Rabu, 14 Oktober 2009

Political Financing

Hajatan pemilu telah usai. Presiden dan wakilnya yang baru pun sudah diputuskan. Kini yang sedang ngetren dalam pagelaran politik nasional adalah hajatan untuk mencari ketua umum yang baru di berbagai partai politik

Diawali oleh Partai Golkar yang menggelar musyawarah nasional (munas) di Pekanbaru, Riau. Januari tahun depan giliran PAN mengelar Kongres ke-3. Partai berlambang matahari terbit itu mendapuk Batam sebagai shohibul hajatnya. PKS pun sudah berancang-ancang. Dan sudah barang tentu parpol yang lain tinggal menunggu giliran

Namun sayang, Partai Golkar sebagai parpol pembuka dalam melakukan suksesi kepemimpinan justru meninggalkan banyak noktah hitam. Publik mencium aroma tidak sedap para kandidat bagi-bagi uang. Memang sudah diprediksi, politik transaksional bakal tumbuh subur di ajang perebutan ketua umum partai berlambang pohon beringin tersebut

Bertaburan uang dalam memilih pemimpin di Indonesia memang bukan barang baru. Hampir di setiap ajang pemilihan di level apapun, isu permainan uang menjadi berita yang kerap kali tak bisa dihindarkan. Mulai dari pemilihan ketua ranting sampai ketua umum. Memilih ketua fraksi sampai ketua DPR/D. Memilih kepala desa sampai kepala negara. Intinya memilih pemimpin di Indonesia ibarat melakukan pelelangan, siapa yang berani bayar lebih, maka dialah sang pemenang

Sebenarnya buramnya politik uang bukan hanya monopoli partai Golkar saja. Di panggung-panggung munas lain juga banyak terjadi praktek tebar uang untuk meraih posisi ketua umum. Atas nama political financing (pembiayaan politik) bagi-bagi duit dari Rp. 100 juta sampai Rp. 1 M pun harus dilakukan. Meski ada juga parpol yang suksesi kepemimpinananya relatif bersih

Sehingga wajar jika J Kristiadi di Kompas menulis, bahwa ranah politik adalah ajang lelang kekuasaan dan wilayah di mana kepentingan apa pun dapat dijadikan transaksi. Inilah lahan subur bagi para politisi melakukan petualangan, baik untuk memanipulasi kekuasaan, mencari proteksi, menghapus sejarah kelam masa lalu, maupun membangun citra.

Hal ini juga yang menjadi pemicu apatisme masyarakat dalam menggunakan haknya di bilik-bilik suara. Faktor yang menyebabkan tingginya golput, termasuk kian turunnya kepercayaan pada partai politik (salah satunya pada proses suksesi kepemimpinannya). Hal ini dapat dibuktikan dengan partisipasi masyarakat pada pemilu dan pilkada tingkat kesadaran pemilih dalam menggunakan haknya merosot.

Semoga Kongres PAN dan Munas PKS serta partai lainnya mampu memunculkan spirit baru yang mencerdaskan. Kemenangan yang didapat dengan cara yang elegan, sehinga perjuangan melalui partai memang benar-benar mampu diejawantahkan. Bukan yang mengatasnamakan political financing lantas melakukan politik transaksional. Semoga. Wallahua’lam


Selengkapnya...

Kamis, 08 Oktober 2009

Pemuda/i yang Dibenci

Suatu hari di belahan nusantara. Di depan mall kota-kota metropolitan. Di gang-gang kampung terpencil di pelosok negeri. Langit masih gelap tertutup awan, segelap bangsa ini yang ditutupi kabut permasalahan

Sekelompok pemuda asik kongkow. Suit … Suit … Mulut dan tangan mereka usil menggoda wanita-wanita yang lewat di depan mereka. Bualan gombal meluncur deras dari pemuda yang sedang duduk bergerombol. Tak jarang teriakan sumpah serapah memecahkan udara ketika sang wanita berani “melawan”

Sesekali mereka menyelingi dengan menyeruput Vodca atau Anggur Cap Orang Tua secara bergiliran. Atau memamerkan bagaimana cara menghisap mariyuana untuk berbagi “asap-asap surga”. Atau bahkan melakukan “demonstrasi” dengan jenis zat psikotropika yang beda dari biasanya

Di hari lainnya, para wanita berstatus pelajar dan mahasiswa mencari mangsa para pria. Dandanan mereka seksi. Tangannya manja melambai, mengetuk kaca mobil sambil melakukan “transaksi” di jalanan tanpa rasa malu
***
Bulan ini (Oktober). Tak lama lagi Indonesia akan memperingati hari Sumpah Pemuda. Meski latar cerita sejarahnya berbeda, namun ada kesamaan di dalam cita-citanya, yaitu ingin me-recovery bangsa

Hampir tidak ada perubahan di Negara manapun yang tanpa menyertakan pemuda di dalamnya. Di negeri ini pun sama, hampir tidak ada proses transformasi, baik politik, sosial dan lainnya tanpa andilnya mereka (pemuda)

Bung Tomo sang patriot bangsa yang tak henti-hentinya terus memikirkan nasib negaranya. “Cita-cita sejati seorang pejuang besar, ingin mendidik anak-anak muda bangsa menjadi patriot bangsa. Baginya perjuangan tak memiliki arti, bila tak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot”. Demikian bagian rencana dari Bung Tomo.

Nah, bagaimana dengan pemuda Indonesia saat ini? Memang benar masih ada sekelumit pemuda yang memang patut kita banggakan. Baik dari segi prestasi, kreativitas, dan karya emasnya. Tetapi jumlah mereka bisa kita hitung dengan jari. Bandingkan dengan golongan yang antagonis.

Padahal dalam antologi puisinya, Imam Syafi’i juga bersenandung “Siapa yang tidak mau ta’lim (membina) pada masa mudanya, maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena sejatinya ia telah mati (sebelum mati)”
***
Kemiskinan dan broken home adalah argumentasi yang sering mengemuka. Karena kemelaratan dan runtuhnya keluarga memang kadang manusia jadi kehilangan nurani. Meski jamak juga mereka yang hidup dalam serba boleh (permisif) hanya karena mengekor budaya barat (westernisasi) agar terlihat “modern”.

Tak peduli mereka miskin. Masak bodoh mereka terlahir dari orang tua yang berpenghasilan pas-pasan. Yang penting bergaya

Mereka akan menuai kebencian dari masyarakat dan Negara beserta para pahlawan. Salah siapa? Semoga kisah di atas segera sirna dari bumi Indonesia. Kita harus optimis karena agama mengajarkan keoptimisan. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda
Selengkapnya...

Senin, 05 Oktober 2009

Etnis Tionghoa: Kalau PKS Saya Percaya

Joko dan seorang pengendara mobil mewah beradu tatap. Tangan si pengendara keturunan Tionghoa kemudian mulai merogoh sakunya. Namun mendadak berhenti. Berganti matanya serius mengeja huruf demi huruf di kertas yang menempel di kardus milik Joko. Tak lama, ia pun mulai membuka perlahan kaca mobilnya seraya memasukan Rp 50 ribu ke kardus, sambil bertutur “Kalau PKS saya percaya”

Itulah sekelumit kisah penggalangan dana yang dilakukan kader-kader PKS Batam untuk membantu para korban gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter yang memporak porandakan beberapa wilayah di Sumatra Barat. Dari menjelang siang sampai malam mereka bergantian “shift” mengejawantahkan kepedulian

Gempa yang diprediksikan bakal merenggut sekira 4000 nyawa ini memang begitu menyedot perhatian dan empati. Di jalanan Batam pun ada begitu banyak organisasi yang ikut turun ke jalan menggalang dana bantuan

Namun “nama besar” PKS rupanya masih bisa diandalkan oleh para “donatur jalanan”. Buktinya banyak sekali para penyumbang yang membaca dahulu kalimat yang lekat di kardus para sukarelawan. Tak jarang para pengendara sengaja memanggil sukarelawan PKS, padahal sebelumnya sudah mondar-mandir sukarelawan organisasi lain ke dekat mobil/motornya

Di sela-sela lampu hijau, seorang sukarelawati curhat. Siswi OSIS SMP Islam Terpadu di bilangan Tiban itu mengatakan, “Om kok bisa dapat banyak sih?” “Yang gesit dan kasih senyum dong”, jawab saya sekenanya. Meski dalam hati menduga, ini lebih karena faktor “bendera” PKS (tentu juga karena takdir)

Meski ada juga sebagaian pengendara yang apatis atau bahkan tidak menaruh kepercayaan. Itu adalah bagian dari potret hidup kehidupan dalam memandang suatu kejadian.

Penjual Koran dan minuman pun “welcome” dengan keberadaan sukarelwan PKS. Sering kali ia memanggil saya memberi tahu ada pengendara yang akan kasih bantuan, meski ia harus gigit jari jajakannya sementara tak laku.

Dan ada satu hal yang membuatnya dapat pelajaran, yaitu setiap waktu sholat tiba para sukarelawan PKS itu menghentikan aktivitas penggalangan dana. Mereka berganti menggalang pahala menunaikan kewajiban kepada Tuhannya. Sholat dulu pak. I … iya, jawab penjual Koran terbata-bata

Ungkapan seorang keturunan Tionghoa itu adalah sebuah harapan. “Takjubnya” tukang Koran melihat kita berhenti dan bergegas sholat juga adalah sebuah keluarbiasaan. Dan itu hanya bagian kecil dari masyarakat yang memilki asa yang sama kepada PKS. Semoga dapat kita bisa menjaga dan menularkannya. Siapapun kita, kader, pengurus, apalagi aleg dan eksekutifnya


Selengkapnya...

Sabtu, 26 September 2009

Menjaga Semangat Ramadhan, Berat Juga Kan?

Mengagumkan! Saat Ramadhan kemarin, ketika panas terik matahari membakar kulit, pernahkah kita meneguk barang setetes-dua tetes air es secara diam-diam untuk menghilangkan kehausan yang luar biasa?

Atau ketika saat usus sudah mulai melilit dan perut pun keroncongan, maukah kita mencoba untuk berlari menuju jalan raya, masuk ke kedai yang banyak di temukan di pinggir jalan? Atau mungkin menuju ke dapur menyantap masakan sisa sewaktu sahur? Jawabnya sekedar terlintas pun sepertinya tidak.

Ya, meski kehausan. Meski sudah terserang lapar. Bahkan meski tak ada yang tahu seandainya kita meminum atau menelannya. ‘Doktrin’ macam apakah yang membuat kita (yang berpuasa) merasa tak pernah lepas dari pengawasan Rabbnya?

Luar biasa! Ketika Ramadhan yang belum lama berlalu, dalam keadaan super lelah, kita masih “memaksakan” diri untuk sholat tepat waktu. Tak lupa berdzikir dan bertilawah Al Qur’an. Mampu bangun sahur dan diteruskan dengan sholat subuh berjamaah di Masjid. Di malam-malam akhirnya pun terjaga untuk menjaring saktinya lailatul qodar.

Sesakit dan seperih apapun fitnah, guncingan dan celaan orang, kita tetap bersabar demi tetap menjaga konsistensi dalam merajut benang-benang ketaatan kepada Allah. Kita pun mampu memaafkan sebelum datangnya sodoran tangan dari sang pencela demi meraih derajat mulia berupa ketakwaan

Namun setalah belum berlalu begitu lama, apa kabarnya sholat lima waktu kita. Apa kabarnya dzikir dan tilawah Al Qur’an kita. Masihkah kita mampu menjaga subuhan di masjid? Dan masihkah menjadi insan-insan pemaaf?

Memang benar kata orang, merawat itu lebih susah daripada membangun. Membangun rumah itu susah dan butuh biaya. Namun lebih rumit lagi merawatnya agar tetap bersih, rapi dan semakin baik. Begitu pula dengan menjaga ketaatan yang penuh dengan godaan

Sholat lima waktu itu susah. Menjaga untuk tetap membaca kalam Allah itu butuh pengorbanan. Bangun malam dan memaafkan orang itu berat. Namun buktinya kita bisa melakukannya ketika Ramadhan. Namun mampukah kita masih merawatnya sampai kini? Semoga. Mari kita saling berdoa dan mengingatkan untuk kebaikan, karena memang menjaga nilai Ramadhan itu memang berat. Saya pun akui sudah mulai kedodoran. Astaghfirullah …



Selengkapnya...

Kamis, 24 September 2009

Lebaran dan Tergerusnya Nilai Spiritual dan Sosial

Untuk bisa tampil “beda” di hari lebaran, memiliki profesi ganda adalah pilihan “beken” bagi sebagian orang di negeri ini, tak terkecuali di Batam. Amatilah, maka kita (pasti) akan menemukan orang-orang yang bergelut dengan tambahan profesi barunya

Memang, di nusantara ini untuk menyambut hari kemenangan sungguh sangat fantastis. Bagi mereka Idul Fitri adalah pesta besar yang wajib dirayakan. Meski harus dengan pengorbanan materi, tenaga, pikiran dan tentu kadang juga jiwa

Sehingga tidaklah aneh manakala kita menyaksikan, baik di televisi maupun secara kasat mata, ada orang yang membawa setumpuk barang yang melebihi batas maksimum untuk keperluan pulang kampung. Berdesakan “hanya” untuk berebut kursi bus dan kereta api ekonomi. Atau yang terpaksa bergelantungan di bibir pintu serta di atas atap kereta api

Belum lagi budaya bermudik dengan menggunakan sepeda motor yang menyertakan seluruh anggota rumah tangga dalam satu kendaraan beroda dua. Pendek kata, mereka tidak peduli melanggar peraturan lalu lintas. Mereka bahkan kurang peduli dengan keselamatan nyawa demi sebuah obsesi dapat berlebaran di kampung halaman

Masalah Klasik
Di tengah hiruk pikuk kebahagiaan menyambut 1 Syawal, ada saja masalah klasik yang senantiasa hinggap, seolah menjadi “orchestra” wajib yang memekakan kuping masyarakat. Bonus satu bulan gaji yang dikenal dengan Tunjangan Hari Raya (THR) tetap tidak mampu “melawan” harga-harga kebutuhan primer, sekunder maupun tersier yang terus saja membumbung tinggi

Ongkos jasa semacam ojek, angkutan kota, bus antar kota antar provinsi serta pesawat juga ikut-ikutan latah harganya melangit dengan alasan lebaran. Bagi yang mendapat THR saja masih berpikir seribu kali, lantas bagaimana dengan yang tidak dapat (THR), semacam petani, pemulung dan profesi lainnya?

“Lagu Wajib” yang menyelinap di ruas-ruas kebahagiaan Idul Fitri inilah yang menjadikan hari kemenangan umat Islam menjadi mahal. Yang menjadi lebaran perlu modal besar. Sehingga mengharuskan setiap orang bekerja ekstra keras untuk memenuhi konsumsi lebaran

Apalagi sudah sekian lama, esensi hari kemenangan bergeser ke arah “materi”. Dandanan trendy, baju bagus dengan berbagai macam aksesoris. Sepatu, perhiasan dan kendaraan menjadi kultur baru yang berjalan seirama dengan syahdunya nuansa silaturahim bersama keluarga dan masyarakat. Rasanya tidak mantap manakala tidak dengan style yang “wah”

“Desertasi” masyarakat yang mengatakan bahwa lebaran adalah modal besar adalah penyebab sebagian orang (termasuk saya) yang terpaksa untuk memacu keringat lebih cepat keluar. Menegangkan otak untuk mencari terobosan agar “periuk” lebaran tetap aman

Yang jadi buruh maupun PNS (apalagi honorer) di waktu yang senggang nyambi menjadi tukang ojek atau berwiraswasta dadakan. Yang pejabat kadang harus memeras pengusaha. Pengusahanya memeras masyarakat dengan harga yang tinggi. Rakyat juga berharap dapat “angpau” dari para pemimpinnya. Ya, mirip siklus atau rantai makanan makhluk hidup

Bagi yang PNS, buruh apalagi pengusaha dan pejabat, kebutuhan berhari raya mungkin masih tercover. Namun bagaimana apabila mereka berprofesi ganda sebagai pemulung sekaligus pengemis seperti yang saya temui? Dan ini dilakukan oleh sekelompok anak kecil

Di saat hari masih gelap. Suara adzan subuh saja belum juga tenggelam. Di saat banyak anak seusianya masih terlelap merampungkan mimpi-mimpi indahnya, sekumpulan anak-anak justru sudah berkeliling menggendong karung putih lusuh yang diletakan di punggungnya, mengais rezeki dari sisa-sisa barang yang tak diperlukan lagi dari pemilik rumah

Mereka tidak mempedulikan papan yang tertulis “Pemulung Dilarang Masuk” di pintu masuk perumahan kami demi untuk bisa berlebaran layaknya teman-teman seumuran mereka. Sorenya (menjelang berbuka) dengan masih menenteng karung lusuh, mereka mendekat, menghiba dan meminta selembar rupiah untuk menyambung hidupnya

Uniknya, pemulung kecil itu semuanya perempuan dan Uniknya lagi mereka hanya “ngorbit” di saat bulan Ramadhan. Tidak di bulan-bulan lainnya. Apakah untuk memenuhi konsumsi hari raya? Jawaban pastinya itu yang saya belum tahu
*****
Kita tahu nilai-nilai spiritual dan sosial Idul Fitri sudah sekian lama tergerus oleh kultur konsumerisme. Meski sangat susah merubahnya, namun meski kita harus merubahnya, agar kita tidak jadi “korban” yang selanjutnya. Wallahua’lam



Selengkapnya...

Kamis, 27 Agustus 2009

PDIP-Golkar Merapat, Siapa yang Untung?

Rumor bakal merapatnya Partai Golkar (PG) dan PDIP ke kubu SBY semakin hari kian santer. Koalisi tambun itu akan mengancam jalannya pemerintahan karena bakal matinya mekanisme checks and balances. DPR dikhawatirkan tidak lebih sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah, sama seperti zaman Soeharto. Namun bisa saja bakal ada permainan politik lain, maka siap-siap saja SBY “dikadali”

Secara nyata, PDIP dan PG adalah musuh yang secara vis a vis berebut tahta politik tertinggi di negeri ini bersama SBY dari Partai Demokrat yang didukung rekan partai koalisi. Kemarin “bermusuhan” kemudian secara mengejutkan akan menjadi pendukung pemerintah. Ada apa ini?

SBY nantinya bakal dikadali lantaran ketika PDIP dan PG sudah mendapatkan kekuasaan dari hasil sharing power, mereka akan menunjukan watak aslinya, yaitu menjadi “musuh yang abadi”. Realita di lapangan, kedua partai besar tersebut tidak memiliki “kesetiaan politik” dalam mengusung agenda koalisi. Hal ini wajar, karena secara psikologi, sebagai partai “besar” pasti ingin menancapkan pengaruhnya di masyarakat

Selanjutnya, dengan masuknya PDIP dan PG secara de facto telah merusak bangunan rumah koalisi yang selama ini sudah dibangun. Partai-partai koalisi merasa dizalimi lantaran partai yang tidak berkeringat dan menjadi rival justru mendapat kue yang lebih enak lagi lezat

Apabila bila benar terjadi (masuk ke kabinet) maka ujungnya adalah tidak “ikhlas”nya kerja dari partai yang berbasis massa dari Islam ini. Inilah kerugian ganda apabila SBY jadi menerapkan strategi baru yang diberi label “rekonsiliasi” politik ini

PDIP pun setali tiga uang. Partai yang dipimpin oleh Megawati ini pun bakal mendulang kerugian. Pasalnya di lapisan grass root, banyak kader moncong putih ini yang tetap menginginkan PDIP berada pada jalur oposisi. Selain itu, kesan plin plan bakal lebih lekat untuk PDIP ini. Apalagi barter yang didapat “hanya” Ketua MPR dan jabatan menteri yang kurang “basah”.

Jika semuanya rugi, lantas siapa yang untung dari merapatnya PG dan PDIP? Satu-satunya partai yang beruntung adalah PG karena umur politiknya terselamatkan. Kekuasaan bagi PG adalah nafasnya. Manakala masih diberi kekuasaan, tandanya PG bakal masih hidup bahkan untuk kasus sekarang akan lebih dahsyat lagi mengoyak-ngoyak peta politik nasional pada 2014. Buktikan saja!



Selengkapnya...

Selasa, 25 Agustus 2009

Ketika Mas Gagah Pergi

Karya: Helvy Tiana Rosa

Mas Gagah berubah!. Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!. Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji.

Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak.

Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol. Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !
“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih koskosong nggak sih ?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?
“Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He…he…he..” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat !

Itulah Mas Gagah!. Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
–=oOo=–
“Mas Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikuuum!” seruku. Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin kasetnya !” kataku sewot. “Lho emang kenapa ?” “Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab… , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut. “Ini nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !” “Bodo !”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek…, mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…, eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!” “Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”

“Pokoknya kedengaran!”. “Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho !” “Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood atau Giginya?

“Wah, ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !” begitu kata Mas Gagah.
Oalaa !
–=oOo=–

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma ‘adik kecil’nya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Sholat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam.

Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya,”Ayo dong Gita, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu !”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Gito, bukan Gita! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga mama menegurnya.. “Penampilanmu kok sekarang lain, Gah?’. “Lain gimana, Ma ?” “Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”

Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.” Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino,” komentarku menyamakannya dengan sopir kami. “Untung saja masih lebih ganteng.”

Mas Gagah cuma terawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu.
Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan.

Dan…yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan!! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah? “Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang !”

“Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat khan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”

Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?

Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. “Baca!”
Kubaca keras-keras. “Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!”
Si Mas tersenyum.

“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.
“Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?” kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya, Dik Manis !?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel. Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik ! Aku jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun…, akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru dua puluh satu tahun tapi sudah tingkat empat di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…, yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
–=oOo=–

“Mau kemana, Git!?” “Nonton sama teman-teman.” Kataku sambil mengenakan sepatu. “Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!” “Ikut Mas aja, yuk!”

“Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang bego di sana!”
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat.

Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang nggak bisa aku sembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalaamu’alaikum!” terdengar suara beberapa lelaki. Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?” tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome!
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt !”

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab…, yaaa begitu deh!!
–=oOo=–

“Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!” seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

“Ikhwan?” ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

“Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita,” ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
“Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang dien kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.

“Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Gita…, meski kita kini punya pandangan yang berbeda,” ujar Tika tiba-tiba.
“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…,” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. “Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Ana.”
“Mbak Ana ?”

“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!” “Hidayah ?” “Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Ana!”
–=oOo=–

“Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan…, eh Mas Gagah !” tegurku ramah. “Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

“Dari rumah Tika, teman sekolah,” jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?” tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, ganbar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku ke-Islaman..
“Cuman lagi baca !” “Buku apa ?”

“Tumben kamu pengin tahu?”
“Tunjukin dong, Mas…buku apa sih?” desakku.
“Eit…, Eiiit !” Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. “Nih!” serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah.

“Nah yaaaa!” aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku ‘Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam’ itu..
“Maaaas…”
“Apa Dik manis?”
“Gita akhwat bukan sih?”
“Memangnya kenapa ?”
“Gita akhwat apa bukan ? Ayo jawab…,” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu jadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk petamakalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya!!

“Mas kok nangis?”
“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di Belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit…”

Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

“Kok…tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” tanya Mas Gagah tiba-tiba.
“Gita capek marahan sama Mas Gagah !” Ujarku sekenanya.
“Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”
“Tenang aja, Gita nyambung kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan hal demikian. Aku ngerti deh meski nggak mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!
–=oOo=–

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi sepeti dulu. Meski aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum. Atau ke tempat-tempat tabligh Akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut.

“Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku. Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga gitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu.

Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek!
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab, Git !” pinta Mas Gagah suatu ketika.

“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!”
Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Kayak Mama”. Memang sudah beberapa hari ini mama berjilbab. Gara-garanya dinasehatin terus sama si Mas, di beliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin sama teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau, tapi nggak sekarang…,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depan (ceila) dan semacamnya.
“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah!

“Ini hidayah, Gita!” kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
“Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Gita pakai rok aja udah hidayah!” “Lho?” Mas Gagah bengong.
–=oOo=–

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara Studi Tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, “Hei, itu kan Mas Gagah-ku !”

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah bisa sih?

Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yamh dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar! Pada kesempatan itu juga Mas Gagah berbicara tentang muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi.

“Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana taqwa, sebagai identitas muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam sendiri,” kata Mas Gagah. Mas Gagah terus bicara. Tiap katanya kucatat di hati ini.
–=oOo=–

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdalah.

Aku mau ngasih kejutan buat Mas Gagah! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan tasyakuran ultah ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!” kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang.

“Mas Gagah belum pulang,” kata Mama.
“Yaaaaa, kemana sih, Ma??!” keluhku.
“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”
“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid.”. “Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari ini,” hibur mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Gagah.

“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh !” Mama tertawa. Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.
–=oOo=–

Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga.
“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh…” hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

“Nginap barangkali, Ma?” duga Papa.
Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!”
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.
“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !!” Telpon berdering.

Papa mengangkat telepon. “Halo, ya betul. Apa? Gagah???”
“Ada apa , Pa?” tanya Mama cemas.
“Gagah…, kecelakaan…, Rumah Sakit… Islam…,” suara Papa lemah.
“Mas Gagaaaaaahhh!!!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
–=oOo=–

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika, sedang kondisi Mas Gagah kritis.

Dokter melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.
“Tapi saya Gita, adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!” kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku, “Sabar, Sayang…, sabar.”
Di pojok ruangan papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?” air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa gagah enerjik itu bahkan tak bergerak!
“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…, Mas…Gagah…, Gita udah jadi adik Mas yang manis. Mas… Gagah…,” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…, Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah…, umat juga.”

Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama ibu, bapak, dan Gi…”. “Gita..” suaraku serak menahan tangis.
“Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…, lukanya terlalu parah,” perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!

“Mas…, ini Gita, Mas…,” sapaku berbisik. Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu. Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai.. jilbab,” lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya. Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

“Dzikir…, Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang…
“Gi…ta…”. Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!
“Gita di sini, Mas…”. Perlahan kelopak matamya terbuka. Aku tersenyum.
“Gita… udah pakai… jilbab…,” kutahan isakku.
Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.

“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…,” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…, sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!

Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…, Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

“Laa…ilaaha…illa…llah…, Muham…mad…Ra…sul…Al…lah…,” suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.

Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.
Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.
Selamat jalan, Mas Gagah !
–=oOo=–
(Epilog)
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah !
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.
Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, Aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya wajah para Mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema di ruang ini…

Setitik air mataku jatuh lagi.
“Mas, Gita akhwat bukan sih?”
“Ya, Insya Allah akhwat!”
“Yang bener?”
“Iya, dik manis!”
“Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!”
“Kok nanya gitu?”
“Lha, Mas Gagah ada jenggotnya!”
“Ganteng kan?”
“Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?”
“Ya always dong ! Jihad itu… “

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.
Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.
Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan, Mas Gagah!



Selengkapnya...