Kamis, 21 Februari 2008

Cemburu

Cemburu ternyata bukan saja milik orang yang lagi love kedhebug (jatuh cinta). Bukan pula monopoli sepasang suami-istri. Cemburu adalah bahasa universal. Bahasa kita. Tentunya juga bahasa anak-anak, seperti Nazla anak saya dan juga anak-anak se dunia.

Nikmatnya memiliki dua anak yang masih kecil adalah (diantaranya) ketika akan pergi harus memilih siapa yang akan diajak. Sistem undian yang digunakan Rosulullah sepertinya kurang matching apabila diterapkan. Hal ini mengingat Aghniya Salsabila masih terlalu kecil untuk ditinggal. Jadinya Nazla deh yang jadi “korban”.

Seperti siang itu, saya, istri dan Aghniya pergi menghadiri undangan pernikahan (walimatul ‘ursy). Kebetulan saat mau pergi Nazla sudah bobok manis di ayunan berwarna pink kesayangannya. Andai bangun pun sepertinya Nazla tidak diajak juga (tega amat). Maklum baru punya sepeda motor. Apalagi tempat yang akan dituju terbilang jauh, panas dan berdebu pula. Seperti biasa kami titipkan Nazla kepada penjaga.

Namun pas pulang, tumben Nazla langsung nangis sejadi-jadinya. Penjaganya pun kewalahan, katanya dari bangun bobok nangis terus. Nazla hanya ingin di gendong Uminya seperti adiknya. Nazla cemburu. Saya coba gendong dan kasih sesuatu, tetap gak mau.

Maafkan Abi Nazla …. Maafkan Umi juga, tidak ada maksud untuk berlaku diskriminasi terhadap dirimu. Terlalu berbahaya anakku jika harus dipaksakan ikut semuanya. Doakan Abi dan Umi agar punya mobil sayang (he .. he ..he). agar dapat mengajak semuanya pergi kemana saja, tanpa harus ada yang ditinggal. Insya Allah.

Selengkapnya...

Rabu, 20 Februari 2008

Hutanku Memang Gak Perawan

Lihat Dari Pesawat
Mana Solusi Indonesia

Imajiku Hutan Rimba
Yang
Ada Botak Dan Tandus

Lagu Slank di atas sungguh terbalik dengan pengalaman saya ketika hampir tiba di Batam. Dulu, ketika pesawat belum sempat landing saya menyaksikan Batam begitu hijau. Saat itu di dalam pesawat saya bergumam, ini Batam apa bukan? Jangan-jangan tuh pilot salah tujuan. Saat itu terlihat jelas hutan belantara masih mengelilingi kota beratus-ratus pulau ini.

Sekarang juga sama, tapi telah berganti menjadi hutan ruko. Tidak perlu melihat dari pesawat, dengan kasat mata semua dapat menyaksikan bagaimana pemandangan itu terjadi dari sisi luarnya. Sisi dalamnya pun tak kalah parahnya. Pembakaran dan pembalakan liar tentunya.

Atas nama kemajuan hutan dihabisi. Ribuan ruko, perkantoran, perumahan dan mall-mall yang seabrek jumlahnya telah sukses mengusir ribuan satwa yang tak berdosa. Akibatnya, banjir, banjir dan banjir adalah momok menakutkan yang diidap orang Batam. Ibarat HIV Aids, “penyakit” banjir di Batam juga sampai saat ini belum ditemukan obatnya.

Diperparah pembangunan yang “memperkosa” Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Untuk pembangunan fasilitas umumnya terlihat tidak terencana dan asal jalan. Bongkar-pasang ...., pasang-bongkar ...., bongkar-pasang ....Batam ....Batam. Ssst ...., biar gitu saya sudah punya KTP Batam lho. Sudah pernah diganti lagi.

QS: Ar-Rum: 41

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Selengkapnya...

Selasa, 19 Februari 2008

Atas Nama Cinta Karatan

Ada yang menggelikan ketika membaca berita di sebuah harian lokal Tribun Batam kemarin. Yang bikin geli bukan judulnya. Bukan pula penulisan beritanya, tapi pengakuan si tersangka, Mardi Hartono (MH) yang menghamili pacarnya (Kr) padahal sudah memiliki istri dan sedang mengandung pula.

Kepada pihak Poltabes Barelang, MH bercerita bahwa hubungan cintanya sudah berjalan empat bulan. Apa motif MH menghamili Kr? Inilah yang membuat geli, “Karena terlanjur menyukai dan mencintai pacarnya tersebut”. Aneh kan?, cinta kok menghamili dan tak bertanggung jawab pula. Begitukah definisi cinta zaman sekarang?

Dulu, ketika masih mahasiswa saya sering diberondong pertanyaan oleh teman-teman kampus yang cewek tentunya. Sekarang, setelah sudah menikah pernah beberapa ibu-ibu bertanya dengan kesimpulan yang sama, “Laki-laki adalah buaya darat”. Saya menangkap pertanyaan tersebut adalah ekspresi kekecewaan yang berlebihan. Biasalah wanita.

Mendapat pertanyaan di atas, saya sangat mudah menjawabnya. Pertama, tidak semua laki-laki itu buaya. Buktinya, Rosulullah. Walaupun menikah lebih dari satu kali namun tidak ada yang menyebutnya buaya (kecuali orang yang sirik). Para sahabatnya pun begitu. Yang agak kekinian, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari. Belum lagi HAMKA, M. Natsir, apakah ada yang menyebut mereka buaya?. Intinya, masih ada jutaan laki-laki yang dapat diandalkan. Bahkan sampai hari ini. Selektiflah wahai saudariku, jangan grusa-grusu.

Kedua, jika memang laki-laki (ada) yang buaya (Ya Allah, jauhkanlah kami dari lelaki model seperti ini), kenapa wanita justru tidak memasang kuda-kuda, tapi malah senang bila didekatinya?. Prediksi saya, dari sekian banyak tindakan pelecahan itu disebabkan karena wanita memasang “perangkap”. Baik sengaja maupun tidak, baik sadar ataupun nggak. Apa perangkapnya? Bisa tank top, terlalu kemayu dan seabrek lainnya.

Pernah saya katakan pada istri, “Mi, orang yang paling rugi dan patut disalahkan lebih besar dari implikasi pacaran, terus sampai terjadi kissing, petting dan ujung-ujungnya bunting adalah wanita. Karena laki-laki tipe buaya akan melakukan apa saja untuk merealisasikan tujuannya.

Sekarang, tinggal bagaimana wanita memiliki kekuatan daya tahannya. Seharusnya setiap wanita itu memiliki signal yang kuat terkait gerak-gerik mencurigakan, bukan malah menikmatinya. Tentu istri pun gak terima dengan “laporan akhir” saya. Adakah yang beda?

Selengkapnya...

Senin, 18 Februari 2008

Mbok Ojo Nganehi

Berpikir tak logis tur mengangkangi kehendak Allah ternyata masih menjadi hobi penduduk negeri ini. Alih-alih dari Jawa hijrah ke Batam untuk mendapatkan komunitas yang agak rasional, eh ternyata masih jauh api dari panggangnya. Gak beda alias sama saja!.

wong aneh (demikian sebutan saya untuk orang-orang yang tidak logis dan tanpa ada sandaran pengetahuan dan agama) ternyata tidak mutlak “hak” orang Jawa. Suku Minang, Batak dan mungkin juga se Nusantara juga gemar dengan hobi yang sudah diwariskan beranak-pinak ini.

Ini terjadi kemarin sore. Seorang ibu”berkebangsaan” Minang melintas dengan menggendong anaknya yang montok. Iseng-iseng kawan saya berkata “Wah gemuk sekali bu anaknya?” Praktis si ibu berhenti dan balik berkata “Jangan ngomong gemuk dong?”, “Harusnya ngomong apa bu?”, timpal saya ikut berdiskusi. “Pokoknya jangan ngomong gemuk aja deh”, tutup si ibu mantap.

Maksudnya jangan ngomong yang ‘baik’, tapi yang ‘jelek’ saja. Contoh anaknya gemuk katakan saja kurus sekali bu?. Hidungnya mancung katakan hidungnya pesek ya bu?. Pantaskan jika saya katakan wong aneh?

Suatu hari saya mampir ke tempat Nenek_sebutan mantan pengasuh Nazla. Karuan saja Nenek bertanya “Bi, Nazla bagaimana kabarnya?”. “Alhamdulillah nek, sehat, tambah gemuk dan masih putih”, jawab saya sambil bercanda.

“Hus, jangan ngomong gemuk dan putih, itu .... “ (saya lupa istilah Sumateranya). Istilah Brebesnya ora ilok, istilah Jakartanya pamali. Apa istilah di daerah anda? Apapun istilahnya, mari kita brantas bersama-sama (ih serem sangat?) Wallahua’lam

Selengkapnya...

Jumat, 15 Februari 2008

Nasionalisme Setengah Matang

Dua hari lalu saya membaca di beberapa media, bahwa hubungan Jepang – Amerika terancam goyah “hanya” lantaran terjadi skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh marinir AS Tyrone Hadnott, kepada gadis Jepang berusia 14 tahun.

Yang mengeluarkan ancaman itu pun bukan orang sembarangan, namun Perdana Menteri, Yasuo Fukuda yang menegaskan kalimatnya bahwa kejadian tersebut adalah hal yang tak dapat dimaafkan.

Tidak itu saja, reaksi kemarahan datang juga dari berbagai orang top pemerintahan negeri sakura itu. Sebut saja Ichiro Ozawa, pemimpin oposisi Partai Demokrat yang mengatakan “Insiden terkutuk seperti itu memiliki dampak emosional yang besar kepada masyarakat Okinawa”.

Menteri Luar Negeri Masahiko Komura pun tak kalah garang. Ia mengancam kasus tersebut akan menyulut perdebatan seputar eksistensi militer AS di Jepang. Kemudian Menteri pertahanan Ishiba yang sangat marah karena pelecehan seksual yang dilakukan tentara Amerika sering terjadi. "Terus terang saja, saya marah sekali. Saya akan mengambil tindakan tegas agar mereka jera", kecamnya. Masyarakatnya pun habis-habisan mengecam AS.

Bagaimana dengan di Indonesia. Wow jangankan “baru” pelecehan. Pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan dan segala yang ngeri-ngeri pun pemerintah kita masih tenang-tenang saja. Andai bersuara pun hanya sebatas suara sumbang. Ada apa nih dengan Indonesia kita?

Selengkapnya...

Kamis, 14 Februari 2008

Ingat, Hukum Rimba Masih Ada

Sekonyong-konyong sekitar pukul 10:00 dua ibu muda naik ke sekretariat partai dakwah dan langsung masuk ke ruangan saya yang kebetulan terbuka. Sebelumnya lamat-lamat saya mendengar suara salam di bawah. Kirain ada penjaga maka saya tetap asik melototi berita di internet.

“Maaf mas, saya penyapu jalanan yang bulan puasa kemarin dapat sembako dari sini, terus katanya (waktu itu) kalau kami punya masalah datang saja ke sini”, terang salah satu ibu asli Minang yang mengenalkan dirinya berinisial ES ini lugu. Saya langsung connect, memang Ramadhan lalu ada pembagian sembako untuk 300-an “pasukan orange” di Sekretariat PKS Batam.

Sebenarnya saya tidak punya otoritas untuk menyelesaikan masalah keluhan, namun berhubung sedang tidak ada orang, maka “setidaknya” saya tampung. Swear, saya pikir ES akan bicara masalah klasik berupa kekurangan uang. Namun nyatanya beda.

ES curhat tentang tanah yang dia miliki yang dijual secara paksa karena ulah salah seorang terpandang sekaligus terkaya plus seorang politisi di tempat dia tinggal berinisial MB. Kami pun mengenalnya.

ES memiliki sebidang tanah kavling yang dibeli Rp. 11 juta. Namun secara mengejutkan MB mendatangi suami ES sembari mengatakan Ibunya ES telah berhutang kepada dirinya sebanyak Rp. 7 juta dengan jaminan tanah ES jika tidak mampu melunasi. Karena bingung, takut dan lainnya suami ES pun menerimanya. (biasalah mental orang kita)

ES mengakui bahwa MB pernah terjadi transaksi hutang-piutang Rp. 7 juta, tapi bukan dengan ibunya. Hal ini dibuktikan dengan surat keterangan bermaterai dengan ditandatangani oleh terhutang berinisial EV dan beberapa saksi.

Saya pun tanya tentang bukti-bukti pembelian dan lainnya. Namun untuk sertifikat jelas tidak bisa menunjukan karena di Batam, tanah kavling adalah “kelas III” yang proses jual-belinya “tidak perlu” menyertakan itu.

Berhubung masuk dalam wilayah hukum, sayapun tidak bisa memberikan solusi saat itu juga. Saya katakan ke ES “Bu, saya punya kenalan pengacara dari Pusat Advokasi Hak Asasi Manusia (PAHAM) Cabang Batam. Kalau ibu sabar Insya Allah habis dzuhur saya kasih kabar”. “Tidak apa-apa mas, yang penting saya sudah sedikit lega karena sudah bisa cerita. Bagi saya tidak apalah tanah tidak kembali, asalkan saya dapatkan hak saya (Rp. 11 juta)”, tutupnya sembari pamitan.

Paska dzuhur saya menuju kantor PAHAM. Setelah saya ceritakan secukupnya, ringkas cerita gayung pun bersambut. PAHAM siap untuk mengawal proses hukumnya, namun syaratnya ES harus melengkapi beberapa bukti yang diminta, berupa kuitansi pembelian, denah tanah, kronologi kejadian dan lainnya. Bagi saya itu tidaklah terlalu sulit. Tak menunggu lama sayapun kasih info ke ES.

Namun siang tadi saya dapat SMS dari ES isinya: “Mas saya ES, saya belum mengerti tentang cerita tanah itu nulisnya dari mana?”. Refleks saya beristighfar, wow memang benar kata Rosulullah “Bilisaanin Qaulihim” (berbicaralah sesuai dengan kaumnya). Ternyata bagi ES penjelasan saya kurang dimengerti. Wah memang belum bakat jadi guru nih. Tak lama saya pun langsung telpon.

ES berjanji secepatnya akan melengkapi berkas-berkas yang diminta oleh PAHAM. Saya tidak bisa menjudge siapa yang salah atau yang benar karena dalam hukum ada prinsip presumption of innocent (azaz praduga tak bersalah). Cuma tindak kesewenang-wenangan si kaya dengan si miskin, si kuat dengan si lemah, si pejabat dan si rakyat memang masih saja santer terjadi di bumi yang (katanya) beragama ini. Sampai kapan hukum rimba raib dari bumi pertiwi Indonesia. Astaghfirullah.

Selengkapnya...

Rabu, 13 Februari 2008

Begitukah Seharusnya Berkasih Sayang?

Entah kenapa sampai saat ini Indonesia kita masih saja menjadi bangsa yang latah. Hobi meniru tanpa ada filter tangguh. Kepribadian bangsa tergadaikan tidak menjadi masalah, asalkan hidup bisa ala kebarat-baratan.

Rambut di cat pirang dan segala warna. Pergantian tahun dirayakan dengan menodai arti norma dan dogma. Menyambut ulang tahun pun tak kalah gila. Tindik tak cukup di telinga. Hidung dan bibir pun tak apa. “Luar biasa” memang Indonesia kita.

Under Ground, musik pemuja setan yang menjadi alternatif. “Give Me Power of Satanis”. Itulah kalimat perdana bagi grup black metal “sejati”. Ada lagi pake acara minum darah binatang dengan cara dipotes lehernya saat live on stage. Tidak pake pisau dan bismillah tentunya.

Belum lagi karena kemiskinan bangsa kita diobak-obak. Nasionalisme hanya terdengar ketika Reog Ponorogo dan tradisi nusantara lainnya direbut Malaysia. Habis itu tenggelam menikmati glamournya kehidupan danmengikuti life style play boy tenis nomor satu, Mark Anthony Philippousis’s atau Britney Spears. Sejarah hitam itu belum berhenti. Ada Helloween, April Mop. Sekarang Valentine Day.

Tak pelak. Cinta, bunga, coklat dan pink menjadi icon 14 Februari. Hari kasih sayang katanya. Mall, mini market latah menjajakan pernak-pernik khas ini. Targetnya pun menyeluruh. Dari ibu rumah tangga sampai wanita karier. Dari murid SD sampai mahasiswa. Wis pokoke komplit!.

Semangat valentine sekarang sudah mengarah ke perbuatan zina. Ada “kewajaran”, bahwa dengan valentine orang bebas berpegangan tangan, berpelukan, kissing, petting dan akhirnya melakukan hubungan layaknya suami istri. Diperparah dengan keluguan orang tua yang membolehkan anak keturanannya berbuat mesum dengan kedok hari kasih sayang.

Ya Allah anugerahilah bangsa ini jalan cinta sebagaimana Engkau telah anugerahkan kepada para Nabi. Cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang tersekat diantara masa. Cinta dan sayang yang tidak ada jarak diantara penanggalan. Namun bagaikan cinta dan sayangnya Engkau yang telah memberikan kami kenikmatan.

Jalan Para Nabi Adalah Jalan Cinta

Kita Adalah Anak-Anak Cinta

Dan Cinta Adalah Ibu Kita

(Jalaluddin Rumi: The Way of Love)

Selengkapnya...