Gelombang penolakan Ahmadiyah akhirnya mampir juga ke Batam. Setelah agak lama umat Islam Batam hanya menjadi penonton atas demonstrasi-demonstrasi yang terjadi di kota-kota lain, sekali lagi (akhirnya) terpanggil juga untuk menunjukan semangat keberagamaan mereka menjaga nilai kesucian agama yang dibawa oleh Rosulullah ini.
Senin, 12 Mei 2008
Ajak Nazla Demo, Siapa Takut
Selasa, 22 April 2008
Petani Dan Ketahanan Pangan
Sepulang dari acara penanaman 1000 pohon yang diadakan PKS dalam rangka Milad ke-10 bersama warga Perumahan Marchelia Batam Centre, pada Ahad (20/1) lalu, tidak biasanya saya ada di depan televisi. Siang itu menjelang sholat dzuhur channel saya parkir di stasiun televisi tertua di Indonesia, siapa lagi kalau bukan TVRI.
Televisi yang dulu berslogan “Menjalin Persatuan Dan Kesatuan” itu mengangkat tema diskusi “Petani dan Ketahanan Pangan”. Sebagai narasumber, hadir saat itu, mantan Cawapres yang sekaligus penasehat HKTI, Siswono Yudho Husodo dan seorang dalang dari Jabar, Kang Ikin.
Yang menarik, ketika masuk dalam kenaikan harga beli gabah dan beras petani, kedua narasumber pendapatnya saling berlawanan. Siswono menganggap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah langkah terbaik, namun persepsi Kang Ikin hal itu justru akan sangat mengganggu masyarakat yang berada di garis kemiskinan untuk mendapatkan beras.
Sekedar informasi, pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah terhadap beras dan gabah petani. Ketentuan ini tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2007 tentang Kebijakan Perberasan, yang menggantikan aturan sebelumnya.
Harga pembelian beras petani naik menjadi Rp 4.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 3.550 per kilogram. Adapun harga pembelian gabah kering giling naik menjadi Rp 2.000 per kilogram dari semula Rp 1.730 per kilogram. (Tempo Interaktif)
Sebagai anak petani, kabar tersebut tentu sangat menggembirakan, karena yang kita ketahui bersama, saat ini harga-harga alat pertanian dan penunjang lainnya, seperti pupuk dan lainnya semakin melangit saja harganya. Yang lebih dikwatirkan adalah para petani nanti bakal mengadakan mogok tanam, jika harga beli pemerintah senantiasa di bawah modal. Dampaknya akan lebih parah, baik secara ekonomi maupun sosial.
Lantas, bagaimana solusi yang dikelauhkan oleh Kang Ikin adalah dengan memberikan beras bersubsidi (raskin-red) yang tepat sasaran. Ingat T E P A T S A S A R A N.
Menteri Perdagangan, Marie Elka Pengestu mewacanakan surplus beras
Jumat, 18 April 2008
Bersinergi Menyulam Bahtera
Masih segar dalam ingatan, bagaimana awal mula proses pernikahan kami. “Hanya” berbekal dengan selembar biodata, akhirnya Allah mempertemukan dua hati yang saling berserakan. Pernikahannya pun dilangsungkan sesederhana prosesnya. Tidak ada iringan band atau organ tunggal. Tidak ada siraman, memecah telur dan seabrek tetek bengek yang melelahkan.
Sekali lagi, yang ada adalah kesederhanaan. Pernikahan pun dilakukan bukan di hotel, namun di salah satu Masjid yang ada di kawasan industri Batamindo. Masjid Nurul Iman namanya. Undangan pun tidak ribuan, cuma seratusan. Namun yang hadir Insya Allah orang-orang yang sholeh dari kalangan bawah dan atas. Dari yang belum kerja, habis kena PHK sampai aleg DPRD dan Wawako, Ria Saptarika.
Tak terasa, usia pernikahan kami saat ini sudah melewati tahun kedua. Tepatnya dari 10 April 2006 – 10 April 2008. Apakah mungkin karena diisi oleh kenikmatan-kenikmatan? Semoga saja begitu.
Nazla Rizka Ahsani dan Aghniya Salsabila adalah bukti kekayaan terbesar kami. Hadirnya dua bidadari itu membuat kami semakin tahu akan arti kehidupan. Membuat kami semakin malu pada orang tua, bagaimana mereka dahulu mendidik kami. Terutama saya pribadi.
mencoba membayangkan, mungkin saya lebih nakal dari anak-anak kami, karena saya adalah laki-laki.Apalagi di zaman saya kecil belum ada pempers. Untuk mandi, mencuci dan sesuatu pekerjaan yang menggunakan air, harus nimba di sumur terlebih dahulu. Ditambah, saya adalah keluarga dengan tujuh saudara yang jarak umurnya relatif dekat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika tiga anak saja diantara kami nangis secara bersamaan. Subhanallah. Terimakasih Bapak, terimakasih Ibu.
Alhamdulillah dalam mengarungi bahtera dua tahun, tidak ditemukan adanya piring terbang akibat kemarahan tak terkendali. Tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulut yang telah menelan prilaku setan. Tidak ada istilah ringan tangan buat nabok orang.
Namun bukan berarti keluarga kami luput dari permasalahan. Keluarga sekelas Rasulullah pun pernah dirundung problema, apalagi kami?. Permasalahan tetap ada, namun alhamdulillah justru membuat kami semakin dewasa dalam bersikap. Justru menambah kecintaan dan kemesraan. Jazakillah my beloved wife.
Do’akan kami agar mampu terus menyulam kebaikan. Karena efek kemanfaatan akan dapat dirasakan lebih besar apabila di komunitas terkecilnya (keluarga) mampu menghadirkan kehangatan, kelembutan dan jutaan kenikmatan yang Allah suguhkan setiap saat. Insya Allah. Wallahua’lam.
Selasa, 01 April 2008
Konversi MT Ke G, Bener Tuh?
Untuk membuka postingan di bulan April, saya sengaja tidak mengupas tentang April Mop, karena selain tidak islami tur tidak membumi. Juga sebagian pengunjung blog ini sudah terlalu cerdas untuk memahami sesuatu yang berkaitan dengan budaya yang gak jelas itu.
Postingan kali ini tentang konversi minyak tanah ke gas yang masih saja menuai kontroversi. Saya adalah bagian warga negara yang tidak setuju apabila program di atas dipercepat implementasinya dari 6 tahun menjadi 4 tahun saja. Sehingga secara otomatis, tahun 2011 nanti seluruh rumah tangga sudah melakukan penggantian bahan bakar (fuel switching) terutama dari minyak tanah ke gas elpiji.
Ketidak setujuan saya terhadapa transisi energi ini pun tidak datang begitu saja, namun berdasarkan realita masyarakat (terutama) perekonomiannya semakin “senin-kamis”. Untuk menyelami lebih dalam, saya punya cerita nyata.
Persis Senin menjelang maghrib kemarin (31/3), istri saya cerita kalau gas habis. Ba’da isya saya memesan gas via handphone. Seperti biasa harga (alhamdulillah) belum naik, masih Rp. 75.000;- (NB: bukan Pertamina). Namun ketika selang dimasukan ternyata kepala selang ada masalah. Dan sampai pagi kami tidak bisa menghidupkan kompor.
Karena agar dapur benar-benar bisa ngebul, paginya (hari ini) setelah antar istri kerja, saya langsung beli kepala selang. Saya terkaget-kaget ternyata untuk sebuah kepala selang harganya sampai Rp. 50.000;-. Memang ada sih yang lebih murah, tapi kualitasnya tanda tanya.
Saya langsung connect, bagaimana jika konversi minyak ke gas benar-benar diwujudkan secara nasional- sekedar informasi aksi bagi-bagi tabung gas belum menular ke Batam- Saya khawatir justru sebagian besar masyarakat akan menderita penyakit busung lapar karena tidak kuat membeli gas. Bayangkan saja, untuk kepala selangnya saja 50 ribu!. Saya juga khawatir jangan-jangan tabung gas yang sudah dibagi-bagikan pemerintah kelak masyarakat akan beramai-ramai menjual kompor dan tabung gas yang telah dibagi untuk membeli makanan.
Pemerintah memiliki argumen yang mendukung program konversi ke elpiji. Bagi pemerinyah, langkah ini dapat menghemat subsidi bahan bakar minyak senilai Rp. 22 triliun per tahun, perusahaan lama dan baru (terkait elpiji) akan berkembang, sedangkan tiap kepala keluarga bisa menghemat belanja senilai Rp20.000 hingga Rp25.000 per bulan (Antara).
Tetapi logika penghematan ini agak sulit dipahami. Kenyataannya masyarakat masih rela antri berjam-jam “hanya” untuk mendapatkan
Jumat, 28 Maret 2008
Himbauan Gubernur Salah Alamat
HIMBAUAN GUBERNUR KEPRI
KEPADA SELURUH MASYARAKAT PROVINSI KEPRI DIHIMBAU UNTUK MENDUKUNG GABRIEL (WAKIL PROVINSI KEPRI) DALAM AJANG IDOLA CILIK (IDOLA SEMUA IDOLA) TINGKAT NASIONAL DI JAKARTA MINGGU, 30 MARET 2008
Kirim SMS Anda Sebanyak Mungkin
Dengan cara ketik …. (gak boleh ngiklan gratis di sini)
Himbauan di atas terdapat di dua koran terpopuler di Batam. Tidak itu saja di bawahnya juga disertakan nama Gubernur dan Wagub serta Sekda Provinsi Kepri dan spacenya ¼ halaman pula. Yang menarik iklan tersebut tidak cuma bertengger sehari, bahkan sampai saat ini, Jum’at (28/3) adalah sudah hari ketiga.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan isi iklan tersebut, jika yang mengiklankan itu orang tua, kerabat atau apanya si Gabriel. Namun apabila iklan itu dibiayai oleh Pemprov Kepri, hal itu menjadi sesuatu kenyataan yang sangat-sangat salah alamat (walaupun dalihnya atas nama pengharuman nama Kepri). Apa pasal?
Manfaat dari acara tersebut hanya mampu berdiri pada sisi hiburan an sich. Tidak lebih!. Apalagi mereka (yang katanya bintang cilik) dipaksa untuk menjadi dewasa dengan pakaian, lagu dan gaya bicara serta seabrek lainnya.
Kondisi sosial ekonomi warga Kepri yang kian merosot dapat menjadi salah satu alasan. Pengangguran bertambah. Kriminalitas meningkat. Apalagi diperparah dengan begitu mahalnya barang-barang kebutuhan pokok yang sangat mencekik. Beras mahal, minyak goreng lebih lagi. Sudah tahu miskin, dihimbau kirim SMS pula.
Bahkan sekarang banyak tempat di Batam, warganya sudah mulai disibukkan dengan rutinitas mengantri untuk ‘sekedar’ mendapat
Alangkah bijaknya apabila mulai saat ini, kebanggan pemerintah menyertakan warganya diajang Idola Cilik, Miss Indonesia dan lainnya itu diganti dengan kebanggaan mengirimkan putra terbaiknya untuk mendapatkan jenjang pendidikan yang jelas akan mampu memberikan pencerahan bagi daerahnya. Baik keilmuan agama, eksakta dan non eksakta. Baik di Universitas lokal maupun luar negeri
Apa jadinya jika anak-anak sekarang berpakaian sexi, melengkak-lenggok dan bernyanyi dengan lagu 17 tahun plus. Kira-kira model yang beginikah yang akan memberikan perubahan bagi
Selasa, 25 Maret 2008
Mertua Datang
Ahad kemarin, rumah kami kedatangan tamu besar. Tamu itu bukan tokoh lokal atau nasional. Tamu besar itu adalah mertua saya yang datang jauh-jauh dari Pangkal Pinang, Bangka dengan satu diantara banyak tujuan, melihat cucu mereka (Nazla dan Aghniya Salsabila).
Dengan menggunakan pesawat paling sore, Ayah dan Mama (demikian kami panggil) tiba di rumah sekitar pukul 20:00. Wajah-wajah tua dan guratan kelelahan seketika langsung sirna manakala mereka melihat Nazla dan Aghniya yang digendong istri saya.
Meski sangat paham anak kedua saya tidak memahami pernyataan mereka, namun naluri kasih sayang kakek-neneknya tidak mempedulikannya. mereka 'cuek' dan langsung beraksi. “Ini Mbah .... ini Mbah ...”, demikian kalimat pertama yang diucapkan mertua saya ketika melihat Aghniya seraya menggendongnya. Karena kalah cepat sang nenek pun akhirnya mencari Nazla, tanpa basi-basi Nazla pun langsung digendong, dicium. Wis pokoknya rame lah. just info, Ayah baru melihat Nazla dan Aghniya, sedang Mama baru lihat Nazla.
Rencananya, mertua saya akan tinggal di Batam sekitar setengah bulan, karena (khusushon) Mama akan mentraining pengasuh anak-anak saya yang juga baru datang jauh dari Magelang, karena jatah cuti istri saya sudah habis. My beloved wife harus berhadapan dengan barang bisu berupa mesin kembali di sebuah perusahaan asing bergerak di bidang elektronik yang ada di kawasan Batamindo
Cukup dengan waktu sehari, Ayah mengetahui kekurangan saya. Bukan tidak hormat, bukan pula suka marahin anaknya (istri saya) dan trade mark buruk lainnya. Kelemahan itu ialah saya tidak bisa (baca: tidak berani) dengan sesuatu yang berbau listrik. Sekedar informasi, lampu lantai II yang ada di luar sudah konslet dua mingguan. Karena gak berani saya biarin begitu saja. Dengan berharap agar mertua saya tidak mengetahuinya
Sehebat-hebatnya Tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitupun ‘rahasia’ itu pun akhirnya terbongkar. Awalnya karena Ayah ingin menatap veiw indah di malam hari di lantai II, namun berhubung gelap, tanpa ba-bi-bu langsung mencari saklar, memencet dan pet. Mati lampu. Saya pun akhirnya terus terang kalau jaringan di atas ada masalah.
Orang jujur memang beruntung. Tak lama Ayah komentar, biar nanti siang Ayah betulin (wah tega ya, datang jauh-jauh kok malah betulin listrik). Tidak itu saja, Ayah juga masang fun gantung di kamar. Padahal tuh kipas sudah saya beli dari dulu, karena malas belum sempat dipasang juga. Makasih Ayah .... Makasih Mama ... Duh asyiknya mertua datang. (He ... he .... he .... )
Sabtu, 22 Maret 2008
Aku Sedih ....
Sebagai orang Batam yang setiap hari Insya Allah baca koran (Al Qur’an juga dong) saya merasakan ada berita yang awalnya sangat menarik untuk diikuti namun lama-kelamaan kok justru memuakan (maaf berat lho). Berita itu adalah yang terkait dengan hajatan (Kongres PMII) yang digelar di Batam.
Menarik karena ketika acara baru dibuka oleh Abu Rizal Bakri, utusan dari Jawa Timur melakukan aksi demonstrasi yang mengingatkan kita semua bahwa kader Partai Golkar tersebut harus bertanggung jawab atas kasus lumpur lapindo. Yang lebih menarik, orang terkaya di Indoneisa tersebut sampai-sampai gugup dalam memberikan sambutan karena selalu “dikotori” dengan suara lantang dari utusan lainnya berupa kalimat “Lapindo ... Lapindo ...”
Jujur, adanya aksi menarik tersebut membuat saya dengan ikhlas mengatakan kepada sahabat-sahabat diskusi saya bahwa PMII telah melakukan permainan yang cantik. Sangat cantik malah. Bagaimana tidak, saat itu pagi harinya menjadi head line yang (mungkin) membuat malu dan jengkel Ical.
Namun, pasca aksi cantik itu, lambat laun yang terdengar dari kongres PMII adalah berita miring tentang jalannya acara yang menyedot uang yang besar itu. Judul-judul di halaman depan koran pertama, terdepan dan terpercaya saja menggambarkan suasana yang cukup ‘mengerikan’. Batam Pos, 21 Maret mengambil judul “Kongres PMII di Batam Ricuh”. Koran yang sama pada Sabtu (22/3) tertulis “Kongres PMII Memanas”.
Berita tersebut terbaca peserta Kongres saling berebut pengeras suara. Maju ke depan ke pimpinan sidang dan dengan lantang mereka (banyak kan?) menyuarakan pendapat masing-masing. Bahkan nyaris adu jotos. Hal di atas membuat saya miris. Begitu yang harus dilakukan sekolompok Mahasiswa untuk menyelesaikan masalah. Apalagi menggunakan istilah pergerakan di depan namanya.
Maaf gak bisa nerusin lagi, sedih rasanya saya sebagai orang islam melihat mahasiswa islamnya masih seperti anak-anak. Mahasiswa yang katanya mencerahkan haruskah memberi tontonan yang tidak sehat dan membahayakan?. Semoga kejadian memuakan ini menjadi kenyataan pahit terakhir bagi PMII. Dan bagi kelompok mahasiwa lainnya (apapun namanya) untuk tidak mengikutinya. Berbeda adalah suatu keniscayaan, namun berbuat ricuh, rusuh dan anarki adalah tindakan bodoh yang tidak bisa didiamkan. Semoga menjadi pelajaran. Wallahua’lam.
