Selasa, 30 September 2008

Pantun Lebaran

Suara takbir bergema
Pertanda syawal akan tiba
sebulan sudah kita puasa
semoga dapat meraih takwa

Ke Brebes jangan lupa ke Kauman
Bersilaturahim dengan sanak saudara
Puasa ramadhan sudah kita tunaikan
Semoga dapat raih gelar takwa

Kota Batam rumpun melayu
banyak juga para pendatang
bulan ramadhan segera berlalu
selamat raih kehidupan gemilang

minal 'aidin wal faizin
mohon maaf lahir dan batin
Taqobbalallahu minna wa minkum

jabat erat,
bapake nazla,
ummu aghniya,
nazla dan aghniya Selengkapnya...

Selasa, 09 September 2008

Wahai Bulan Magnet …

Subhanallah, tak terasa, saat ini kita (umat Islam) melaksanakan shoum Ramadhan pada hari yang ke-9. Itu artinya sehari lagi kita akan berpindah pada tahap mencari (atau mendapat) pengampunan Allah, sebagaimana yang sering disampaikan oleh para muballigh di atas mimbar “Bulan Ramadhan itu awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah dibebaskan dari api neraka”

Subhanallah, awal Ramadhan memang terasa bener sentuhan rahmat Allah. Lihat saja, orang yang biasanya tidak pernah nongol di masjid, tiba-tiba hadir dengan menggunakan baju muslim ditambah perlengkapan sholat lainnya. Subhanallah, Ramadhan memang bulan magnet

Ramadhan juga sama dengan piala dunia. Lihatlah di awal banyak Negara tumplek megikuti prosesi pembukaannya. Kemudian penyisihan, perdelapan final, semi final dan grand final. Jumlah pesertanya pun sudah pasti menyusut.
Termasuk ketika Allah “mengobral” ampunan bahkan pembebasan dari api neraka, kita sepertinya bakal lebih enjoy berada di Mall, mudik atau beraktivitas yang kurang mendukung kesuburan ruhiyah kita

Saudaraku, kata Ustadz, tarikan-tarikan tanah (ingat, kita bersal dari tanah) nilainya itu rendah. Makan, minum, hubungan seksual dll itu sekali lagi nilainya “rendah”. Sedang makanan ruhiyah itu harganya mahal, sehingga kadang banyak orang yang tidak sanggup untuk membelinya.

Sholat berjama’ah di masjid, dizikir, tilawah Al Qur’an, silaturahim, shodaqoh dll itu adalah aktivitas yang sering kita abaikan, baik di bulan Ramadhan apalagi bulan lainnya. Padahal itu adalah yang bakal mengantarkan kita kepada kehidupan yang sebenarnya. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam Selengkapnya...

Rabu, 13 Agustus 2008

Kisah Pencuri Telur & Koruptor

Seperti biasa, sembari menunggu istri melakukan aksi belanja di Pasar Pancur, sebuah pasar tradisional yang ada di wilayah Sei Beduk, Batam, saya lebih memilih jalan-jalan mengelilingi pasar bareng Nazla atau menunggu (lebih tepatnya menjaga) putri sulung kami bermain dengan kucing pasar yang bersih dan lucu.

Hari itu tidak seperti biasa. Hampir setengah jam berlalu, Ummu Bila belum juga nongol dan mengajak kami untuk segera pulang. Tanpa musyawarah, saya langsung menggendong Nazla masuk ke pasar. Alangkah terkejutnya, karena saat itu suasana di dalam pasar sedang “panas” dan chaos.

Tak jauh dari tempat langganan istri saya membeli kebutuhan harian, ada seorang yang dihardik secara masal. Alhamdulillah tidak terjadi penghakiman massa. Usut punya usut ternyata orang tersebut membawa tujuh buah telur tanpa bayar alias mencuri. Gara-gara 5 butir telur ayam, dan 2 butir telur bebek itulah yang membuat dia harus mengenang kisah pahitnya seumur hidup.

“Kasihan ya Mi, gara-gara 7 telur malu seumur hidup. Emang berapa sih harga semuanya?” Tanya saya ke istri. “Di pasar sering terjadi (pencurian) kok mas, modusnya juga bermacam-macam. Sepertinya bukan karena gak punya duit lho mas, buktinya tadi ketika dikejar dan dihardik rame-rame juga bayar”, terang istri panjang lebar.

“Baik sangka dong Mi, mungkin ibu tadi benar-benar lupa, atau memang karena terpaksa mencuri. Mungkin duit yang tadi buat bayar sebenarnya buat beli beras atau lainnya”, mendadak naluri social saya muncul

Saya yakin ada ribuan kasus yang sama di pasar-pasar di seluruh Indonesia. Ambilah pelajaran dari kisah di atas. Jangan sampai rumah kita tiap hari membuang makanan, sementara tetangga kita kelaparan, sehingga membuat mereka nekad untuk mencuri demi mengganjal perut yang memang tak mau diajak kompromi.

Teng, saya langsung teringat statement Hidayat Nur Wahid yang setuju para koruptor untuk di dor mati saja kalau nominalnya keterlaluan, atau minimal diberi seragam yang khas pencuri uang rakyat dan diberi fasilitas yang pas-pasan ketika sudah di penjara sebagaimana usul ICW.

Jadilah hamba-hamba yang bersyukur. Semoga kita dapat mengambil ibrah.

Selengkapnya...

Sabtu, 09 Agustus 2008

Politisi Atau Bajing Loncat?

Tidak dipungkiri memang masih banyak para pelaku politik di negeri ini yang mengadopsi gaya bajing loncat dalam mencari makan. Karena syahwat kekuasaannya tinggi, kadang hanya karena soal sepele, mereka rela pecah kongsi dan membentuk partai baru

Hari ini banyak dijumpai sebagian besar partai memiliki “saudara kembar”. PDIP VS PDP (termasuk juga banyak partai yang mengusung symbol Soekarno) , Golkar VS Hanura, PAN VS PMB, PDS VS PKD Indonesia, PPP VS PBR dan PKB VS PKNU serta masih ada lainnya.

Seperti kata pepatah, “tidak ada asap kalau tidak ada api”. Perpecahan di tubuh banyak parpol pasti ada penyebabnya. Bisa karena petingginya yang sok-sokan atau mungkin juga karena bawahannya kepengin jadi pimpinan. Intinya, warisan system oligaki masih dominan.

Ada juga yang merasa “lahannya” sudah habis, mereka tanpa malu pulang lagi ke kandangnya. Zainuddin MZ misalnya. Kyai sejuta umat ini dahulu adalah tokoh PPP, kemudian putus hubungan dan mendirikan PBR, namun saat ini dia kembali lagi ke PPP.

Tidak cuma satu itu model politisi di Indonesia. Di belakang nama Zainuddin MZ, ada juga Rhoma Irama yang sudah lelah keliling partai balik juga ke PPP. Fuad Bawazier juga, sempat nongkrong di PAN, nglamar PKS tapi ditolak, kemudian sekarang bergabung di Hanura. Tentu masih ada serentetan nama yang bejibun banyaknya baik di pusat maupun daerah.

Anehnya, partai-partai yang kedatangan politisi semacam ini justru bangga dan saling claim. Bahkan mereka membuat istilah “kedatangan darah segar dari partai lain”. Padahal model politisi seperti itu tidak ubahnya seperti orang yang tidak punya prinsip. Bahasa kasarnya Muhaimin cs adalah “mereka itu bagaikan anasir-anasir jahat” yang siap ngeroposi partai yang ia labuhi.

Tapi memang begitulah kerjaannya partai tak bersistem. Partai justru ndompleng ketenaran seseorang. Berbeda dengan partai kader, yang akan memunculkan orang yang dahulu bukan siapa-siapa menjadi tokoh besar. Partai apakah itu?

Selengkapnya...

Selasa, 29 Juli 2008

Sentilan Iqbal

Saat ini dalam kalender hijriyah kita sedang berada di akhir perjalanan bulan Rajab. Sebagai umat Islam, ketika mendengar Rajab, maka yang akan teringat adalah sebuah peristiwa besar yang terjadi pada diri sang Rasul yang ma’shum dalam melakukan perjalanan spektakuler ke shidrathul muntaha untuk menerima perintah sholat lima waktu

Bagi saya, selain kewajiban sholat, pelajaran yang dapat diambil dari Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW adalah sifat tanggung jawab yang besar kepada umatnya untuk melakukan ishlah (perbaikan). Bayangkan, Rasulullah sudah sampai di shidratul muntaha, sebuah tempat yang tidak ada tetesan darah dan air mata. Tempat yang tidak bakal ditemui adanya orang kepayahan, baik karena kelaparan, ketidak adilan, pertikaian dan peperangan antar suku dan kabilah sebagaimana yang terjadi di Arab dan bumi-bumi lainnya

********

Namun, saat ini kita menyaksikan orang-orang yang sudah singgah di “shidratul muntaha” itu kini tak mau turun lagi ke “bumi”. Mereka telah lupa dengan tugas dan kewajiban untuk melakukan perbaikan di negeri ini. Mereka adalah para agamawan yang hanya “berasyik masyuk” dengan ibadah transendentalnya, mereka adalah para pebisnis yang hanya memikirkan urusannya. Mereka juga kaum terpelajar yang hanya disibukkan dengan diktat-diktat tebal mata kuliahnya. Mereka juga adalah orang-orang yang cepat menyerah dan apatis melihat kerusakan di negeri ini

Kalau orang seperti kalian adalah orang yang pesimis, lantas siapa yang optimis menatap bangsa ini? Jadilah pelukis sejarah di langit yang temaram sebagai bukti nyata bahwa kita adalah orang yang masih memiliki harapan. Dan kelak langit itu akan terang kembali, sebagaimana janji-Nya “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”

Muhammad Iqbal menyientil orang-orang yang cepat lelah dan apatis dengan senandung yang dalam:

“Andai aku adalah Rasulullah

Maka, aku tak akan turun lagi ke bumi

Setelah sampai di shidratul muntaha”

Selengkapnya...

Kamis, 17 Juli 2008

Selamat Berjuang!

Akhirnya berlayar juga kita di lautan kampanye Pemilu 2009. Siapkanlah perlengkapan yang memadai agar dapat selamat sampai tujuan, karena hakikat lautan itu pasti ada riak-riak atau bahkan gelombang besar yang dapat menghempaskan. Apalagi, saat ini kita berlayar dalam waktu sangat panjang.

Kampanye yang akan berakhir sampai 5 April 2009 itu tentu sangat melelahkan. Bayangkan, sembilan bulan kita dibisingkan oleh keras deru mesin partai. Diombang-ambingkan oleh ombak politik yang kadang tenang namun menghanyutkan atau keras kemudian meluluh lantahkan. Belum lagi adanya agitasi, adu domba dan berbagai macam tindakan kotor yang belum juga hilang di negeri ini

Namun itulah perjuangan yang pasti membutuhkan pengorbanan. Terasa lucu seandainya para pejuang mengusir penjajah tanpa perlawanan. Akan ditertawakan jika risalah para Rosul berjalan mulus tanpa liku. Padahal lewat shirah kita tahu bagaimana Muhammad SAW dilempar, diludahi dan bebera kali dijadikan target pembunuhan dan begitu banyak kisah-kisah heroik lainnya yang juga dialami oleh para sahabatnya dan para penerusnya

Begitupun perjuangan di ranah politik, ibarat ingin menyaksikan pelangi, maka harus ada hujan yang besar. Bagaikan ingin melihat mentari, maka harus melewati malam yang gelap. Ingat, orang-orang jahat di negeri ini masih banyak yang tidak rela kekuasaannya tercerabut. Mereka pun melakukan apa saja. Di sinilah letak perjuangan untuk melawan mereka.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah, dari 34 partai politik yang ada apakah semuanya pejuang? Tidak, justru banyak dari mereka yang hakekatnya adalah penjahat atau setengah penjahat. Dan sangat sedikit diantara mereka adalah kumpulan orang-orang baik yang menginginkan kebaikan bagi anak negeri

So, katakan tidak untuk apatis terhadap politik (tentunya juga parpol). Bagaimanapun berjuang lewat partai dan ambil bagian dari proses Pemilu adalah cara legal formal untuk memperbaiki bangsa yang sudah rusak ini. Koar-koar di jalanan tanpa memiliki “kekuatan” legal efeknya kurang terasa, apalagi yang golput (walaupun hak) namun itu sepertinya kurang ksatria dan hanya memuluskan jalan para perusak negara.

Dan kelak ketika kapal itu sudah mulai bersandar di dermaga, kita akan menyaksikan seperti apa sambutannya, apakah dengan wajah penuh senyum atau dengan muka merah padam sambil menenteng senjata tajam. Semua itu ditentukan ketika hari pemungutan suara tiba. Pilihlah orang-orang yang beriman, berilmu, bersih dan peduli untuk merawat bumi Indonesia. Sudah siapakan pilihan anda? Selamat berjuang!

Selengkapnya...

Rabu, 16 Juli 2008

Kehidupan

“Mas, Nazla masih panas, gak usah pulang sampai malam ya?”. Itu adalah sms istri yang “mendarat’ di handphone saya. Sebagai orang yang bercita-cita menjadi suami dan orang tua yang baik, tentu ketika mendengar kabar tersebut, perasaan cemas langsung mengitari ruang batin.

Bagaimana tidak, dua minggu lalu Nazla barusan sembuh dari demam tinggi dan gejala radang tenggorokan. Tak lama, Aghniya Salsabila pun ketularan sakit, namun alhamdulillah lebih ringan dari mbaknya. Lantas tiba-tiba tiga hari lalu, di suasana panas terik, HP saya bergetar mengabarkan “Mas, Nazla panas lagi”. Allah ….

Ummu Nazla sangat mengerti tuntutan peran aktif saya di jamaah dakwah yang mau tidak mau menyedot porsi keluarga. Liqo’, ngliqo’ dan meeting untuk mendesign program serta seabreg acara yang harus diikuti adalah beberapa agenda yang menjadi menu wajib. Apalagi dua bulan sebelum kampanye ditabuh, saya sudah diamanahi tugas baru dan sangat berat dalam gerbong yang bernama Bapilu

Sehingga, ketika SMS itu datang, berarti Ummu Bila sedang menghadapi permasalahan yang lebih serius. Insya Allah istri adalah orang yang berkepribadian kuat dan sangat pengertian, sehingga dengan adanya SMS tersebut,secara tidak langsung mengabarkan istri saya sedang menghadapi permasalahan dan saya harus ikut membantunya.

Tentu bersikap seimbang adalah jalan terbaik dalam Islam. Seimbang untuk keluarga, untuk dakwah dan juga untuk masyarakat (walaupun yang terakhir agak kurang). Alhamdulillah kini semuanya sudah baik. Segala puji bagi Engkau Yaa Allah.

)I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I( - )I(

“Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS: At-Taubah/9: 24)

Di ayat lain (QS: At-Taubah/9: 41) “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Yah, seandainya harus mengaca dengan perintah Allah di atas, tentu rasa cinta dan perjuangan yang selama ini sudah saya (mungkin juga anda) laksanakan tentu bagaikan langit dan bumi. Masih sangat jauh. Astaghfirullahal ‘adzim.

Allah, jadikanlah kami golongan orang yang istiqomah meretasi jalan-Mu.
Robbi, jauhkanlah kami dari ujian yang kami tidak bisa memikulnya, Aamin.

Selengkapnya...