Kamis, 09 Juni 2011

Menimbang Kompetensi dan Track Record

(Sebuah catatan untuk Wali Kota dan Baperjakat)

Dalam Perang Mu’tah satu demi satu komandan pertempuran gugur. Agar barisan kaum muslimin tidak kocar-kacir, salah satu sahabat Rasulullah, Tsabit bin Aqram mengambil alih sebagai komandan. Ia sengaja mengambil tongkat kepemimpinan bukan karena memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, namun dengan alasan agar pasukan Islam tetap dalam satu komando kepemimpinan.

Belum berapa lama Tsabit memegang panji perang, ia segera menuju Khalid bin Walid untuk menyerahkan estafet kepemimpinannya yang barusan ia pegang. Dengan penuh adab dan rasa tahu diri yang tinggi, Khalid menolak tawaran tersebut.

Khalid menolak bukan karena ciut nyalinya menghadapi musuh yang jumlah pasukannya banyak. Ia menolak karena Tsabit bin Aqram menurutnya lebih berhak untuk menjadi jenderal lapangan dibanding dirinya.

Tsabit di mata Khalid adalah orang yang lebih pantas didaulat sebagai pemimpin karena ia adalah orang yang lebih dulu masuk Islam. Selain itu Tsabit juga lebih tua yang tentu memiliki kematangan dan pengalaman yang banyak dalam taktik dan strategi. Apalagi Tsabit merupakan “alumni” Perang Badar , sebuah peperangan dahsyat yang justru pada saat itu Khalid berada dalam barisan musuh.

Namun Tsabit tetap ngotot agar Khalid bersedia menggantinya sebagai pemimpin. Ia melepaskan embel-embel orang yang lebih senior. Ia juga mencampakan aji mumpung sebagai alumni Perang Badar. Argumentasinya, Khalid adalah orang yang lebih paham dalam strategi pertempuran melebihi dirinya.

Selain itu ada “isyarat spiritual”. Ia pernah mendengar orang yang paling dikagumi sekaligus pemimpin pusatnya, yaitu Nabi Muhammad pernah mengatakan dalam diri Khalid terdapat multi talenta.

Ringkas cerita Khalid menerima “ban kapten”. Dan ia pun mampu “memenangkan” pertempuran dengan meloloskan 3000 tentara muslim yang menghadapi 200 ribu pasukan Romawi yang berkoalisi dengan Arab Badui.

Dari sejarah di atas, ada ‘ibrah (pelajaran) berharga bahwa sebuah jabatan itu tidak hanya diberikan atas dasar kompetensi, namun juga faktor rekam jejak (track record) yang mulus dari sisi-sisi negatif. Tidak ada faktor balas jasa atau akan dijadikan mesin uang penguasa.
Selengkapnya...

Sabtu, 04 Juni 2011

Ilmu dan Takwa

Hayaatul fataa wallahi bil 'ilmi wattuqoo, idzaa lam yakuuna la'tibaaro lidzaatih. Demi Allah, sesungguhnya kehidupan pemuda ialah dengan ilmu dan ketakwaan kepada Allah. Jika keduanya tidak ada maka tidak berartilah kehidupannya.

Kalimat di atas bukanlah hadits Rasulullah, bukan pula pernyataan para sahabatnya yang luar biasa. Namun pernyataan di atas adalah ungkapan dari "maestro" madzhab yang bernama Imam Syafi'i.

Ungkapan ini menyiratkan bagaimana vitalnya ilmu dan ketakwaan bagi diri pemuda. Ilmu tanpa dibarengi oleh ketakwaan hanya akan mengkaryakan kerusakan. Sedang ketakwaan tanpa dilandasi oleh keilmuan justru akan menyesatkan.

Selengkapnya...

Jumat, 03 Juni 2011

Generasi Terburuk

Salah satu dambaan kita dalam hidup ini adalah lahir dan terwujudnya generasi yang terbaik. Indikasi terwujudnya generasi yang terbaik memang sudah ada, misalnya dengan banyaknya kaum muslimin yang memiliki komitmen yang begitu kuat terhadap Islam sebagai agama yang harus diamalkan dalam kehidupan nyata dalam berbagai aspeknya.

Namun bila dibandingkan dengan generasi yang sebaliknya, rasanya terwujudnya generasi yang terbaik masih amat jauh, hal ini karena begitu banyak generasi manusia yang memiliki profil generasi yang terburuk. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw menyebutkan tentang ciri-ciri generasi terburuk yang harus kita jauhi, hadits tersebut berbunyi:

"Akan datang suatu masa atas manusia: cita-cita mereka hanya untuk kepentingan perut, kemuliaan mereka dilihat dari perhiasan mereka, kiblat mereka adalah wanita-wanita mereka dan agama mereka adalah uang dan harta benda. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk dan tidak ada bagian untuk mereka di sisi Allah". (HR. Dailami).

Dari hadits di atas, terdapat empat ciri dari generasi terburuk. Karena harus kita jauhi, maka memahami maksud hadits tersebut menjadi sesuatu yang amat penting. Keempat ciri generasi terburuk itu antara lain,

Pertama, mementingkan perut.

Salah satu keinginan manusia dalam hidupnya adalah memiliki perut yang kenyang dengan berbagai jenis makanan, kenyang pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dilarang, tapi kalau segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan perut merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita.

Mementingkan perut berarti seseorang ingin mendapatkan dan memiliki kekayaan meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan meskipun seseorang sudah mendapatkan rizki secara halal, hal itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja sehingga tidak peduli dengan kekurangan yang dialami oleh orang lain.

Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, takut tidak mendapatkan rizki yang membuatnya takut menanggung resiko dalam menjalani kehidupan secara benar.

Karena itu, orang yang mementingkan perut menjadi manusia yang mau melakukan sesuatu bila menguntungkan secara materi sehingga motivasi dari apa yang dilakukannya adalah hal-hal yang dapat menyenangkan kehidupan duniawinya dan tidak mau melakukan sesuatu yang baik sekalipun, manakala hal itu mengakibatkan kesulitan dalam hidupnya, apalagi kalau sampai mengakibatkan perutnya menjadi lapar.

Oleh karena itu, ibadah Ramadhan mendidik kita menjadi manusia yang mampu menghadapi kehidupan lapar atau sulit meskipun sebenarnya pendidikan ini hanya berlangsung hanya dalam beberapa jam saja dalam satu hari. Itu sebabnya, kesabaran merupakan faktor penting dalam menghadapi cobaan lapar, Allah berfirman:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS 2:155).

Ciri kedua dari generasi terburuk yang harus kita hindari adalah memuliakan perhiasan.

Dalam hidup ini, manusia menghiasi dirinya dengan berbagai perhiasan hidup seperti rumah yang besar dan bagus, kendaraan yang mewah, pakaian yang mahal, perhiasan emas yang berat dan seterusnya.

Semua itu dijadikan sebagai ukuran bagi kemuliaan seseorang, padahal kita tahu bahwa hal-hal itu hanya aksesoris dalam kehidupan manusia, karena itu sangat naif bila semua itu dijadikan sebagai simbol kemuliaan, karenanya generasi terburuk menjadikan perhiasan hidup sebagai ukuran kemuliaan seseorang, sementara generasi yang mulia menjadikan ketaqwaan yang mantap sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, karena Allah Swt akan memuliakan seseorang berdasarkan ketaqwaannya, Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu". (QS 49:13).

Manakala kemuliaan seseorang diukur berdasarkan perhiasan yang digunakannya, itu menunjukkan bahwa kita adalah hamba-hamba harta dan perhiasan yang sangat tercela, Rasulullah Saw bersabda:

"Binasalah hamba dinar, binasalah hamba dirham, binasalah hamba sutra/perhiasan" (HR. Bukhari).

Ketiga yang merupakan ciri generasi terburuk adalah mengagungkan wanita.

Salah satu dari ciri generasi terburuk adalah mengagungkan wanita. Yang dimaksud dengan mengagungkan wanita adalah menuruti syahwat atau nafsu seksualnya terhadap wanita yang tidak halal baginya atau memenuhi ajakan wanita untuk melakukan perzinahan, ini merupakan sesuatu yang sangat hina, karenanya harus dijauhi, Allah berfirman:

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". (QS 17:32).

Karena itu, apabila seorang muslim mampu menolak ajakan wanita untuk berzina dengan perasaan takut kepada Allah, maka dia termasuk orang yang akan mendapat perlindungan dari Allah yang pada hari itu tidak ada perlingungan kecuali hanya dari Allah Swt, hal ini disabdakan oleh Rasulullah Saw:

"Tujuh golongan orang yang akan dinaungi oleh Allah yang pada hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya: ... seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah". (HR. Bukhari dan Muslim).

Disamping itu, mengagungkan wanita juga bisa kita pahami sebagai memenuhi keinginan-keinginan yang tidak baik dari wanita, termasuk seorang suami yang takut kepada isterinya sehingga harus memenuhi keinginan isterinya yang tidak benar, ketakutan kepada isteri membuat suami tidak berani meluruskan atau memperbaiki kesalahan isterinya, padahal isteri merupakan tanggung jawab suami untuk diselamatkan dari api neraka, Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu". (QS 66:6).

Ciri keempat dari generasi terburuk adalah gila harta.

Dalam Islam, uang dan harta merupakan sesuatu yang boleh dicari dan dimiliki bahkan Allah Swt memerintahkan manusia untuk mencari harta yang banyak, namun semua itu harus dalam kendali bukan malah manusia dikendalikan oleh harta, bila itu yang terjadi, maka harta telah dijadikan sebagai agama sehingga tujuan hidupnya adalah memperbanyak harta, termasuk dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya sehingga dengan demikian manusia dilalaikan oleh hartanya, ini merupakan sesuatu yang amat buruk, Allah Swt sendiri telah mengingatkan soal itu di dalam firman-Nya:

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu) itu". (QS 102:1-4).

Oleh karena itu, Allah Swt berfirman untuk mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak lupa kepada Allah hanya karena persoalan harta, Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi". (QS 63:9).

Dari gambaran di atas, amat terasa bahwa ciri-ciri generasi yang terburuk sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw ternyata dimiliki oleh generasi kita pada masa sekarang, itu sebabnya, diantara generasi kita yang hidup pada masa sekarang termasuk ke dalam kelompok generasi yang terburuk.

Karena itu, menjadi kewajiban kita bersama untuk memperbaiki generasi kita agar kehidupan masa depan dapat kita songsong dengan keyakinan dan optimisme sebagaimana mestinya.


Oleh Drs. Ahmad Yani, Ketua LPPD Khairu Ummah
Selengkapnya...

Kamis, 26 Mei 2011

Pajak Penerangan Jalan Umum Naik

Pengesahan Ranperda Pajak - Pajak Daerah Kota Batam oleh DPRD, mendapat penolakan oleh beberapa masyarakat yang melakukan aksi damai di depan gedung wakil rakyat.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gebrak sengaja menggelar aksinya dikarenakan tidak adanya transparansi dalam pembahasan ranperda tersebut. , "Tidak adanya transparansi dalam pembahasan ranperda pajak," terang Uba Ingan Sigalingging, Ketua Gebrak, Rabu (25/5).

Uba menilai informasi tentang sidang paripurna cenderung ditutup-tutupi, serta kenaikan pajak ini tidak layak karena perekonomian kota Batam belum begitu stabil.

Namun tuntutan dari Gebrak tidak ada satupun anggota dewan yang menemuinya. Hal itu lantaran demonstrasi yang digelar berbarengan dengan sidang Paripurna Pengesahan Ranperda Pajak - Pajak.

Sidang paripurna seolah tidak mau terganggu dengan aksi Gebrak tersebut. Buktinya Yudi Kurnain sebagai Ketua Pansus Pajak tetap menyampaikan hasil pembahasan pansus yang telah dibentuk sejak 29 Februari 2011 dengan masa kerja 90 hari itu.

Yudi membacakan bahwa pajak hotel, restoran, parkir, reklame, mineral bukan batu dan pajak hiburan tidak mengalami kenaikan. Legislator PAN ini beralasan untuk pajak-pajak yang tidak mengalami kenaikan diyakininya masih bisa memberikan pendapatan yang maksimal dengan cara optimalisasi sistem dan kinerja yang ada.

Namun untuk Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) justru mengalami kenaikan secara progresif mulai dari tahun 2011 sebesar lima persen, dan pada tahun 2012 sebesar enam persen.

Yudi beralasan, Pajak PJU ini di bawah dari daerah lain dan dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan untuk perbaikan dan penambahan prasarana yang sudah ada.

Selanjutnya ranperda dan akan diserakan ke gubernur dan selajutnya ke Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan. (arju)

sumber: http://batamheadlines.com/kabar/baca/pajak-penerangan-jalan-umum-naik
Selengkapnya...

Blog, Aku Kembali

Setelah sekian lama "berasyik masyuk" dengan mainan baru berupa facebook dan twitter, hari ini aku kembali. bahkan pulangnya saya saat ini ke rumah maya kedua ini diikuti oleh semangat yang kuat untuk merawatnya lebih kuat.

Memang manusia kadang sering berpaling. Jangankan dengan kesenangan duniawi semacam facebook. Allah, sang pencipta yang telah memberikan jutaan kenikmatan yang jelas tak mampu kita eja, juga kerap kita palingkan.

faidza azamta fatawakkal 'alallah.
Selengkapnya...

Selasa, 23 November 2010

Strategi Kenabian Menuju Kemenangan

Beberapa bulan ini berita terkait pemilukada begitu santer. Di media cetak maupun elektronika hampir semuanya memberitakan proses dan tahapan pesta demokrasi tingkat kota tersebut, baik aktivitas sosialisasi para kandidat, informasi harta kekayaan, pengecekan kesehatan sampai pengundian nomor urut Calon Walikota-Wakil Walikota Batam

Sesuai nomor urut, mereka adalah, Ahmad Dahlan-Rudi, Ria Saptarika-Zainal Abidin, Nada F Soraya-Nuryanto, Aripin-Irwansyah dan Amir Hakim Siregar-Syamsul Bahrum. Kini mereka tinggal menyusun strategi untuk menjadi pemenang dalam pertarungan yang akan digelar pada 5 Januari tahun depan

Untuk bisa menjadi the champion banyak pengamat memberikan analisanya. Salah satunya Burhanuddin Muhtadi mengatakan, untuk bisa memenangkan pemilukada kandidat harus memiki 6 M, yaitu men (ketokohan), money (modal biaya), machine (mesin politik), media (strategi branding), market (penerimaan pasar) dan terakhir adalah momentum (takdir)

Selain cara-cara “bumi”, strategi “langit” juga harus diimplementasikan oleh para calon. Strategi langit yang dimaksud oleh penulis adalah mengadopsi langkah kenabian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam “memenangkan” agenda keumatan, termasuk agenda politik

Ketika baru masuk ke wilayah Madinah, statement pertama yang disampaikan Rasulullah kepada penduduk (Madinah) yang sudah menunggunya yaitu “Wahai manusia tebarkanlah salam, berbagilah makanan, sambunglah silaturahim, sholatlah di malam sementara manusia tidur, (niscaya) kalian memasuki surga dengan kedamaian.” (HRTurmudzi dan Ibnu Majah)

Berdasar hadits di atas ada empat pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada masyarakat Madinah. Dan dengan empat pesan inilah Rasulullah mampu mengkonsolidasikan elemen-elemen yang ada di Madinah yang pada saat itu kondisi masyarakatnya dalam keadaan majemuk

Empat messages Rasul tersebut tiga bernuansa kemanusiaan, yaitu menebar salam, memberi makan dan menyambung silaturahim. Satu hal yang berdimensi transcendental yaitu anjuran untuk menghidupkan sholat malam.

Jika langkah nabi tersebut penulis bahasakan ke dalam istilah pemilukada, maka menebar salam adalah sosialisasi, memberi makan yaitu mengasah kepedulian dan menyambung silaturahim merupakan upaya untuk rajin turun ke masyarakat serta sholat malam adalah ketataatan kepada Tuhannya

Pertama, Sosialisasi. Dengan memberi informasi yang massif, maka masyarakat akan mengenal lebih dalam siapa calon pemimpin Batam yang akan mereka pilih. Sosialisasi ini bisa dilakukan dengan cara menemui langsung masyarakat maupun melalui media lain, seperti media elektronika, media cetak, baliho dan banyak lainnya

Ada yang perlu terus dijaga konsistensi seluruh kandidat (tentunya timses) yaitu pola sosialiasi harus inklusif. Maksud penulis adalah model sosialisasinya untuk semua, bukan saja kepada basis massa partai-partai pengusung maupun pendukung, kesamaan agama dan suku dengan kandidat, namun harus merangkul semuanya

Dalam hal sosialisasi penulis anggap semua kandidat on the track dalam mengemas cara komunikasinya, yaitu tidak ada pemilahan objek target. Langkah tersebut juga dilakukan Nabi Muhammad ketika bersosialisasi di Madinah dengan kalimat pembukanya “wahai manusia”, bukan “wahai kaum beriman”. Pemilihan kata ini sangat tepat di tengah kemajemukan Madinah pada saat itu

Hal ini sangat penting, karena meski agak berbeda kondisi antara Madinah dan Batam, namun keduanya ada kesamaan yaitu masyarakatnya majemuk, baik majemuk dari sisi agama maupun plural dari segi etnis.

Kedua, Peduli. Kepedulian posisinya di atas wacana, karena sudah dalam taraf tindakan, bukan sekedar ajakan. Memberi pertolongan kepada orang yang sedang membutuhkan tentu memberi kesan yang dalam, apalagi jika kepeduliannya diterapkan kepada orang yang pas pasti akan sangat berkesan

Pendekatan “kepedulian” sangat tepat diejawantahkan di perpolitikan negeri ini. Tipikal masyarakat Indonesia pada umumnya (termasuk Batam) adalah suka dibantu dan (maaf) cenderung pragmatis. Sebagian masyarakat menilai baik-buruknya seseorang kandidat diukur dengan kepuasan fisik yang sudah diberikan kepada masyarakat.

Politik kepedulian memang memakan biaya tinggi, sehingga harus diejawantahkan secara tepat. Apalagi masyarakat saat ini sudah “cerdas” memanfaatkan momen politik sebagai ajang untuk mendapatkan bantuan

Ketiga, Turun ke masyarakat. Hasil survey LSI menunjukan masyarakat Batam mengidamkan pemimpin yang perhatian dan bersih dari korupsi menempati urutan tertinggi. Dan turun ke masyarakat merupakan bagian khusus dari sifat perhatian yang disenangi oleh masyarakat

Agar efektif, kandidat harus mengidentifikasikan terlebih dahulu kebutuhan dari masyarakat yang akan dikunjunginya. Pendekatan yang digunakan biasanya tidak terlepas dari tiga hal, pendekatan ideologis dan konsep, pendekatan budaya dan pendekatan sosial

Dan faktor ketokohan dalam perpolitikan Indonesia masih sangat mujarab untuk mensukseskan seorang calon. Tokoh agama, tokoh masyarakat dan adat di Indonesia masih memiliki peranan strategis untuk memuluskan jalan kandidat menuju Engku Putri, untuk itu turun ke masyarakat dengan menyertakan para tokoh meruapakan cara yang jitu

Ide-ide yang diutarakan juga harus sesuai dengan bahasa masyarakat. Sebagus apapun gagasan yang ditawarkan jika tidak dipahami oleh warga maka menjadi pepesan kosong yang justru membingungkan (miss understanding)

Empat, Ketaatan. Dalam perspektif Islam, ketaatan merupakan proses pengokohan diri secara lebih dekat kepada Allah. Pengokohan diri yang berdimensi spiritual mengalir ke dalam prilakunya. Ia tidak muncul dengan cara dibuat-buat.

Di musim pemilukada semuanya bisa dipoles dengan pencitraan yang “sempurna”. Sosialisasi bisa dipermak dengan media pencitraan. Sikap peduli rakyat bisa dibuat secara mendadak dengan rajin datang ke kantong-kantong kemiskinan dan menebar kepedulian layaknya Sinterklas.

Begitu juga sama dengan turun ke masyarakat, semuanya bisa dipoles. Namun ketaatan tidak bisa dikadali hanya karena menggunakan kopiah dan bersedekah di masjid.
Ketaatan muncul dari keteguhan iman dan kekokohan mental. Faktor ketaatan juga bisa menjadi parameter masyarakat untuk memilih pemimpinnya, karena dengan memiliki pemimpin yang taat kepada Tuhannya akan sangat berpengaruh terhadap kekuatan fisik dalam menghadapi pekerjaan yang berat disertai rasa tanggung jawab.

Penulis percaya, dari kelima pasang kandidat tidak ada yang memiliki ketatan yang “sempurna”, namun pasti dari yang kelima pasang calon ada yang terbaik untuk kemaslahatan Batam ke depan. Wallahua’lam

*. Diterbitkan di Harian Haluan Kepri - Selasa, 23 November 2010
Selengkapnya...

Senin, 20 September 2010

Menimbang Peluang Incumbent

(Mengupas Dahlan VS Ria dengan 6 M)

Saat opini ini ditulis, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam sedang membuka tahapan pendaftaran calon Walikota dan Wakil Walikota. Beberapa hari lalu sudah ada beberapa parpol dan gabungan parpol serta independen mengambil formulir pendaftaran.

Peta politik pemilukada sudah mulai “kelihatan”. Beberapa parpol besar dan menengah sudah mengirimkan paket jagoannya ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) masing-masing. Dalam hitungan hari, publik akan mengetahui siapakah pasangan resmi yang mendapat restu dari sang atasan mereka.

PDIP sudah mengusulkan dua pasangan, yaitu Ria Saptarika – Nuryanto dan Nada F Soraya – Jamsir. PAN dalam rapat pleno sepakat mengirim empat cawako dan empat cawawako. Mereka adalah Asnah, Erva Ertos, Istono dan Asman Abnur. Sedang Yudi Kurnain, Hardi S Hood, Chablullah Wibisono dan Irwansyah sebagai Cawawako

Meski belum memenuhi 15 persen kursi parlemen, pasangan Amir Hakim – Syamsul Bahrum sudah sepakat menjalin hubungan serius. Besar kemungkinan mereka akan menyertakan Koalisi Amanat Rakyat. Dan jauh sebelum itu, Partai Demokrat (PD) sudah mendaulat incumbent Ahmad Dahlan untuk berlaga kembali di ajang pemilukada yang akan dilaksanakan pada Rabu, 5 Januari 2011 meski belum jelas akan berpasangan dengan siapa.

Dahlan Atau Ria?
Bukan maksud mengecilkan peluang pasangan lain, penulis sangat tertarik menyoroti “pertempuran” baru antar incumbent. Ahmad Dahlan sebagai Walikota saat ini yang akan head to head dengan Ria Saptarika yang sekarang juga masih menjadi partnernya di Pemko Batam

Bagi penulis, antara Dahlan dan Ria memiliki kekuatan yang merata. Jika keduanya resmi berhadapan maka akan menjadi perhelatan pemilukada yang menarik. Siapakah yang bisa melenggang ke Engku Putri tinggal bagaimana mereka menetapkan wakilnya. Apakah bisa menambah pundi-pundi suara atau justru sebaliknya?

Peneliti senior LSI, Burhanuddin Muhtadi mengatakan kunci sukses seorang terpilih sebagai pemimpin terdiri dari enam hal. Enam faktor tersebut terangkum dalam 6 M, yaitu men (ketokohan), money (modal biaya), machine (mesin politik), Media (strategi branding), market (penerimaan pasar) dan terakhir adalah momentum (takdir)

Lantas bagaimana enam hal di atas dijadikan alat untuk menakar peluang dua pejabat yang sedang menjabat tersebut pada ajang pesta demokrasi tertinggi tingkat kota nanti?

Pertama, Men. Secara ketokohan, posisi Ahmad Dahlan yang menjabat sebagai Walikota pasti popularitasnya lebih tinggi dari Ria Saptarika. Bahkan dalam beberapa survey yang di-claim oleh PD Kota Batam, Ahmad Dahlan menjadi calon yang teratas yang dikehendaki oleh mayoritas masyarakat Batam

Namun yang harus diketahui, menurut pemaparan Koordinator LSI Wilayah Riau – Sumbar – Jambi dan Kepri, Edi Indrizal, hasil survey LSI pada lebih dari 100 pemilukada, kandidat yang tingkat elektabilitasnya pada enam bulan sebelum hari H pemilukada kurang dari 40 persen (<40%), mayoritasnya justru berat untuk menang

Meski penulis belum melihat secara pasti angka kemenangan Ahmad Dahlan, namun dapat dipastikan keunggulan Walikota atas “rival-rivalnya” tidak mencapai 40 persen

Kedua, Money. Tidak dipungkiri biaya politik di negeri ini memang sangat mahal. Hal ini “wajar”, mengingat strategi pemenangannya pun menggunakan biaya. Dari pembuatan baliho, spanduk dan stiker. Belum lagi iklan di media cetak dan elektronika maupun kegiatan tatap muka dan pemanasan mesin politik yang semuanya menggunakan uang yang tidak sedikit

Terkait dengan pembiayaan untuk pemenangan Ahmad Dahlan maupun Ria Saptarika penulis haqqul yaqin mereka sudah menyediakannya. Besarannya berapa tergantung kesepakatan partai koalisi

Ketiga, Machine. Mesin politik sangat berperan untuk mengantarkan Ahmad Dahlan atau Ria Saptarika menuju Engku Putri. Menurut penulis secara nasional, partai yang memiliki mesin yang handal adalah PKS, PDIP dan Partai Golkar. Jadi seandainya Ria jadi berdampingan dengan PDIP maka modal mesin politiknya sangat kuat

Di kubu Dahlan justru sebaliknya. Di saat PKS dan PDIP semakin mesra, mesin di tubuh partai pemenang pemilu tersebut justru terjadi keretakan. Pemantik keretakan ini datang dari proses penjaringan cawako dan cawawako yang tidak sesuai mekanisme. Selain itu keinginan kader PD untuk menduaetkan kader internal juga menjadi permasalahan serius

Ketua PAC PD Batam Kota mengatakan: “Kader PD Kota Batam menjamin mesin politik partai tidak akan berjalan maksimal pada Pilkada mendatang apabila calon wakil walikota bukan dari internal PD” (Sijori Mandiri: 18/9)

Keempat, Media. Sejak adanya pemilihan langsung kalimat branding (pencitraan) sangat populer dalam dunia politik di Indonesia. Pencitraan di media digunakan oleh semua kandidat untuk mengenalkan diri ke publik guna meraup simpati dan dukungan

Ahmad Dahlan sebagai Walikota sangat diuntungkan dalam kemunculannya di media cetak maupun eletronika di Batam. Apalagi setelah tiga tahun Dahlan-Ria bergandengan, publikasi media untuk Ria Saptarika terasa dibonsai. Namun di sisi lain, Ahmad Dahlan kerap “dihajar” media karena berbagai kasus hukum yang diindikasikan melilitnya

Kelima, Market. Hasil survey LSI pada Juli 2010 di Batam menunjukan masyarakat mengidamkan pemimpin memiliki sifat perhatian dan bersih dari korupsi menempati urutan tertinggi. Pemimpin yang perhatian mendapatkan angka 52,3 persen sedangkan pemimpin yang jujur dan bersih dari korupsi memperoleh nilai 40,3 persen. Sisanya dibagi karena faktor kecerdasan, kewibawaan dan juga ketegasan

Mengenai kebersihan, ada yang menarik dari salah satu alasan kader PD saat melakukan aksi demonstrasi di sekretariatnya sendiri, yaitu kekahawatiran jika Ahmad Dahlan tersangkut kasus hukum, jika terpilih maka yang akan menggantikan mengisi posisinya adalah kader partai lain

“Ada kekawatiran jika Dahlan tersangkut kasus hukum, jika terpilih, maka yang naik mengisi posisinya Dahlan adalah Rudi. Akibatnya, nama Demokrat tenggelam, sementara nama PKB melambung. Berbeda jika wakilnya tetap internal Demokrat, nama Demokrat tetap aman” (Batam Pos: 17/9).

Jika mengaca pada hasil survey LSI di atas, penulis rasa PD sedang berhadapan dengan arus keinginan masyarakat yang mengharapkan memiliki Walikota yang bersih. Diperparah, PD sendiri tidak percaya diri jika jagoan yang dimilikinya itu pun bersih

Terakhir, Momentum. Takdir adalah wilayah Allah. Namun biasanya Allah akan memberikan kepada seseorang sesuai dengan kadar usahanya. Maka jika para kandidat memiliki 6 M di atas maka hampir bisa dipastikan yang akan menjadi pemenang dalam pemilukada nanti

Penutup

Selain sebagai instrumen sekaligus prosedur demokrasi dalam memilih pemimpin, pemilukada juga sejatinya harus dijadikan sebagai momen untuk merahabilitasi kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik

Apalagi biaya politik pemilukada sangat mahal. Cost-nya pun tidak saja dikeluarkan oleh setiap kandidat, namun juga oleh pemerintah, untuk itu sudah semestinya mampu membawa kebaikan bagi masyarakat. Wallahua’lam


Selengkapnya...