang njomplang (jawa: sangat jauh jaraknya)

Dikhawatirkan parpol induk akan berlaku semena-mena. Bukan sekedar dalam tataran power sharing, namun juga dalam hal lainnya. Lihat saja, Mega-Prabowo yang diusung oleh PDIP-Partai Gerindra jaraknya cukup jauh, 14,50 persen dengan 4,23 persen. Untuk SBY-Boediono, perolehan suara Partai Demokrat dengan partai pendukung lainnya juga tidak imbang. Terakhir, JK-Wiranto selisihnya terpaut sampai 11 persen.

Namun, manakala SBY-Boediono menang, partai pendukungnya memiliki posisi yang lebih nyaman, karena selain berada dalam daftar partai tengah, PKS, PAN, PPP dan PKB juga sama-sama memiliki ideologi dan basis massa yang sejenis (Islam). Jika kompak, mereka memiliki bargaining yang lebih kuat

Akan tetapi jika koalisi ini manut-manut saja, maka akan sangat membahayakan demokrasi. Karena mengingat perolehan suara dan kursi di parlemen, pasangan SBY-Boediono mengantongi lebih dari 50 persen. Untuk itu, demi kepentingan yang lebih besar, sebaiknya tetap menjadi mitra koalisi yang kritis, seperti yang sudah ditunjukan selama ini

Sebaliknya, jika koalisi ini kalah, maka harus tetap menjadi gabungan partai yang berada dalam barisan oposisi yang tidak asal beda dengan pemerintah. Atau menjadi partai yang independent. Jangan seperti PDIP yang asal beda tapi akhirnya mangamini program BLT. Atau Partai Golkar yang keluar dari koalisi kebangsaan dan melompat ke kubu koalisi kerakyaatan.

Siapapun yang terpilih, koalisi dengan parpol pendukung harus diteruskan dengan berkoalisi dengan rakyat, melalui program yang pro rakyat dan mencerdaskan. Hal ini sebagai tanggung jawab mengaplikasikan platform mereka untuk mensejahterakan dan mencerdaskan rakyat. Wallahua’lam
Selengkapnya...

Rabu, 27 Mei 2009

Capres-Cawapres Harus jadi Teladan

Akhirnya semua pasangan capres-cawapres sudah dideklarasikan. Lokasi yang dijadikan tempat deklarasi pun berbeda-beda. Jika JK-Win sebagai pasangan pertama menjadikan Tugu Proklamasi, pasangan SBY-Boediono menggelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung. Terakhir, Mega-Pro di Tempat Pengolahan Sampah, Bantar Gebang, Bekasi

Tentu pemilihan lokasi deklarasi memiliki makna tersendiri bagi seluruh pasangan. JK-Win beralasan, deklarasi di monument bersejarah, apalagi tepat di depan patung Soekarno-Hatta mengisyaratkanpasangan nusantara atau dwi tunggal.

SBY-Boediono menjadikan Bandung, menurut Boediono dalam pidatonya beralasan, di awal abad kedua puluh, Bung Karno di kota ini menyatakan Indonesia Menggugat. Sedang Bantar Gebang sebagai simbol wong cilik ingin ditunjukan Mega-Pro sebagai pasangan yang terakhir melaksanakan deklarasi

Obsesi capres-cawapres yang menyertakan filosofi tempat deklarasi, tentu patut diberikan apresiasi. Namun praktek di lapangan, prilaku yang dilakukan oleh seluruh pasangan untuk menjadi pemenang, masih jauh dari sifat keteladanan

SBY dan JK sebagai incumbent sering kali ngiras-ngirus (jawa: memanfaatkan) dengan blusukan ke pasar-pasar tradisional dan tempat-tempat strategis dengan alasan yang dipaksakan. Bahkan janji keduanya, untuk tetap solid sampai akhir jabatan pun sudah semakin tampak keretakannya. Belum lagi perang pernyataannya yang dijadikan barang obralan

Mega-Pro juga setali tiga uang. Statementnya seringkali tidak konstruktif dan lebih cenderung menekan pihak lawan. Menjual isu ekonomi kerakyatan dan menyerang neo liberal. Padahal ketika Megawati memimpin negeri ini juga banyak asset negara yang dijual ke asing dan diserahkan ke pasar.

Tidak itu saja, seluruh pasangan juga menggunakan strategi usang dalam mencari simpati rakyat. Dari mulai memiliki hobi baru pergi ke pasar tradisional, silaturahim ke ulama sampai yang keukeuh menstempel care terhadap kehidupan rakyat kecil

Tentu, manuver dalam politik adalah hal yang “lumrah”. Namun, jika terlalu sering memaksakan dan memberi pelajaran negatif kepada masyarakat, maka tidak dipungkiri jika krisis kepercayaan akan semakin menggelinding bagaikan bola salju yang kian membesar. Sebelum semuanya terlambat, untuk capres dan cawapres, jadilah teladan untuk rakyat!.
Selengkapnya...

Minggu, 29 Maret 2009

Semangat Isnawi untuk PKS

Namanya Isnawi, pria asli Buton, Sulawesi Tenggara ini adalah salah satu peserta dari ribuan massa yang hadir pada kampanye perdana PKS Batam di Lapangan Parkir Temenggung Abdul Jamal, Kamis (26/3)

Sekilas, sosok Isnawi sama dengan massa yang hadir pada saat itu. Sama-sama bersemangat dan juga sama dalam mengenakan koas berlambang setangkai padi emas yang diapit oleh dua bulan sabit. Namun, kalau dilihat secara seksama, kita akan menemukan perbedaan fisik yang sangat mencolok pada diri Isnawi. Ia cacat. Kaki kanannya tidak berfungsi sejak umur sembilan bulan

Ditemui di lokasi kampanye, Isnawi menceritakan bahwa ia berangkat kampanye menggunakan Metro Trans (salah satu angkutan kota) sendirian. Ia tidak mengikuti rombongan konvoi kendaraan karena tidak ingin merepotkan panitia

“Dari dapur dua belas, saya berangkat sendiri naik Metro Trans. Saya tidak ingin merepotkan panitia bang”, ungkapnya dengan logat Sulawesi yang kental

Isnawi melanjutkan, walau dalam kondisi menggunakan alat bantu jalan (tongkat), ia rela datang karena menganggap PKS adalah satu-satunya partai yang konsisten dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam. “Insya Allah hadirnya saya di sini dicatat sebagai ibadah”, urainya serius

Isnawi yang sehari-hari sebagai pengajar di salah satu Taman Pendidikan Al Qur’an ini mengaku tidak tahu target PKS pada pemilu 2009. Namun ia tetap mendokan agar PKS dapat mencapai semua yang dicita-citakan. Ia pun berjanji pada kampanye kedua akan hadir kembali

Sosok Isnawi adalah gambaran umum karakteristik kader dan simpatisan PKS yang militan. Yang tidak mengharap imbalan. Yang percaya bahwa politik adalah bagian dari ibadah kepada Allah. Maka jangan sia-siakan perjuangan dan harapan mereka.
Selengkapnya...

Sabtu, 21 Maret 2009

Apa Sih Hebatnya PKS?*

PKS lagi…PKS lagi. Mungkin itulah penilaian sebagian masyarakat terkait pemberitaan di media setahun terakhir ini. Bagaimana tidak, media tidak pernah luput memberitakan partai yang berlambang setangkai padi emas yang diapit oleh bulan sabit ini.

Sepanjang tahun 2009 saja, hampir apa saja yang mengenai PKS, dapat dipastikan menjadi berita besar. Tengok saja materi iklan serial kepahlawanannya. Dengan hanya menayangkan tiga hari di stasiun televisi tertentu, namun hasilnya publik ‘menggosipkan’ selama lebih dari setengah bulan. Itu artinya PKS mendapat keuntungan lebih dari 500 persen.

Materi iklan Satu Bendera yang tampil dalam format kliping media dan iklan akronim PKS dalam berbagai versi pun mendulang perhatian publik yang sama besar. Belum lagi kasus yang menimpa Zul Hamdi. Hanya karena ‘tertangkap tangan’ sedang pijat di tempat legal, langsung diisukan berhubungan badan.

‘Nyanyian’ Abdul Hadi Djamal yang meneyertakan Rama Pratama dalam kasus stimulus pembangunan infrastruktur Indonesia timur, tanpa “ba-bi’bu’ tiba-tiba nongkrong di head line salah satu media nasional. Teranyar, gaya kampanye partai bernomor delapan yang mencaplok identitas warna parpol tertentu langsung dicap kegenitan dan melanggar AD/ART partai.

Lantas, apa sih hebatnya PKS? Bukankah partai berideologi Islam semacam PPP dan PBB memiliki iklan. Namun kenapa mereka tidak pernah dibicarakan? Partai berhaluan nasionalis, sebangsa PAN dan Partai Gerindra juga menyangkan iklan. Bahkan tiga partai besar yang diclaim LSI, PD, PDIP dan Partai Golkar juga melakukan hal yang serupa (iklan). Namun kenapa gaungnya tak seawet ‘made in’ PKS? Kalah cerdaskan mereka?

Banyak kader partai yang jelas terseret kasus korupsi dan tindakan amoral. Namun kenyataaannya tidak ada satupun kader PKS yang terpelosok perkara di atas. Mungin karena ‘bersihnya’, sehingga ‘baru’ pijatan dan dituduh terlibat korupsi langsung menjadi berita besar

Sebegitu hebat, cerdas dan profesionalkah PKS, sehingga senantiasa mendapat perhatian? Atau mungkin ada pihak yang bersekongkol ingin membonsai PKS, dengan mengatakan, PKS memang indah, namun jangan sampai menjadi besar. Wallahua'lam

*. Diterbitkan di INILAH.COM
21 Maret 2009
Selengkapnya...

Selasa, 17 Maret 2009

Kampanye Harus Damai dan Berkualitas

Walaupun tidak ada jaminan, namun adanya deklarasi kampanye damai peserta pemilu 2009 yang digelar secara nasional, termasuk juga di Batam merupakan permulaan yang baik dalam penyelenggaraan rapat umum, atau yang trend disebut kampanye terbuka ini. Deklarasi di atas patut diapresiasi oleh semua kalangan

Dalam beberapa literatur, arti damai dapat menunjuk secara umum pada kondisi tenang, tidak adanya gangguan atau godaan. Hal ini sejalan dengan poin deklarasi yang dibacakan oleh perwakilan salah satu partai politik yang diikuti oleh seluruh kontestan pemilu di Asrama Haji, Batam Centre, Senin (16/3)

Ada kesepakatan yang perlu diingat bersama, bahwa seluruh parpol siap untuk menyajikan pemilu yang tertib, aman dan lancar serta harus mengelar kampanye yang edukatif bagi masyarakat Batam

Walaupun menurut hasil riset, pengaruh kampanye terbuka kurang signifikan bagi meroketnya jumlah suara, namun kampanye model ini terasa sudah menjadi ‘garam’ dalam pemilu dan ajang demokrasi lainnya

Apalagi, bagi para parpol dan politisi, masa kampanye terbuka merupakan bagian yang dinanti-nantikan dari beberapa proses yang harus dijalani. Wajar, dengan rapat umum ini, partai atau para caleg bisa mengukur kualitas tim suksesnya dalam mengumpulkan, mempengaruhi dan akhirnya massa pun mendukungnya.

Namun harus diperhatikan, selama ini, pesta demokrasi di negeri ini merupakan salah satu pesta yang senantiasa memakan korban. Hampir dipastikan setiap momen pemilu selalu saja ada yang dijadikan ‘tumbal demokrasi’. Dan ajang kampanye terbuka menjadi penyumbang saham terbesar terjadinya kecelakaan lalu lintas, chaos dan lainnya

Kesimpulan
Kampanye tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, baik berupa material maupun non material. Agar tidak sia-sia, tentu setiap elemen (lebih khusus parpol) berkewajiban untuk menciptakan kampanye yang berkualitas. Kampanye politik harus mampu memberikan nilai-nilai pembelajaran bagi masyarakat

Kampanye tentu bukanlah ajang negative campaign, black campaign apalagi sarana saling sikut sesama caleg dalam satu partai. Semoga kampanye pemilu 2009 menjadi awal model dewasanya perpolitikan di Batam dan nasional. Semoga tidak ditemukan lagi adanya bentrokan antar pendukung, arak-arakan yang menakutkan dan segala macam intimidasi kepada masyarakat

Sudah tiba saatnya parpol berpolitik dengan santun dan bermartabat untuk membangun image politik yang selama ini dikenal buram oleh masyarakat. Buktikan bahwa parpol mampu menciptakan suasana aman dan damai agar lebih berwibawa di mata konstituennya, kotanya, negaranya, juga di mata dunia. Semoga. Wallahua'lam
Selengkapnya...

Rabu, 11 Maret 2009

Kita, Gerhana Politik dan Solusinya

Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban besar selalu bermula dari gagasan-gagasan besar. Gagasan-gagasan besar selalu lahir dari akal-akal raksasa. Begitulah yang ditulis oleh M. Anis Matta dalam artikelnya yang berjudul “Mencari Sang Arsitek”

Banyak hal yang mesti harus dilakukan untuk menjadi ‘arsitek’ yang memiliki ide-ide brilliant. Salah satu hal standard untuk mengasah akal-akal raksasa biasanya melalui jalur pendidikan. Namun, pemilik gagasan besar bukan hanya monopoli orang-orang sekolahan

Dan pada 9 April nanti, kita akan memilih arsitek bangsa. Suka maupun tidak, mereka (para caleg) secara de jure adalah calon ‘insinyur’ yang akan mendesign rumah negeri ini. Mereka akan merancang dan membuat konstruksi legislasi, pengawasan dan penganggaran lima tahun ke depan

Menurut litbang Kompas, tingkat pendidkan caleg 2009 mengalami peningkatan kualitas. 8 dari 10 calon politisi senayan berpendidikan sarjana, baik strata satu sampai penggenggam gelar doctor

Namun hal di atas tidak menjadi jaminan, karena sudah lama bangsa ini dibanjiri orang-orang berpendidikan, namun sayangnya mayoritas sarjana kita belum mampu juga melahirkan gagasan-gasagan yang beda dan smart serta pro rakyat

Apalagi menurut M. Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, bisa jadi calon anggota parlemen dari kalangan popular semisal artis yang semula dipasang sebagai vote getter justru peluang terpilihnya sangat besar

Inilah masalah kita bersama. Apa jadinya jika mayoritas arsitek politik tidak paham dengan tugas pokok sebagai wakil rakyat? Mau di kemanakan bangsa yang besar ini jika mayoritas yang duduk di kursi panas adalah orang-orang yang tidak memiliki akal-akal raksasa yang mampu memberi solusi terhadap permasalahan yang mendera bangsa ini?

Sudah terlalu lama negeri ini mengalami gerhana politik. Sinar kebijakannya tidak lagi mampu menghangatkan rakyat. Pengawasan dan penganggarannya tertutup oleh segepok uang suap. Itulah masalah kita, karena memiliki anggota legislative yang tidak amanah dan kurang berkualitas

Kini saatnya berubah. Memontem pemilu menjadi bagian krusial pengentasan problematika bangsa ini. Optimislah, dari puluhan partai, masih ada partai yang bisa diharapkan. Dari ribuan caleg, masih ada yang pemilik akal-akal cerdas yang mampu menggoncangkan peradaban baru yang mencerahkan

Tinggal bagaimana kita memilihnya. Tentu, kita harus memilih arsitek yang sanggup memahami rakyatnya, kemudian memberi sesuatu yang positif bagi masyarakatnya. Itu semua bisa didapat dari wakil rakyat yang memiliki kesadaran integral, yaitu dengan menjaga hubungan dengan Tuhannya (hablum minallah) dan sesasamanya (hablum minannaas). Insya Allah. Wallahua’lam
Selengkapnya...